
ThePhrase.id - Beredarnya kabar penamparan Sekretaris Kabinet, Letkol Teddy Indra Wijaya oleh Panglima Kopassus, Letnan Jenderal Djon Afriandi memunculkan spekulasi tentang apa yang terjadi dalam Istana Presiden. Terlepas dari benar tidaknya peristiwa itu, pertanyaan tentang sosok Teddy Indra Wijaya menjadi mengemuka. Mengapa Teddy sangat powerfull mengatur pihak-pihak yang ingin bertemu presiden. Apakah Teddy memang seseorang yang dipersiapkan untuk menjaga Prabowo agar mudah dikontrol.
Pihak Kopassus sudah membantah peristiwa penamparan itu sebagai hoak. “Kami pastikan kabar tersebut tidak sesuai fakta,” bunyi klarifikasi resmi Kopassus melalui Instagram @penkopassus, Selasa (21/4/2026).
Meski ada bantahan, isu itu sendiri sudah menjadi sinyal kuat tentang ada sesuatu yang terjadi di ring satu Istana. Terutama seputar Letkol Teddy Indra Widjaya yang disebut memiliki peran dominan dalam mengatur jadwal Presiden Prabowo dan orang-orang yang ingin bertemu presiden. Teddy juga disebut sebagai orang Jokowi yang dipasang untuk memantau gerak dan langkah Prabowo. Anggapan ini tidak berlebihan bila dilihat dari awal mula masuknya Teddy sebagai orang dekat Prabowo. Sebelumnya, Teddy adalah asisten ajudan Jokowi yang kemudian dijadikan ajudan Prabowo saat menjabat Menteri Pertahanan hingga masa kampanye Pilpres 2024.
Aksi Teddy saat mengawal Prabowo berkampanye ketika itu menjadi bahasan sendiri oleh beberapa media. Termasuk aksi heroiknya mengangkat seorang perempuan yang pingsan di tengah kampanye Prabowo-Gibran. Teddy yang tadinya bukan siapa-siapa mendadak populer dengan sebutan Mayor Teddy.
Saat ini, Teddy adalah Sekretaris Kabinet di pemerintahan Prabowo Gibran. Sesuai undang-undang seorang sekretaris kabinet memiliki beberapa tugas pokok dengan tugas utama sebagai Administrasi Kabinet yang menyiapkan sidang kabinet, rapat, serta mendokumentasikan hasil-hasilnya. Namun selama menjabat posisi itu, Teddy disebut telah melampaui tugas pokoknya yang membuat sejumlah pihak merasa tersinggung dan terhalangi tugasnya.
Dalam banyak kesempatan, Teddy sering kedapatan bertindak sebagai juru bicara presiden yang memberi pernyataan di beberapa momen. Seperti kegiatan Pasar Murah untuk Rakyat yang digelar oleh Istana pada Sabtu, 28 Maret 2026. Teddy nimbrung pada wawancara wartawan dengan Menteri UMKM Maman Abdurrahman, perihal anggaran untuk pasar murah tersebut. Teddy tiba-tiba menyela pernyataan Maman. “Pokoknya ada, oke,” celetuk Teddy singkat.
Demikian juga pada saat bencana banjir bandang Sumatra akhir November 2025 lalu, Teddy kerap tampil memberi pernyataan di depan media bersama pejabat yang terkait. Teddy disebut juga sebagai orang yang mengatur jadwal presiden dan menjadi penentu pihak-pihak yang boleh bertemu presiden. Maka, ketika muncul isu seorang Panglima Kopassus menampar Teddy karena tugasnya terhalangi, banyak netizen yang menyukainya dan menganggap isu itu benar.
Kemunculan Teddy yang tiba-tiba dengan popularitas yang langsung meroket adalah sebuah keganjilan yang banyak dipertanyakan. Sebagai prajurit baret merah berpangkat Letkol, harusnya Teddy sudah memiliki rekam jejaknya di medan tempur atau teritorial yang signifikan. Namun sejauh ini, Teddy tidak memiliki catatan yang istimewa, bahkan terkesan minus untuk seorang perwira menengah berpangkat Letkol. Teddy hanya tercatat sebagai Komandan Peleton 3,2,1 di Kopassus sebelum menjadi asisten ajudan Presiden.
Pengamat Politik dan Militer dari Universitas Nasional, Jakarta, DR. Selamat Ginting, setahun yang lalu sudah mengkhawatirkan fenomena Teddy ini. Ginting menyebut, fenomena Teddy ini membuat TNI kembali ke jaman Nagabonar.
“Kirim dia ke Papua, pimpin kompinya, untuk menghadapi OPM itu. Dia Kapossus ini, komando pasukan khusus. Bukan tugasnya buka tutup pintu, harusnya dia buka tutup pertempuran,” kata DR. Selamat Ginting, di Forum Kedalian TV, 10 Maret 2025.
Sementara Majalah Tempo edisi 27 April 2026, dalam opininya menyindir Teddy tak layak disebut sebagai prajurit baret merah. Teddy lebih pas disebut sebagai prajurit karpet merah karena banyaknya previlage atau keistimewaan yang didapatnya sebagai sebagai ajudan Menhan dan Sekretaris Kabinet ketika bosnya menjadi presiden. Sebuah posisi strategis di lingkaran dalam Istana yang tidak boleh dijabat oleh tentara aktif.
Namun alih-alih Teddy yang akan mundur dari dinas keprajuritan, malah aturannya yang diubah. Perpres nomor 139 tahun 2024, telah memposisikan Sekretaris Kabinet tak lagi berdiri sebagai lembaga tersendiri, tetapi diintegrasikan dalam kementerian yang membidangi urusan Sekretariat Negara. Lewat Perpes lain Sekretaris Kabinet ditempatkan di bawah Sekretariat Militer Presiden, satu dari 15 jabatan sipil yang boleh diisi prajurit aktif.
Fenomena Teddy ini agak mirip dengan Gibran ketika akan mencalonkan diri sebagai wakil presiden pada Pilpres 2024 lalu. Gibran yang terganjal aturan karena belum berusia 40 tahun, bukannya mundur dari pencalonan, tetapi aturannya yang diubah oleh Mahkamah Konstitusi yang diketuai oleh pamannya, Anwar Usman.
Anomali lain pada Teddy ini adalah kenaikan pangkatnya yang tidak sesuai dengan prosedur kepangkatan yang berlaku di TNI yang diatur dalam sejumlah regulasi, seperti Peraturan Panglima TNI nomor 40 tahun 2018. Teddy mendapat kenaikan pangkat dari Mayor ke Letkol pada usia 35 tahun dan baru bertugas selama 14 tahun, tanpa sekolah staf dan komando sebagai syarat seorang Letkol. Sementara rata-rata lulusan Akmil biasanya telah berdinas selama 18 tahun sebelum menyandang melati dua di pundaknya.
Teddy pintar memainkan ekposure dirinya dengan memanfaatkan tempat dan waktu di mana media berkumpul. Momen ulang tahunnya yang dirayakan berulang-ulang mulai dari pesawat kepresidenan, kamar pribadi Prabowo di Paris hingga kantor Sekretaris Kabinet. Dia juga piawai memanfaatkan celah menjadi orang terdekat presiden di tengah ketiadaan ibu negara yang mengurusi hal-hal yang sangat pribadi seperti handphone, jadwal dan lain-lain.
Apakah langkah Teddy ini insiatif pribadi untuk mempersiapkan diri bermain di panggung politik tanah air. Ataukah dia sedang menjalankan misi khusus dari seseorang yang menugaskannya. Wallahu’alam. Kita tunggu saja, langkah Teddy selanjutnya setelah banyak orang mempersoalkan anomali sikap dan langkahnya itu. (Aswan AS)