
Thephrase.id - Langkah tegas diambil Premier League bersama La Liga, Bundesliga, dan Serie A yang secara terbuka melayangkan tuntutan reformasi fundamental terhadap tata kelola FIFA akibat manuver Presiden FIFA, Gianni Infantino, yang dinilai aktif mempromosikan gagasan bernuansa eksploitasi.
Sikap bersama empat liga papan atas Benua Biru tersebut diambil atas kesadaran penuh mengenai dampak buruk ekspansionisme agresif badan sepak bola dunia itu terhadap keberlangsungan seluruh pemangku kepentingan di ranah lapangan hijau.
Desakan perombakan besar-besaran ini dinilai sangat mendesak agar tata kelola federasi internasional tersebut kembali transparan, objektif, proporsional, dan inklusif demi menjaga fondasi olahraga yang berisiko hancur jika terus diabaikan.
Langkah politis ini mengemuka hanya beberapa hari setelah Infantino mengusulkan peninjauan eksternal atas operasional lembaga yang dipimpinnya di tengah krisis hebat pasca-kegagalan rencana penjualan saham Piala Dunia kepada investor swasta yang memicu krisis kepercayaan global.
Mengacu pada skema jualan saham bertajuk Fifa Forward Enterprise (FFE) yang dicap sebagai salah satu bentuk penyalahgunaan wewenang terbesar sepanjang sejarah federasi, keempat liga menegaskan bahwa pembatalan proyek tersebut belum menghilangkan akar masalah utama di dalam organisasi.
"Presiden FIFA kini telah mengakui perlunya reformasi, tetapi tidak cukup hanya perubahan proses di tingkat permukaan yang dijajaki setelah FFE – reformasi tata kelola yang mendasar sangat penting untuk memulihkan batasan konstitusional yang jelas di dalam FIFA, termasuk keyakinan bahwa masalah disiplin individu tetap terisolasi secara nyata dari campur tangan politik," bunyi pernyataan tersebut.
Sikap keras yang tertuang dalam peryataan tertulis itu secara implisit merujuk pada pembatalan sanksi skorsing penyerang tim nasional Amerika Serikat, Folarin Balogun, di ajang Piala Dunia usai Presiden Amerika Serikat Donald Trump menelepon Infantino untuk meminta peninjauan ulang atas hukuman sang pemain.
"Masalah tata kelola FIFA jauh melampaui peran satu individu. Pertanyaan yang lebih luas adalah apakah Presiden FIFA harus secara bersamaan memegang kekuasaan regulasi, komersial, dan politik tanpa pengawasan dan keseimbangan yang efektif, termasuk persetujuan dari pemangku kepentingan yang terdampak... tata kelola yang memusatkan kekuasaan regulasi, komersial, dan politik yang tak terkendali dalam satu kantor, sambil mereduksi pemangku kepentingan yang terdampak hanya menjadi status penasihat belaka, tidak layak untuk dijalankan," lanjutnya.
Guna membenahi bobroknya sistem, mereka mendesak pembentukan badan permanen bagi liga, klub, hingga pemain, diterapkannya pengambilan keputusan berbasis bukti ilmiah yang teruji, serta pemisahan tegas antara fungsi regulator dan fungsi komersial lembaga demi menjamin independensi serta akuntabilitas.
Konflik terbuka ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari gugatan hukum yang dilayangkan liga-liga Eropa bersama serikat pemain Fifpro ke Komisi Eropa dua tahun lalu terkait tuduhan penyalahgunaan dominasi jadwal pertandingan internasional, meski tudingan tersebut sempat ditangkis FIFA dengan menuduh balik liga domestik bertindak hipokrit.
"Sekarang adalah saatnya untuk memutuskan tidak hanya siapa yang akan memimpin FIFA, tetapi juga bagaimana FIFA harus dipimpin. Liga memiliki peran krusial dalam proses ini, dan kami ingin memastikan bahwa suara setiap liga didengar," imbuhnya.
Kertas tuntutan yang ditandatangani oleh CEO Premier League Richard Masters, CEO Bundesliga Marc Lenz, Presiden La Liga Javier Tebas, serta CEO Serie A Luigi De Siervo ini menjadi pukulan telak lanjutan bagi Infantino. Sebelumnya, Infantino juga dikritik Masters telah menekan tombol "hancur diri" akibat skandal FFE jelang tenggat pencalonan re-eleksi Presiden FIFA pada 18 November 2026.