
ThePhrase.id - Kementerian Pertahanan (Kemenhan) mengungkapkan bahwa tiga calon manajer Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDMP) meninggal dunia saat mengikuti latihan dasar militer (latsarmil).
Informasi itu dikonfirmasi oleh Karo Infohan Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait sekaligus menjelaskan penyebab dan kronologi meninggalnya 3 peserta latsarmil tersebut.
1. Anisa Muyassaroh (heat stroke)
Peserta pertama, Anisa Muyassaroh, menjalani pelatihan di Satuan Pendidikan (Satdik) Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan. Ia mengalami gangguan kesehatan pada Kamis (18/6), sempat mendapat penanganan medis dan dirujuk ke rumah sakit.
“(Anisa) mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni 2026 dan telah mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan satuan sebelum dirujuk ke rumah sakit. Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat heat stroke,” ujar Rico dalam keterangannya pada Rabu (24/6) dikutip Kompas.
2. Yonanda Muhammad Taufiq (henti jantung)
Kedua, Yonanda Muhammad Taufiq, mengikuti pendidikan di Satdik Puslatpur Kodiklatad, Baturaja. Kondisi kesehatannya menurun pada Rabu (17/6) sebelum dirujuk ke rumah sakit.
“Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat cardiac arrest (henti jantung),” ungkap Rico.
3. Novia Rahmadhani Sihotang (tuberkulosis [TB])
Terbaru, Novia Rahmadhani Sihotang, menjalani pelatihan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau Jakarta. Ia mengalami gangguan kesehatan pada Senin (22/6) dan mendapat perawatan dari tim medis satuan sebelum dirujuk ke RSAU dr. Esnawan Antariksa.
Novia meninggal dunia pada Selasa, (23/6) setelah menjalani perawatan intensif.
“Meskipun telah memperoleh perawatan intensif, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia pada 23 Juni 2026. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, kondisi kesehatan yang dialami berkaitan dengan penyakit Tuberkulosis (TB),” jelas Rico.
Menanggapi peristiwa tersebut, anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin meminta dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program, terutama terkait kesehatan dan keselamatan peserta.
“Peristiwa ini tentu menjadi perhatian serius dan diharapkan dapat dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek kesehatan, keselamatan, prosedur pelaksanaan, serta pendampingan peserta agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari,” kata Hasanuddin.
Ia juga menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan yang ketat sebelum peserta mengikuti pelatihan fisik. Selain itu, Hasanuddin mengusulkan agar materi pelatihan tidak terlalu berorientasi pada kegiatan militer.
“Ya mungkin materinya sajalah, ya. Materinya saja, kemiliteran dalam konteks seperti militer, latihan menembak, kemudian baris-berbaris, panas-panasan, ya dikurangi,” tandasnya. (Rangga)