e-biz

Tertarik Beli Hunian Terjangkau? Pahami Dulu KPR dan Tips Memilihnya

Penulis Firda Ayu
Aug 29, 2026
Ilustrasi KPR (Foto: magnific.com)
Ilustrasi KPR (Foto: magnific.com)

ThePhrase.id – Punya rumah sendiri mungkin masih sebatas mimpi bagi banyak anak muda. Harga properti yang terus naik sementara penghasilan di awal karier masih terbatas membuat keinginan memiliki hunian terasa sulit diwujudkan. Namun, hadirnya berbagai program hunian terjangkau mulai memberikan harapan baru, termasuk rencana pembangunan Hunian Manggarai di kawasan Transit Oriented Development (TOD) Manggarai, Jakarta.

Hunian yang dikembangkan KAI Properti tersebut direncanakan memiliki 3.784 unit dalam delapan tower. Harganya juga ditargetkan di bawah Rp600 juta dengan skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dari BTN yang dapat dicicil hingga 40 tahun dan bunga 6% tetap sampai lunas. Skema ini bak angin segar bagi masyarakat, khususnya anak muda dengan penghasilan sekitar Rp8 juta-Rp14 juta, yang ingin punya kesempatan untuk memiliki hunian di tengah kota.

Namun, kesempatan memiliki rumah seperti ini bukan berarti harus langsung diambil tanpa perhitungan.Sebelum memutuskan membeli hunian dengan KPR, ada beberapa hal yang perlu dipahami.

Apa itu KPR?

KPR merupakan fasilitas pembiayaan dari bank yang memungkinkan seseorang membeli rumah dengan sistem cicilan. Pembeli cukup menyiapkan uang muka atau down payment (DP), sedangkan sebagian harga rumah dibiayai bank dan kemudian dibayarkan melalui angsuran dalam jangka waktu tertentu.

Meski membuat kebutuhan dana hunian terasa lebih ringan di awal, KPR juga berarti bahwa seseorang memiliki kewajiban finansial dalam jangka panjang. Karena itu, keputusan untuk mengambil KPR sebaiknya disesuaikan dengan kondisi keuangan pribadi, bukan hanya karena tergiur akan harga rumah atau cicilan bulanan yang terjangkau. 

Untuk itu, simak beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan untuk mengambil KPR berikut.

1. Hitung Kemampuan Cicilan

Sebelum mengajukan KPR, calon pembeli perlu menginventarisasi seluruh pemasukan dan pengeluaran bulanan. Dari sana, hitung berapa dana yang realistis dialokasikan untuk cicilan. Kemenkeu melalui AESIA menyebut rata-rata maksimal cicilan yang diizinkan perbankan berada di kisaran 30%-40% dari penghasilan bulanan. 

Meski dapat menjadi patokan, angka tersebut bukanlah target maksimal, kamu tetap harus mempertimbangkan kebutuhan hidup, tabungan, dan kondisi keuangan secara keseluruhan.

2. Jangan Cuma Siapkan DP

Punya uang muka bukan berarti seluruh kebutuhan awal pembelian rumah sudah aman. Calon pembeli harus memperhitungkan kebutuhan dana likuid lainnya yang harus disiapkan sebelum fasilitas pembiayaan berjalan. Jangan menghabiskan seluruh tabungan hanya untuk DP, pastikan menyiapkan dana yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan kondisi tidak terduga.

3. Pilih Tenor Sesuai Kemampuan

Tenor merupakan jangka waktu pembayaran KPR. Semakin panjang tenor, cicilan bulanan umumnya bisa menjadi lebih ringan, namun periode utang juga semakin lama. Untuk itu, pastikan memilih tenor yang sesuai dengan profil keuangan dan kemampuan membayar. Jadi, jangan otomatis memilih tenor terpanjang hanya karena cicilannya paling kecil.

4. Cek Legalitas Properti

Sebelum membeli, pastikan properti memiliki dokumen dan legalitas yang jelas. Untuk rumah, beberapa dokumen yang perlu diperiksa antara lain sertifikat kepemilikan, dokumen izin bangunan, serta status pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Hal yang sama berlaku bagi hunian vertikal, calon pembeli perlu memahami status unit, dokumen kepemilikan, hingga ketentuan yang berlaku pada properti tersebut.

5. Kenali Pengembangnya

Jangan hanya tergoda akan harga dan fasilitas yang ditawarkan oleh developer. Pastikan memilih calon pengembang yang memiliki reputasi dan rekam jejak baik. Hal ini penting untuk mengurangi risiko, terutama apabila kamu membeli properti yang masih dalam tahap pembangunan.

Program hunian terjangkau memang bisa membuat mimpi punya rumah terasa lebih realistis bagi anak mua. Namun, KPR tetap merupakan komitmen finansial jangka panjang yang harus dipahami lebih dalam.

Jangan sampai, rumah yang seharusnya menjadi tempat tinggal yang membawa ketenangan, justru menjadi sumber tekanan finansial. [fa]

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic