
ThePhrase.id - Mantan Duta Besar Republik Indonesia (RI) untuk Amerika Serikat (AS), Dino Patti Djalal menyampaikan surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden AS, Donald Trump.
Surat terbuka tersebut disampaikan melalui media sosial Instagram resminya @dinopattidjalal pada Jumat (13/3), sebagai bentuk kritik terhadap sikap Presiden Trump yang terkesan ingin menunjukkan kekuatan negaranya lewat serangan terhadap Republik Islam Iran.
Dino yang juga seorang Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI era Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjelaskan, pesan tersebut bukan persoalan menjadi pro-Iran ataupun anti-Iran. Melainkan pandangan bahwasanya seorang pemimpin negara tidak berhak untuk merencanakan pembunuhan terhadap pemimpin negara lainnya.
Adapun dampak serangan tersebut meluas, mulai dari serangan balasan Iran, negara-negara di sekitar yang terkena dampak perang, hingga permasalahan ekonomi, terjadinya inflasi akibat Iran menutup total Selat Hormuz yang menjadi akses kapal-kapal pengangkut minyak di dunia.
Lewat surat itu, Dino, mewakili sebagian besar rakyat Indonesia hingga dunia, meminta kepada Trump untuk segera mengakhiri kegilaan (madness) yang ia ciptakan, berhenti memicu perang, dan mengimbau agar tidak mudah dimanipulasi oleh Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu.
Ia berharap, kepemimpinan Trump dapat mengembalikan citra Amerika yang saat ini ditakuti, egois, dan kasar, menjadi Amerika yang dihormati, dicintai, dan bermartabat.

Kepada Presiden (Donald) Trump, saya menyampaikan pesan ini atas nama Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), organisasi akar rumput independen hubungan internasional terbesar di Asia Tenggara dan Indo-Pasifik. Kami juga pemrakarsa Global Town Hall, suatu konsorsium lebih dari 130 organisasi kemasyarakatan dari berbagai penjuru dunia.
Kami meyakini bahwa pesan ini yang saya kirim kepada anda mewakili pandangan dari sebagian besar rakyat Indonesia, dan saya cukup yakin (juga mewakili) rakyat di banyak negara. Kami sebagai rakyat menyampaikan pesan gamblang ini kepada anda, karena kami tahu pemerintah kami harus bersikap lebih hati-hati dan diplomatis menghadapi anda. Semoga anda mendengarkan pandangan kami yang datang tulus dari hati.
Bapak Presiden (Trump), kami menyambut baik niat anda, sebagaimana tertuang dalam US National Security Strategy (Strategi Keamanan Nasional AS) untuk menjadi “Presiden Perdamaian” Amerika, dan kami mengapresiasi upaya gigih anda tahun lalu untuk memenangkan Penghargaan Nobel Perdamaian karena kami mengharapkan seorang pemimpin dunia barat akan berperilaku sebagaimana layaknya sosok peraih nobel.
Kami agak lega ketika anda melakukan intervensi di Gaza dengan 20 poin rencana perdamaian untuk mendorong gencatan senjata, yang diharapkan dapat mengakhiri pembantaian Israel terhadap warga Gaza, walaupun kami juga menilai Board of Peace (Dewan Perdamaian) banyak kekurangannya.
Namun, sejak penghargaan Nobel Perdamaian diberikan ke orang lain, anda telah bertindak yang sangat berlawanan dengan profil “Presiden Perdamaian” yang anda cita-citakan. Anda telah mengubah Amerika menjadi negara yang sangat berbeda dari yang kami kenali.
Kami kini semakin khawatir melihat perkembangan nasionalisme Amerika yang ingin memamerkan keperkasaan (macho), yang merasa paling benar, yang suka menantang lawan, yang bertendensi imperialis, yang mudah menggunakan kekuatan militer, dan yang tidak memiliki kompas moral. Akibatnya, Amerika sering menjadi agresor dalam sejumlah konflik
Kami dengan tegas menolak dan mengecam serangan militer Amerika-Israel terhadap Iran yang menewaskan pemimpin mereka, Ayatollah Khamenei.
Ini bukan soal menjadi pro-Iran atau anti-Iran. Indonesia sama-sama berhubungan baik dengan AS maupun Iran. Namun, tidak ada pemimpin negara mana pun—tak peduli seberapa kuat—yang berhak untuk merencanakan pembunuhan terhadap pemimpin negara lain. Sesuatu yang bila terjadi pada Amerika atau negara mana pun, pasti akan dianggap sebagai deklarasi perang
Bahwasanya, anda memerintahkan pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran saat negosiator Amerika tengah melakukan negosiasi dengan Iran, menandakan anda bukan pemimpin yang berjiwa ksatria.
Jelas, aksi terencana untuk membunuh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei, melanggar hukum dan norma internasional, melanggar Piagam PBB, dan saya yakin juga melanggar hukum AS sendiri yang melarang Amerika melakukan asasinasi terhadap pemimpin negara lain.
Jika aksi militer untuk membunuh pemimpin lain dianggap Amerika sebagai hal yang sah-sah saja, maka negara mana pun dari 193 negara di dunia juga akan menganggap aksi serupa sebagai hal yang sah. Itulah tatanan dunia berbahaya yang menyebabkan Perang Dunia 1, Perang Dunia 2, dan kemungkinan dapat menyebabkan Perang Dunia 3.
Serangan militer AS dan Israel telah memaksa Iran membalas dengan aksi militer yang lumrah dilakukan negara mana pun jika diserang. Hal ini telah membahayakan negara-negara lain. Rembetan perang sudang menyebar ke Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Bahrain, Oman, Kuwait, Iraq, Yordania, Turkiye, Lebanon, Suriah, Siprus. Upaya rekonsiliasi strategis seperti yang sebelumnya dijalin antara Arab Saudi dan Iran pun terhenti. Ketidakstabilan dan eskalasi konflik kini menghantui Timur Tengah
Ini semua karena anda, Bapak Presiden (Trump), dan karena Israel. Alih-alih menyebarkan perdamaian, anda justru menyebarkan perang.
Negara yang saat perang dunia terakhir berjasa “membuat dunia menjadi aman untuk demokrasi” kini menjadi negara demokrasi yang membuat dunia justru tidak aman. Rakyat Amerika tidak memilih anda untuk bertindak seperti ini. Inilah sebabnya mengapa semakin banyak rakyat Amerika, termasuk pendukung setia anda sendiri yang mulai menyadari bahwa menjadi pro-Trump, menjadi pro-Amerika, dan menjadi pro-Israel bukanlah hal yang sama.
Serangan terhadap Iran juga telah berdampak langsung pada rakyat Indonesia. Akibat kenaikan harga minyak, Indonesia menghadapi risiko tekanan anggaran, kenaikan inflasi, kenaikan harga pangan, bertambahnya pengangguran, dan melambatnya pertumbuhan. Ketika kesulitan ekonomi terjadi, kemarahan sosial dan guncangan politik bisa menyusul.
Presiden Trump, anda pernah mengatakan ini hanyalah “harga kecil yang harus dibayar” untuk meruntuhkan Iran. Kami tidak sepakat, karena ini adalah harga yang besar, yang sangat besar bagi Indonesia, dan juga bagi banyak negara lain di dunia, termasuk sekutu terdekat Amerika yang akan turut menderita akibat tindakan gegabah anda.
Jika konflik Timur Tengah berkepanjangan dan harga minyak terus tidak terkendali, maka kita bisa menuju ke resesi global. Ini bisa membuat ratusan juta warga dunia jatuh dalam kemiskinan. Yang mana, semua orang termasuk rakyat Amerika pun akan rugi. Ini pun akan menjadi masalah politik untuk anda.
Presiden Trump, di era anda, Amerika Serikat telah memperoleh reputasi yang janggal sebagai negara yang sewenang-wenang dan berperilaku seperti imperialis.
Maka, kami, Rakyat Indonesia, dan saya yakin juga banyak warga di dunia, memohon kepada anda untuk hentikan kegilaan ini. Berhenti memicu perang. Berhenti mendorong dunia jatuh ke jurang kegelapan. Hentikan serangan ke Iran. Jangan mau dimanipulasi oleh Prime Minister (Perdana Menteri [PM]) Netanyahu untuk berperang demi kepentingannya.
Perjuangkan kemerdekaan Palestina dengan serius, perbaiki Board of Peace dan buatlah menjadi sedikit tentangmu dan lebih banyak tentang perdamaian dan keadilan, dan juga realisasi solusi dua negara yang sekarang telah menjadi harapan sebagian besar negara-negara dunia.
Bantu akhiri perang Rusia-Ukraina, seperti yang dulu anda jandikan saat kampanye. Upayakan kerja sama yang sehat dan saling menghormati dengan China yang dapat memberi manfaat bagi dunia, termasuk kami yang berada di kawasan Indo-Pasifik.
Bantu umat manusia menangani krisis perubahan iklim. Ciptakan kondisi di mana semua negara bisa maju bersama dalam perdamaian dan kemakmuran. Hormati Piagam PBB, yang merupakan salah satu kontribusi terbesar Amerika bagi perdamaian dunia. Patuhilah hukum internasional. Bangun jembatan, bukan perpecahan.
Jadilah presiden yang bisa menunjukkan kepada orang tua dan anak-anak di seluruh dunia bahwa Amerika bukan bangsa yang egois dan kasar, melainkan bangsa yang baik hati dan bermartabat. Amerika yang sama yang dulu mendidik almarhum ayah saya sehingga menjadi diplomat dan cendekiawan kelas dunia, Amerika tempat saya belajar hingga menjadi warga dunia yang cinta perdamaian.
Presiden Trump, kami memahami aspirasi anda untuk membuat Amerika jadi hebat lagi (Make America Great Again), MAGA. Bagaimanapun, semua bangsa berhak untuk bercita-cita menjadi hebat. Namun, kehebatan Amerika itu tidak ada artinya jika Amerika justru dipandang sebagai ancaman oleh seluruh dunia.
Jika Amerika menjadi negara yang ditakuti, ketimbang dicintai dan dihormati, ingat, Bapak Presiden, Amerika hanya akan dianggap hebat bila dapat menginspirasi umat manusia dan membuat dunia menjadi lebih baik. Kalau Amerika memberdayakan dunia, dunia juga akan berbalik memberdayakan Amerika. Terima kasih sudah mendengarkan, Bapak Presiden. Saya Dino Patti Djalal dari Indonesia. (Rangga)