lifestyleRelationship

Terjebak Rasa Cemburu pada Masa Lalu Pasangan? Kenali Retroactive Jealousy

Penulis Ashila Syifaa
Apr 25, 2026
Ilustrasi retroactive jealousy. (Foto: Freepik.com)
Ilustrasi retroactive jealousy. (Foto: Freepik.com)

ThePhrase.id - Perasaan cemburu merupakan hal yang wajar dan umum dirasakan dalam dinamika hubungan romantis. Namun, perasaan tersebut dapat menjadi masalah ketika seseorang secara terus-menerus merasa cemburu terhadap hubungan masa lalu pasangannya. Kondisi ini dikenal sebagai retroactive jealousy.

Kondisi ini merupakan bentuk cemburu yang sering kali melibatkan perasaan penyesalan bahwa kamu bukanlah bagian dari masa lalu pasanganmu. Meski terdengar sepele, retroactive jealousy atau kecemburuan retrospeksi ini dapat membahayakan diri sendiri dan hubungan yang sedang dijalani. 

Apa itu Retroactive Jealousy?

Menurut Healthline, retroactive jealosy merupakan kondisi ketika seseorang memiliki keterikatan atau obsesi yang tidak sehat terhadap riwayat hubungan romantis pasangan di masa lalu. Pada umumnya orang yang mengalaminya sering kali merasa cemas atau terobsesi dengan detail tentang mantan pasangan, hubungan-hubungan di masa lalu, hingga hubungan intim dengan mantan pasangan. Tak hanya itu, terdapat rasa ketakutan bahwa dirinya akan ditinggalkan pasangan demi mantan pasangan. 

“Ini tentang merasa iri terhadap siapa mereka di masa lalu, dengan siapa mereka bersama, atau tentang situasi di masa lalu,” jelas Dr. Chivonna Childs.

Mungkin bagi sebagian orang, hal ini tidak masuk akan karena sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, masih banyak yang terjebak di dalam perasaan retroactive jealousy.

Sering kali, seseorang yang mengalami retroactive jealousy juga menunjukkan berbagai perilaku yang tidak sehat sebagai upaya untuk membenarkan perasaan yang mereka alami. Beberapa perilaku yang umum terkait dengan kondisi ini antara lain:

  • Terus-menerus terpaku pada masa lalu pasangan.
  • Sering mempertanyakan pasangan tentang hubungan-hubungan sebelumnya.
  • Sulit melepaskan atau mengikhlaskan detail dari riwayat romantis pasangan.
  • Mencari informasi tentang mantan pasangan, foto hubungan sebelumnya, atau bukti terkait masa lalu pasangan di internet dan media sosial.
  • Mengalami kecemasan berlebih setiap kali topik tentang mantan atau pengalaman masa lalu muncul dalam percakapan.
  • Merespons pembahasan tentang masa lalu dengan kemarahan atau melakukan gaslighting.
  • Bereaksi seolah-olah hubungan yang sedang dijalani berada dalam ancaman.

Lalu apa yang menyebabkan seseorang mengalami retroactive jealousy?

Menurut Dr. Childs, perasaan cemburu tersebut sering kali berakar dari kecemasan atau anxiety.

"Jika secara terus-menerus mengkhawatirkan pasangan akan kembali kepada mantannya, itu akan memicu kecemasan yang berkepanjangan. Hal ini menumbuhkan rasa tidak aman, dan pada akhirnya membuat Anda terjebak dalam ‘rollercoaster’ emosi, dipenuhi pikiran seperti, ‘Bagaimana jika dia kembali ke mantannya? Apa yang harus saya lakukan?’,” ujar Dr. Childs.

Kondisi ini dapat menimbulkan siklus kecemasan dan depresi yang jahat, hingga mengganggu kesehatan dan kesejahteraan mental. Meskipun begitu, terdapat beberapa kondisi kesehatan mental yang dapat dikaitkan pada retroactive jealousy, antara lain:

  • Gangguan bipolar
  • Depresi
  • Gangguan kepribadian, seperti borderline personality disorder
  • Gangguan obsesif-kompulsif (OCD)

Cara Mengatasi Retroactive Jealousy

Memiliki rasa kecemburuan yang berlebihan kepada pasangan dapat mengurangi rasa kepercayaan di dalam hubungan bahkan dapat merusak hubungan. Melansir Healthline, rasa kecemburuan ini dapat diatasi dengan beberapa cara. 

Dr. Patrick Cheatham, sebagai seorang psikolog klinik, menjelaskan tahap pertama adalah menerima dan memvalidasi rasa cemburu itu. Lalu, akui bahwa setiap orang termasuk pasangan dan kamu memiliki hubungan di masa lalu atau mantan pasangan.

Hal yang terpenting adalah berkomunikasi dengan pasangan dan fokuskan kegiatan yang dapat membangun hubungan yang lebih sehat.

Namun, jika perasaan ini masih terus tumbuh dan merasa semakin sulit untuk mengontrol, hingga hubungan menjadi toxic untuk kedua pihak disarankan untuk berkonsultasi dengan ahli untuk mengetahui lebih dalam mengenai kondisi tersebut. [Syifaa]

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic