Terlanjur Berikan Anak Kebebasan Menggunakan Media Sosial? Ini Cara Memperbaikinya

- Advertisement -spot_imgspot_img

ThePhrase.id – Sebagai orang tua yang berada di tengah gencarnya perkembangan dunia digital, menimbulkan perasaan ketidakberdayaan atas anak yang terlanjur bebas menggunakan media sosial. Terkadang tanpa disadari, anak sudah mendapat kebebasan untuk menggunakan media sosial, namun orang tua tetap memiliki peran yang tinggi untuk memperbaikinya.

Tentunya sebagai orang tua, rasa takut, kekhawatiran dan rasa bersalah akan terus muncul terhadap anak-anak, terutama pada era di mana anak menjadi target dalam dunia maya atau virtual spaces seperti media sosial yang kita kenal sekarang.

Sama halnya seperti kekhawatiran orang tua terhadap anak remajanya yang terlalu sering menghabiskan waktu di media sosial. Orang tua juga harus memiliki pemikiran yang sama terhadap keberadaan anak di bawah umur pada virtual spaces baik dalam penggunaan Youtube maupun media lainnya dalam perangkat digital.

Ilustrasi anak memakai gadget. (Foto: Unsplash/Kelly Sikkema)

Meskipun media sosial dan aplikasi sekarang memiliki fitur anak untuk memastikan keamanan, tak selamanya fitur tersbut baik digunakan secara terus menerus tanpa adanya pengawasan yang lebih dekat oleh orang tua.

Bahaya yang dapat timbul dari media sosial tidak sedikit. Hal tersebut mencakup masalah kesehatan mental, kesehatan fisik, kedekatan dengan orang tua dan teman-temannya di kehidupan nyata hingga masalah cyberbullying yang kini marak terjadi di kalangan anak-anak.

Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan November 2021 lalu mencatat bahwa 88,99% anak lima tahun ke atas sudah cenderung mengakses internet dengan tujuan menggunakan media sosial.

Padahal pada age requirement atau ketentuan umur untuk menggunakan media sosial adalah 13 tahun ke atas tanpa persetujuan orang tua. Namun, masih banyak ditemukan anak di bawah umur 13 tahun sudah aktif menggunakan media sosial.

Peran orang tua di sini sangat dibutuhkan untuk dapat membatasi dan mengurangi ketergantungan anak pada media sosial terutama anak berumur 5 hingga 12 tahun. Namun, menurut jurnalis dan sejarawan Christine Rosen, literasi digital dan screen time monitoring itu tidak cukup.

Merampas secara langsung penggunaan perangkat digital anak pun bukan pilihan yang tepat karena dapat menimbulkan masalah pada hubungan sosial dan orang tuanya. Tentunya orang tua harus menjadi support bagi anak.

Dalam penggunaan media sosial, orang tua dapat menjadi navigasi baik dalam dunia maya maupun dunia nyata dengan penuh pengertian dan tanpa penghakiman. Menurut Alexandra Hamlet, psikolog klinik di New York City anak akan merasakan keterlibatan orang tua dan memiliki rasa tanggung jawab atas media sosial yang ia gunakan jika melakukan pendampingan penuh pengertian.

Kemudian ketika sesuatu yang buruk terjadi, orang tua dapat mengetahui dan anak dapat menjadikan orang tua sebagai ruang nyaman untuk meminta pertolongan.

Tak hanya itu, orang tua pun harus lebih mengerti lebih banyak mengenai media sosial dan perangkat digital agar dapat menjadi pemandu bagi anak. Meskipun literasi digital dan screentime monitoring tidak cukup untuk mengurangi anak menggunakan media sosial, namun tetep membantu mengurangi ketergantungan anak pada media sosial.

Terlalu dini memberikan kebebasan akses media sosial pada anak memang kurang tepat, namun orang tua memiliki wewenang untuk memperbaiki kesalahan tersebut untuk melindungi anak dari bahaya media sosial. [Syifaa]

- Advertisement -spot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you