sportLiga Inggris

Statistik Membuka Tabir: VAR di Eropa Tak Lebih Tenang dari Inggris, Intervensi Lebih Tinggi di Jerman dan Prancis

Penulis Ahmad Haidir
Feb 19, 2026
Perdebatan mengenai efektivitas video assistant referee atau VAR tidak hanya berlangsung di Inggris. Foto Instagram Premier League.
Perdebatan mengenai efektivitas video assistant referee atau VAR tidak hanya berlangsung di Inggris. Foto Instagram Premier League.

Thephrase.id - Perdebatan mengenai efektivitas video assistant referee atau VAR tidak hanya berlangsung di Inggris, karena data dan dinamika di sejumlah liga top Eropa menunjukkan bahwa kontroversi serupa juga terjadi di Jerman, Spanyol, Italia, dan Prancis sepanjang musim 2025-2026.

Kepala wasit UEFA, Roberto Rosetti, menyatakan "Saya percaya kita telah melupakan alasan mengapa VAR diperkenalkan,". Pernyataan tersebut tidak diarahkan khusus kepada Premier League melainkan menjadi refleksi bagi kompetisi di seluruh Eropa terkait meningkatnya intervensi yang sangat detail.

Di Premier League, perdebatan mengenai keputusan wasit mendapat sorotan luas di media. Sementara di Bundesliga, penolakan terhadap VAR telah muncul sejak awal penerapannya dengan berbagai aksi protes terbuka di tribun stadion.

Data resmi musim 2025-2026 menunjukkan Premier League mencatat 240 pertandingan dengan 63 intervensi VAR atau 0,28 intervensi per laga, tiga di antaranya ditolak wasit, dengan 15 total kesalahan atau satu kesalahan setiap 16 pertandingan.

Bundesliga pada periode yang sama memainkan 188 pertandingan dengan 68 intervensi atau 0,38 per laga, lima keputusan ditolak wasit, serta 12 total kesalahan yang berarti satu kesalahan setiap 15,66 pertandingan, sehingga frekuensi kekeliruan secara statistik hampir sama dengan Inggris meski tingkat intervensi lebih tinggi.

Di Jerman, sejumlah suporter membentangkan spanduk bertuliskan "Videobeweis abschaffen" saat proses peninjauan berlangsung, termasuk pesan yang berbunyi, "Sepak bola dengan VAR seperti balap kuda dengan keledai," setelah keputusan penalti melawan Mainz tidak dibatalkan dalam laga menjelang pertemuan dengan Heidenheim.

Media Jerman juga memberikan ruang besar terhadap isu ini, bahkan kepala wasit DFB, Knut Kircher, tampil di studio televisi sepanjang pertandingan Sabtu untuk memberikan penjelasan, langkah yang dinilai positif oleh federasi meski tetap memunculkan kritik dari sebagian media nasional.

Di Spanyol, La Liga melakukan restrukturisasi dengan memisahkan sepenuhnya peran wasit lapangan dan tim VAR yang kini terdiri dari 15 petugas khusus.

Akan tetapi, kesalahan tetap terjadi termasuk kegagalan teknologi semi-otomatis mendeteksi posisi offside yang membuat gol sempat disahkan sebelum tim VAR dinonaktifkan sementara dari penugasan berikutnya.

Saluran televisi klub Real Madrid secara rutin mengkritik keputusan wasit, sementara Barcelona merilis pernyataan resmi setelah tinjauan VAR selama delapan menit membatalkan gol saat menghadapi Atletico Madrid akibat persoalan teknologi semi-otomatis.

Di Italia, Serie A menghadirkan pendekatan berbeda karena sebagian besar pihak menginginkan lebih banyak intervensi. Koresponden La Gazzetta dello Sport, Davide Chinellato, menjelaskan bahwa publik sepak bola Italia sulit membayangkan kompetisi modern tanpa VAR meski tingkat frustrasi meningkat ketika keputusan yang dianggap jelas tidak dikoreksi sesuai harapan.

Kapten Lyon, Corentin Tolisso, menyatakan, "Ada kesalahan setiap akhir pekan. Kami membayar harga yang sangat mahal untuk level perwasitan saat ini". Hal ini menggambarkan situasi di Ligue 1 yang mencatat 83 intervensi dalam 198 pertandingan dengan 17 kesalahan atau satu setiap 11,65 laga, serta beban biaya sistem wasit dan VAR yang mencapai 25 juta euro per musim di tengah tekanan finansial klub.

Ulasan BBC, rangkaian data dan dinamika tersebut menunjukkan bahwa polemik mengenai batas intervensi, definisi kesalahan yang jelas, serta persepsi publik terhadap transparansi teknologi tidak hanya menjadi isu di Inggris. Isu ini menyebar di lima liga utama Eropa dengan karakter perdebatan berbeda namun substansi pertanyaan yang sama mengenai peran dan batas VAR dalam sepak bola modern.

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic