
ThePhrase.id – Pernah sengaja pergi ke bioskop hingga makan di restoran sendirian? Atau lebih memilih menghabiskan akhir pekan di rumah sambil melakukan hobi favorit? Tren gaya hidup ini dikenal sebagai “solomaxxing”.
Istilah solomaxxing atau solo-maxxing mulai banyak dibicarakan di media sosial untuk menggambarkan pilihan seseorang dalam memaksimalkan waktu yang dihabiskan sendiri. Tren ini menjadi bagian dari perubahan cara generasi muda menikmati kehidupan, terutama ketika melakukan aktivitas seorang diri tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang menyedihkan atau harus dihindari.
Solomaxxing bukan berarti menolak hubungan atau sengaja menjauh dari orang lain. Lebih sederhana dari itu, tren ini berkaitan dengan menikmati waktu sendiri dan menggunakan kesempatan tersebut untuk melakukan hal-hal yang memang disukai. Mulai dari solo traveling, olahraga, membaca, mencoba restoran baru, menonton film, merawat diri, hingga sekadar menikmati waktu tanpa harus menyesuaikan jadwal dengan orang lain.
Fenomena ini juga berhubungan dengan meningkatnya penerimaan terhadap kehidupan lajang. Sosiolog dan penulis Single at Heart, Bella DePaulo, mengatakan bahwa kehidupan lajang tidak seharusnya selalu dipandang sebagai kondisi sementara sebelum seseorang menemukan pasangan. Menurutnya, sebagian orang memang merasa kehidupan sendiri cocok dengan dirinya.
Pandangan tersebut membuat aktivitas “sendirian” mulai memiliki makna berbeda. Pergi ke kafe seorang diri, misalnya, tidak selalu berarti seseorang sedang kesepian. Justru, bagi sebagian orang, hal tersebut bisa menjadi kesempatan untuk menikmati suasana tanpa harus mengkhawatirkan pendapat atau kebutuhan orang lain.
Psikolog Bruce Y. Lee juga melihat adanya sisi positif dari kecenderungan ini selama waktu sendiri digunakan secara sehat. Menikmati kesendirian dapat menjadi kesempatan untuk melakukan refleksi, mengeksplorasi minat, dan mengenal diri sendiri. Namun, menikmati waktu sendiri tetap berbeda dengan mengisolasi diri dari lingkungan sosial.
Karena itu, solomaxxing sebenarnya tidak harus berarti memilih hidup sepenuhnya sendirian. Seseorang tetap bisa memiliki pasangan, keluarga, dan lingkaran pertemanan, tetapi juga merasa nyaman melakukan berbagai aktivitas tanpa ditemani.
Tak lagi mendahulukan hubungan, tren ini menunjukkan bahwa “me time” kini tidak selalu harus menjadi jeda singkat dari kehidupan sosial. Bagi sebagian Gen Z, waktu sendiri justru menjadi bagian dari gaya hidup yang ingin dinikmati. [Syifaa]