e-biz

Tersungkur! Rupiah Sentuh Rp17.522 per Dolar AS, Pemerintah Diminta Waspada

Penulis Firda Ayu
May 12, 2026
Bank Indonesia (Foto: bi.go.id)
Bank Indonesia (Foto: bi.go.id)

ThePhrase.id – Nilai tukar rupiah anjlok ke titik terlemah sepanjang sejarah perdagangan mata uang Indonesia, yakni mencapai Rp17.522 per dolar AS pada Selasa (12/05/2026) pukul 15.38 WIB. Pelemahan kali ini bahkan melampaui level krisis yang sebelumnya terjadi saat pandemi COVID-19 maupun gejolak finansial global dalam beberapa tahun terakhir. 

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar terus mencermati langkah pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar serta kepercayaan pasar keuangan domestik.

Tak hanya terjadi di rupiah, penguatan dolar AS juga terjadi pada sejumlah mata uang utama dunia seperti dolar Australia, euro, dolar Singapura, yen Jepang, baht Thailand, hingga ringgit Malaysia. 

Lonjakan kurs turut berdampak pada nilai jual dolar AS di perbankan nasional. Sejumlah bank bahkan mulai menjual dolar AS di atas Rp 17.500. PT Bank Central Asia Tbk (BCA), misalnya, tercatat mematok kurs jual dolar AS sebesar Rp17.540.

Melemahnya rupiah memicu kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi nasional, terutama terkait tekanan impor, kenaikan harga barang, hingga potensi inflasi. 

Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan kurs rupiah dipengaruhi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang masih memanas. 

“Ketegangan di Selat Hormuz ini masih terus memanas walaupun dianggap bahwa perang ini sudah usai kata Trump (Presiden AS Donald Trump),” ujar Ibrahim, merujuk pernyataan Presiden AS Donald Trump, seperti dikutip Antara, Selasa (12/05/2026).

Menurut Ibrahim, konflik tersebut membuat indeks dolar menguat cukup signifikan sehingga berdampak pada kenaikan harga minyak mentah, terutama brent crude oil. Meski ekonomi Indonesia meningkat 5,61 persen pada kuartal I-2026, tak serta merta mampu mendorong penguatan rupiah.

Ibrahim menjelaskan bahwa pembentukan ekonomi kuartal I-2026 banyak ditopang oleh konsumsi masyarakat dan belanja negara, sementara kontribusi investasi memiliki persentase sangat kecil.

“Walaupun pertumbuhan ekonomi di 5,61 (persen) di kuartal pertama cukup tinggi, namun dampak dari kekacauan di Timur Tengah, terutama adalah Selat Hormuz, ini membuat ancaman tersendiri bagi Indonesia,” ujarnya.

Pemutusan hubungan kerja (PHK) juga kian meningkat selama Januari-April 2026. Sebanyak 40 ribu buruh di sektor padat karya seperti manufaktur tekstil dan garmen, serta elektronik, terkena PHK. Bahkan, Ibrahim memprediksi jumlah PHK masih berpotensi meningkat dalam beberapa bulan ke depan.

Sentimen negatif lainnya berasal dari tingginya jumlah pekerja sektor informal di Indonesia yang mencapai 87,74 juta orang, lebih besar dibanding pekerja formal.

Pasar IHSG juga tengah menunggu rilis data dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang disebut berpotensi menurunkan peringkat saham Indonesia.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diperkirakan akan mengalami pelemahan cukup signifikan, tetapi takkan lebih dari Rp17.550 per dolar AS.

Sementara itu, pada kesempatan berbeda, Puan Maharani meminta pemerintah dan Bank Indonesia untuk terus mencermati situasi global yang memengaruhi pelemahan rupiah, termasuk melakukan langkah antisipasi, bahkan hingga 2027. [fa]

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic