
ThePhrase.id – Tengah viral perdebatan kebiasaan minum secangkir kopi di kalangan Gen Z dengan kemampuan mereka menabung untuk membeli properti. Apakah bisa tetap menabung dengan tetap menikmati secangkir kopi?
Meningkatnya biaya hidup, harga properti yang terus melambung, serta ketidakpastian pendapatan membuat berbagai target keuangan dan gaya hidup, seperti memiliki rumah, mobil, atau mencapai kebebasan finansial di usia muda, terasa semakin sulit diwujudkan.
Kondisi tersebut juga memicu berbagai perdebatan di media sosial. Salah satu yang sempat ramai adalah anggapan bahwa generasi muda sulit membeli rumah karena terlalu sering menghabiskan uang untuk kebutuhan konsumtif, seperti membeli kopi setiap hari. Di sisi lain,
ThePhrase.id – Tengah viral perdebatan kebiasaan minum secangkir kopi di kalangan Gen Z dengan kemampuan mereka menabung untuk membeli properti. Apakah bisa tetap menabung dengan tetap menikmati secangkir kopi?
Meningkatnya biaya hidup, harga properti yang terus melambung, serta ketidakpastian pendapatan membuat berbagai target keuangan dan gaya hidup, seperti memiliki rumah, mobil, atau mencapai kebebasan finansial di usia muda, terasa semakin sulit diwujudkan.
Kondisi tersebut juga memicu berbagai perdebatan di media sosial. Salah satu yang sempat ramai adalah anggapan bahwa generasi muda sulit membeli rumah karena terlalu sering menghabiskan uang untuk kebutuhan konsumtif, seperti membeli kopi setiap hari. Di sisi lain, banyak yang berpendapat bahwa mengurangi kebiasaan membeli kopi pun belum tentu membuat seseorang mampu membeli rumah, mengingat harga properti dan biaya hidup meningkat jauh lebih cepat dibanding kemampuan menabung.
Perdebatan tersebut mencerminkan keresahan banyak anak muda yang merasa penghematan kecil sering kali tidak sebanding dengan laju inflasi, kenaikan harga aset, serta tekanan ekonomi yang terus berlangsung.
Di tengah realitas tersebut, cara mengelola keuangan pun mulai bergeser. Alih-alih memaksakan diri menabung dalam jumlah besar untuk mengejar target finansial tertentu, sebagian orang kini memilih pendekatan yang lebih realistis dan fleksibel, yaitu soft saving.
Apa itu Soft Saving?
Soft saving merupakan metode menabung yang menekankan fleksibilitas dan keseimbangan antara kebutuhan saat ini dengan tujuan keuangan di masa depan. Berbeda dengan metode menabung konvensional yang sering kali memiliki target nominal tertentu setiap bulan, soft saving memungkinkan seseorang menyisihkan uang sesuai kondisi keuangannya.
Fokus utama metode ini bukanlah pada besarnya jumlah uang yang ditabung, melainkan membangun kebiasaan menabung secara konsisten. Artinya, nominal kecil sekalipun tetap memiliki nilai selama dilakukan secara rutin.
Menurut Chubb Life, soft saving merupakan konsep menabung yang lebih fleksibel dengan menekankan konsistensi serta keseimbangan antara memenuhi kebutuhan saat ini dan mempersiapkan masa depan. Sebaliknya, soft saving mendorong keseimbangan antara mempersiapkan masa depan dan tetap menikmati kehidupan saat ini.
Tak hanya itu, menurut Bank Jago, konsep soft saving juga mendorong seseorang untuk mengalokasikan sebagian uangnya pada hal-hal yang bermakna dalam kehidupan, seperti mencari pengalaman baru, menjaga kesehatan mental dan fisik, serta berinvestasi pada pengembangan diri demi mendukung karier di masa depan.
Lantas, mengapa banyak anak muda kini lebih memilih fokus pada masa kini?
Salah satu alasannya adalah meningkatnya kesadaran bahwa masa depan sulit diprediksi di tengah ketidakpastian ekonomi dan global. Kondisi tersebut membuat banyak generasi muda mulai memprioritaskan kesejahteraan mental dan kualitas hidup, alih-alih hanya berfokus mengejar target finansial jangka panjang.
Menurut Poised, perubahan pola pikir ini mencerminkan bagaimana generasi muda berusaha mencari keseimbangan antara mempersiapkan masa depan dan tetap menikmati kehidupan saat ini. Bagi mereka, menjaga kesehatan mental, memiliki waktu untuk diri sendiri, hingga menikmati pengalaman hidup juga merupakan bagian dari kesejahteraan yang tidak kalah penting.
Karena itu, sebagian pendapatan tetap dialokasikan untuk kebutuhan yang dapat meningkatkan kualitas hidup, seperti mengikuti kelas pengembangan diri, menjalankan hobi, berlibur, atau sekadar menikmati waktu bersama keluarga dan teman. Dengan pendekatan ini, menabung tidak lagi terasa sebagai beban yang membatasi gaya hidup.
Cara Menerapkan Soft Saving
Jika ingin mulai menerapkan konsep soft saving, berikut beberapa tips yang bisa dilakukan:
1. Sisihkan uang di awal bulan
Jangan menunggu sisa uang di akhir bulan untuk ditabung. Sisihkan dana sejak awal menerima gaji atau penghasilan, meski nominalnya kecil.
2. Tentukan tujuan tabungan
Buat target yang jelas, seperti dana darurat, liburan, uang muka rumah, pendidikan, atau investasi. Tujuan yang spesifik dapat membantu menjaga motivasi untuk tetap menabung.
3. Sesuaikan nominal dengan kondisi keuangan
Soft saving tidak mengharuskan nominal tabungan selalu sama. Sesuaikan jumlah yang disisihkan dengan kondisi finansial agar kebiasaan menabung tetap berjalan tanpa terasa membebani.
4. Manfaatkan fitur tabungan otomatis
Gunakan fitur autodebit atau tabungan otomatis di aplikasi perbankan maupun layanan keuangan digital. Cara ini dapat membantu menjaga konsistensi tanpa perlu mengingat untuk menabung setiap bulan.
5. Tetap miliki tujuan finansial jangka panjang
Meski fokus pada keseimbangan antara kebutuhan saat ini dan masa depan, tetap tentukan target keuangan jangka panjang agar kebiasaan menabung memiliki arah yang jelas. [Syifaa]