
ThePhrase.id - Pernyataan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ulta Levenia Nababan mengenai erupsi enam gunung api di Indonesia tengah menjadi sorotan publik.
Dalam pernyataannya yang diunggah melalui Instagram pribadinya, @leveenia pada Senin (7/9), Ulta mengaitkan fenomena erupsi yang terjadi dalam waktu berdekatan dengan kemungkinan faktor lain, yakni proyek High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP).
Ulta menekankan bahwa pandangan tersebut merupakan pemikiran pribadinya. Ia juga mengakui bahwa dugaan HAARP dapat mengendalikan cuaca, badai, hingga gempa bumi kerap dikategorikan sebagai teori konspirasi karena selama ini belum terbukti secara ilmiah.
“HAARP ini sering dikaitkan dengan teori konspirasi karena memang awalnya didanai oleh US Air Force, US Navy dan DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency). Walau tidak ada bukti ilmiah, tapi banyak spekulasi bahwa Project HAARP bisa mengendalikan cuaca, membuat badai hingga gempa bumi,” demikian pernyataan Ulta.
Selain itu, Ulta juga menyinggung pertemuan Presiden RI, Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin di Vladivostok dan menghubungkannya dengan rangkaian erupsi enam gunung api yang terjadi setelah pertemuan tersebut.
Merespons pernyataan tersebut, edukator mitigasi bencana sekaligus anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono menilai anggapan tersebut tidak masuk akal secara ilmu kebumian.
Dilansir IDN Times, mantan Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG itu mengungkapkan bahwa erupsi gunung api merupakan proses alami yang berkaitan dengan aktivitas tektonik dan pergerakan magma di dalam bumi.
“Tudingan bahwa fenomena erupsi beberapa gunung api di Indonesia disebabkan oleh rekayasa teknologi atau senjata konspirasi sama sekali tidak masuk akal secara ilmu kebumian,” kata Daryono dalam keterangannya pada Selasa (8/9).
Ia menjelaskan, energi pemicu erupsi berasal dari dalam perut bumi pada kedalaman puluhan hingga ratusan kilometer. Tekanan magma dapat mencapai ratusan MegaPascal, sehingga teknologi gelombang elektromagnetik maupun ledakan buatan manusia dinilai tidak mampu mengendalikan tekanan tersebut.
Daryono juga menyebut aktivitas vulkanik Indonesia tidak terlepas dari posisi geografisnya di jalur cincin api (ring of fire) dan pertemuan sejumlah lempeng tektonik. Kondisi itu membuat beberapa gunung api dapat mengalami peningkatan aktivitas dalam waktu berdekatan akibat dinamika tektonik regional.
Selain itu, aktivitas menuju erupsi dapat dipantau melalui berbagai instrumen, seperti seismograf, GPS, tiltmeter, serta pengukuran gas dan suhu. Menurut Daryono, proses tersebut berlangsung secara bertahap, bahkan dapat terjadi selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.
“Narasi yang mengaitkan erupsi beruntun dengan rekayasa teknologi merupakan bentuk disinformasi yang mengabaikan sains dasar, mengingat aktivitas vulkanik Indonesia adalah keniscayaan dinamis dari geologi bumi yang terus bergerak,” tandasnya. (Rangga)