trending

Super Flu Terdeteksi di Indonesia, Apa yang Perlu Dilakukan?

Penulis Nadira Sekar
Sep 24, 2026
Foto: Ilustrasi Super Flu (magnific.com photo by benzoix)
Foto: Ilustrasi Super Flu (magnific.com photo by benzoix)

ThePhrase.id - Influenza A(H3N2) subclade K yang belakangan populer disebut sebagai “super flu” telah terdeteksi di 13 provinsi di Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat kasus terbanyak ditemukan di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan.

Lantas, apa sebenarnya “super flu” dan apakah masyarakat perlu khawatir?

Tentang Super Flu

Istilah “super flu” bukan merupakan nama medis resmi. Sebutan tersebut digunakan untuk merujuk pada influenza A(H3N2) subclade K, bagian dari virus influenza musiman A(H3N2) yang mengalami perubahan genetik.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), subclade K merupakan virus influenza A(H3N2) musiman yang muncul dari subclade J.2.4 dan sebelumnya dikenal sebagai J.2.4.1. Virus ini mengalami sejumlah perubahan genetik yang membuatnya berbeda dari beberapa virus H3N2 sebelumnya.

Perubahan tersebut membuat subclade K menjadi perhatian dalam pemantauan influenza. Meski demikian, WHO menyatakan belum ada bukti bahwa subclade K menyebabkan penyakit yang lebih berat dibandingkan influenza musiman lainnya.

Gejalanya juga umumnya serupa dengan influenza, seperti demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, sakit kepala, nyeri otot, dan tubuh terasa lemas.

Siapa yang Perlu Lebih Waspada?

Risiko influenza tidak sama pada setiap orang. Anak kecil dan lansia termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami komplikasi. Risiko juga dapat meningkat pada orang dengan penyakit penyerta atau kondisi yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh.

Melansir detik.com, Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp Respi(K), sebelumnya menjelaskan bahwa balita dan lansia merupakan kelompok usia yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi berat ketika terkena influenza.

“Kelompok risiko tinggi kalau dari segi usia, kelompok risiko tinggi ada dua, yang pertama adalah balita, kemudian lansia, itu adalah kelompok risiko tinggi kalau terkena infeksi influenza, dia bisa menimbulkan keparahan yang lebih tinggi daripada kelompok pasien yang lain.”

Selain usia, kelompok yang perlu mendapat perhatian antara lain orang dengan penyakit jantung, kanker, HIV, serta mereka yang menggunakan obat penekan sistem imun.

Pada anak, perhatian juga perlu diberikan karena influenza dapat menyebabkan komplikasi yang membutuhkan perawatan medis. IDAI menyebut anak usia 0–17 tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi influenza bergejala dibandingkan orang dewasa.

Lalu, Apa yang Perlu Dilakukan?

Super Flu Terdeteksi di Indonesia  Apa yang Perlu Dilakukan
Foto: Infografis Super Flu (dok. ThePhrase.id/Nadira)

Pencegahan penularan influenza pada dasarnya tetap dilakukan melalui langkah-langkah yang selama ini diterapkan untuk penyakit infeksi saluran pernapasan.

Kemenkes mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk mencuci tangan dengan sabun atau menggunakan hand sanitizer serta menerapkan etika batuk dan bersin. Masyarakat yang mengalami gejala seperti batuk atau pilek juga dianjurkan menggunakan masker untuk mengurangi risiko menularkan virus kepada orang lain.

Menjaga sirkulasi udara di dalam ruangan dan mengurangi kontak dekat ketika sedang sakit juga dapat membantu menekan risiko penularan. Jika mengalami gejala infeksi saluran pernapasan, masyarakat dapat beristirahat dan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila kondisi memburuk.

Vaksinasi influenza juga menjadi salah satu langkah pencegahan yang dapat dipertimbangkan, khususnya bagi kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi. WHO menyatakan vaksin influenza tetap diharapkan memberikan perlindungan terhadap penyakit berat meski terdapat perbedaan genetik antara virus yang beredar dan strain dalam vaksin.

Kapan Harus ke Fasilitas Kesehatan?

Gejala influenza umumnya meliputi demam, batuk, nyeri tenggorokan, pilek, sakit kepala, nyeri otot, dan rasa lemas. Gejala ringan dapat dipantau dan ditangani dengan istirahat serta perawatan yang sesuai. Namun, pemeriksaan ke fasilitas kesehatan diperlukan jika gejala semakin berat, tidak kunjung membaik, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Pada anak, orangtua perlu lebih memperhatikan perubahan kondisi. Segera periksakan anak jika mengalami sesak atau kesulitan bernapas, penurunan kesadaran, tanda dehidrasi, demam tinggi yang tidak kunjung membaik, atau kondisi yang terlihat semakin lemah. Kelompok yang berisiko seperti lansia, orang dengan kondisi medis kronis serta penderita gangguan imun juga sebaiknya lebih cepat mendapatkan pemeriksaan ketika mengalami gejala influenza. [nadira]

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic