Sikap Reaktif PDI Perjuangan sebagai Kepanikan?

- Advertisement -spot_imgspot_img

ThePhrase.id – Setelah sempat “berbalas sindiran” dengan Partai Demokrat, PDI Perjuangan pun terus meradang. Tampaknya, pidato SBY yang menyatakan akan turun gunung karena ada indikasi kecurangan pada Pemilu 2024 membuat PDI Perjuangan tersengat dan reaktif.

ilustrasi foto PDIP

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto masih terus menebar ‘ancaman’ dan siap head to head dengan SBY jika berani memfitnah Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Setahu saya beliau tidak pernah lagi naik gunung, jadi turun gunungnya Pak SBY sudah lama dan berulang kali, monggo turun gunung,” kata Hasto, Sabtu (17/9/).

Namun, Hasto menegaskan akan menjadi beda soal bila turun gunungnya SBY sebagai bentuk melakukan tudingan terhadap pemerintahan Jokowi. Hasto mengatakan, PDIP siap untuk merespons apa yang dituduhkan oleh SBY terhadap Jokowi.

“Tetapi kalau turun gunungnya itu mau menyebarkan fitnah kepada Pak Jokowi, maka PDIP akan naik gunung agar bisa melihat dengan jelas apa yang akan dilakukan oleh Pak SBY,” imbuh Hasto.

Hasto juga meminta SBY tak menuding adanya kecurangan di Pemilu 2024, lantaran dirinya tak bisa mencalonkan putranya yang sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto (Foto: dok. PDIP)

PDI Perjuangann panik?

Sikap “sensi” PDI Perjuangan ini dinilai sebagai sebuah kepanikan karena bereaksi berlebihan. Apalagi dalam pidato SBY itu menyiratkan untuk membongkar cara yang disebutnya sebagai skenario jahat dan batil.

Namun Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra meminta PDI Perjuangan untuk tidak reaktif. Menurutnya, pidato SBY itu hanya mengingatkan agar aspirasi rakyat jangan dihalang-halangi.

“Tidak perlu lah terlalu reaktif. Apalagi mengumbar hoax dan fitnah. Kecuali, kalau memang merasa skenario jahatnya ketahuan,” ujar Herzaky kepada wartawan, Minggu (18/9/2022). Menurut Herzaky, apa yang disampaikan SBY itu sebagai hal yang wajar agar Pemilu dijalankan dengan cara yang demokratis.

Namun melihat dinamika politik saat ini, sangat beralasan jika PDI Perjuangan sensitif dan panik. Meskipun tidak menyebut nama, namun tak ayal pidato SBY itu ditujukan kepada partai yang sedang berkuasa. Presiden Jokowi yang disebut Hasto sebagai sasaran pidato SBY, di lingkungan PDI Perjuangan hanya seorang “petugas” partai yang ucapan dan tindaknnya sangat bergantung pada partai yang menugaskannya.

Ketua DPR RI Puan Maharani. (Foto. Istimewa)

Belum lagi, ketika sejumlah partai sudah saling menjajaki menjalin koalisi, PDI Perjuangan masih belum mendapat “kawan”. Betul, PDI Perjuangan bisa mengusung sendiri capres-cawapresnya di 2024, tetapi itu tidak cukup untuk memenangkan kompetisi. Ditambah lagi, jebloknya elektabilitas Puan Maharani, sebagai capres PDI Perjuangan makin membuat PDIP makin terpojok.

Sementara nama-nama Capres elektabilitas tinggi sudah makin intensif berkomunikasi dengan partai-partai yang akan berkoalisi. Sebut saja Anies Baswedan, yang dalam beberapa kesempatan menyatakan kesiapannya untuk dicalonkan, makin sering menujukkan kebersamaan dengan petinggi Nasdem, Demokrat dan PKS. Sementara Ganjar Pranowo, anak kandung PDIP yang tak dikehendaki pun sudah dilirik oleh Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) dan masuk dalam salah satu nama Capres dari Nasdem.

“Die hard” Puan Maharani.
Posisi sulit Puan Maharani sebagai capres PDI Perjuangan ini, memaksa sejumlah kader PDI Perjuangan untuk membentuk pasukan “berani mati” menghadapi pertarungan 2024 mendatang. Adalah Johan Budi yang mengumumkan ke publik bahwa dirinya dan sejumlah kader PDI Perjuangan di DPR yang menginisiasi terbentuknya tim yang disebutnya dengan Dewan Kolonel.

AHY dan herzaky mahendra. (Foto: Istimewa)

“Jadi begini di Fraksi PDIP sekitar 2-3 bulan lalu sempat ada pembicaraan bahwa kami ini pendukung Mbak Puan, lalu kami usulkan untuk membentuk tim. Kemudian saya usul sebut saja timnya Dewan Kolonel. Begitu ceritanya,” kata Johan Budi di Gedung DPR RI pada Selasa (20/9/2022).

Mantan Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini menerangkan bahwa tim yang dibentuk ini murni inisiasi dari Fraksi PDIP di DPR tanpa ada campur tangan dari DPP PDIP. Johan Budi menjelaskan, beberapa anggota Dewan Kolonel antara lain Trimedya Panjaitan, Masinton Pasaribu, Hendrawan, dan Agustina W. Pembentukan Dewan Kolonel ini sendiri bermula dari pertemuan saat ngopi-ngopi. Kini Dewan Kolonel sudah memiliki basecamp di Menteng, Jakarta. “Ini die hard lah. Kita-kita die hard-nya Mbak Puan lah,” tegas Johan.

Menurut Johan, Dewan Kolonel bertugas untuk menaikkan citra dan elektabilitas Ketua DPR RI Puan Maharani dalam menghadapi Pemilihan Presiden 2024. Apakah “die hard” Puan Maharani ala Johan Budi ini mampu menaikkan citra Puan atau ini bagian dari sikap reaktif PDI Perjuangan dengan dinamika politik saat ini? Kita lihat saja perjalanannya hingga menjelang 2024 nanti. (Aswan AS)

- Advertisement -spot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you