
ThePhrase.id - Selama ini, banyak orang menganggap olahraga lari identik dengan kecepatan tinggi, napas yang terengah-engah, dan tubuh yang kelelahan. Namun, anggapan tersebut mulai bergeser. Di Korea Selatan, slow jogging menjadi tren karena menawarkan cara berolahraga yang lebih nyaman, minim risiko cedera, tetapi tetap memberikan manfaat bagi kesehatan.
Meski baru populer di Korea Selatan dalam beberapa tahun terakhir, slow jogging sebenarnya berasal dari Jepang. Melansir detik.com, metode ini dikembangkan oleh mendiang Profesor Hiroaki Tanaka dari Departemen Ilmu Olahraga Universitas Fukuoka melalui penelitian selama lebih dari 40 tahun. Popularitasnya mulai meluas setelah diperkenalkan melalui stasiun televisi NHK pada 2009.
Metode ini kemudian dibawa ke Korea Selatan oleh Jung Ra-hye pada 2015 setelah mempelajarinya langsung di Jepang. Setahun berselang, Korea Slow Jogging Association resmi berdiri melalui kerja sama dengan Japan Slow Jogging Association. Sejak itu, komunitas slow jogging terus berkembang dengan berbagai kegiatan edukasi, pelatihan, hingga sesi lari bersama yang semakin diminati masyarakat.
Sesuai namanya, slow jogging adalah lari santai yang dilakukan dengan kecepatan sekitar 3–5 kilometer per jam, hanya sedikit lebih cepat dibandingkan berjalan kaki. Intensitasnya cukup ringan sehingga pelakunya masih bisa mengobrol dengan nyaman tanpa terengah-engah selama berlari.
Karena dilakukan dengan ritme yang santai, olahraga ini memberikan tekanan yang lebih rendah pada lutut, pergelangan kaki, dan persendian dibandingkan lari biasa. Risiko cedera pun menjadi lebih kecil, sehingga slow jogging cocok dilakukan oleh berbagai kalangan, mulai dari pemula, lansia, hingga mereka yang ingin kembali aktif berolahraga setelah lama vakum.
Meski terlihat sederhana, manfaat slow jogging tidak bisa dianggap remeh. Aktivitas ini tetap mampu meningkatkan kebugaran jantung dan paru-paru serta melatih daya tahan tubuh.
Todd Buckingham, PhD, pelari, atlet triathlon, sekaligus profesor tamu ilmu olahraga di Grand Valley State University, menjelaskan bahwa berlari dengan ritme lambat dapat meningkatkan kapasitas aerobik atau VO₂ Max, yaitu kemampuan tubuh memanfaatkan oksigen saat beraktivitas.
Menurutnya, latihan dengan intensitas ringan membantu merangsang pertumbuhan pembuluh darah kapiler baru sehingga distribusi oksigen ke otot menjadi lebih efisien. Slow jogging juga dapat meningkatkan jumlah mitokondria, bagian sel yang berperan menghasilkan energi, sehingga tubuh menjadi lebih efisien saat beraktivitas fisik.
Tak hanya itu, slow jogging juga efektif membantu membakar kalori. Saat dilakukan, otot-otot besar seperti paha, bokong, dan punggung bawah tetap bekerja secara aktif. Sejumlah penelitian bahkan menunjukkan bahwa pengeluaran energi saat slow jogging dapat mencapai lebih dari dua kali lipat dibandingkan berjalan kaki biasa.
Bagi yang ingin mulai mencoba slow jogging, metode run-walk bisa menjadi pilihan yang mudah diterapkan. Polanya cukup sederhana, yakni berlari santai selama empat menit, lalu berjalan selama satu menit. Siklus tersebut dapat diulang hingga total waktu latihan mencapai sekitar 30 menit.
Pendekatan ini membantu menjaga detak jantung tetap stabil sekaligus memberi waktu bagi tubuh untuk beradaptasi dengan aktivitas fisik secara bertahap. Setelah tubuh mulai terbiasa, durasi maupun frekuensi latihan dapat ditingkatkan sesuai tingkat kebugaran dan kenyamanan masing-masing.
Di tengah tren gaya hidup sehat yang semakin mengutamakan konsistensi dibanding intensitas, slow jogging menawarkan pendekatan yang lebih ramah bagi tubuh. Tanpa harus berlari sekencang mungkin atau memaksakan diri hingga kelelahan, olahraga ini membuktikan bahwa bergerak perlahan pun tetap bisa memberikan manfaat besar bagi kesehatan. [nadira]