lifestyleRelationship

Sulit Lepas dari Hubungan Toxic? Kenali Trauma Bonding, Ikatan Emosional yang Berbahaya

Penulis Ashila Syifaa
Mar 28, 2026
Ilustrasi trauma bonding. (Foto: Freepik.com)
Ilustrasi trauma bonding. (Foto: Freepik.com)

ThePhrase.id - Tak jarang, hubungan berkembang menjadi tidak sehat bahkan merugikan salah satu pihak. Salah satu bentuk ketergantungan emosional yang berbahaya adalah trauma bonding, yaitu kondisi ketika seseorang terikat secara emosional dengan pasangan yang justru menyakitinya.

Menurut American Psychological Association, trauma bonding berkembang ketika seseorang mengalami pola pelecehan yang terjadi secara berulang (intermiten), sehingga menimbulkan kebingungan dan ketergantungan emosional terhadap pelaku. 

Kondisi tersebut dapat terjadi dalam berbagai hubungan, seperti antara anak dan orang tua yang kasar, individu yang mengalami kekerasan dalam hubungan, hingga seseorang yang tetap setia pada teman manipulatif atau atasan yang toxic.

Mungkin bagi sebagian orang trauma bonding merupakan hal yang aneh dan mustahil terjadi, namun perlu diingat bahwa pelaku kekerasan pada umumnya pandai melakukan manipulasi, sehingga korban dapat merasa bingung yang berujung tumbuh rasa ketergantungan. 

Berbeda dari hubungan sehat yang seimbang, trauma bonding merupakan keterikatan emosional tidak sehat yang melibatkan ketidakseimbangan, perilaku yang tidak konsisten, adanya turbulensi antara kekerasan dan kasih sayang.

Istilah ini merujuk pada pola hubungan yang terbentuk dari siklus perlakuan negatif yang diselingi dengan momen kasih sayang. Pola tersebut membuat korban merasa terjebak, bahkan sulit untuk meninggalkan hubungan meskipun menyadari adanya ketidakbahagiaan.

Secara psikologis, kondisi ini terjadi karena adanya “reward” atau hadiah emosional setelah konflik. Ketika pasangan yang sebelumnya bersikap kasar tiba-tiba berubah menjadi perhatian dan penuh kasih, hal tersebut memicu rasa lega dan bahagia yang intens. Perasaan ini kemudian menciptakan ketergantungan, sehingga korban terus berharap pasangan akan berubah.

Selain itu, faktor lain seperti rendahnya kepercayaan diri, ketergantungan emosional, hingga ketakutan akan kesepian turut memperkuat trauma bonding. Tidak sedikit individu yang memilih bertahan karena merasa tidak mampu memulai hubungan baru atau menganggap dirinya tidak layak mendapatkan pasangan yang lebih baik.

Beberapa tanda yang kerap muncul pada kondisi ini antara lain sulit meninggalkan hubungan meski sering disakiti, terus memaafkan tanpa adanya perubahan, hingga cenderung membela pasangan meskipun perilakunya merugikan.

Para ahli menilai pentingnya kesadaran untuk mengenali pola hubungan yang tidak sehat sebagai langkah awal untuk keluar dari trauma bonding. Dukungan dari lingkungan terdekat maupun bantuan profesional juga dinilai dapat membantu individu melihat situasi secara lebih objektif.

Seiring meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental dan hubungan yang sehat, pembahasan mengenai trauma bonding diharapkan dapat membantu masyarakat lebih memahami pentingnya membangun relasi yang didasarkan pada rasa aman, saling menghargai, dan keseimbangan emosional. [Syifaa]

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic