sportPiala Dunia 2026

Tiket Piala Dunia 2026 Amburadul, FIFA Disebut Kehilangan Kendali atas Keamanan Suporter

Penulis Rangga Bijak Aditya
Jun 17, 2026
Manajemen tiket Piala Dunia 2026 menjadi sorotan tajam setelah pimpinan kelompok suporter Football Supporters Europe (FSE) secara terang-terangan menyebut bahwa ketiadaan pemisahan tribune antarpendukung merupakan sebuah kecerobohan besar. (Foto: Piala Dunia)
Manajemen tiket Piala Dunia 2026 menjadi sorotan tajam setelah pimpinan kelompok suporter Football Supporters Europe (FSE) secara terang-terangan menyebut bahwa ketiadaan pemisahan tribune antarpendukung merupakan sebuah kecerobohan besar. (Foto: Piala Dunia)

ThePhrase.id - Manajemen tiket Piala Dunia 2026 menjadi sorotan tajam setelah pimpinan kelompok suporter Football Supporters Europe (FSE) secara terang-terangan menyebut bahwa ketiadaan pemisahan tribune antarpendukung merupakan sebuah kecerobohan besar yang membuktikan FIFA telah kehilangan kendali atas sistem penjualan tiket.

Fenomena penonton dari dua negara yang bertanding saling membaur di dalam satu tribune penonton pada sebagian besar laga penyisihan grup sejauh ini dinilai sangat tidak biasa dan berbanding terbalik dengan standar keamanan ketat yang biasanya diterapkan dalam kompetisi sepak bola internasional.

Direktur Eksekutif Football Supporters Europe, Ronan Evain, menyampaikan keresahannya mengenai kondisi ini.

"Ketiadaan pemisahan suporter bukanlah hal yang normal untuk turnamen sebesar ini," tegasnya dilansir BBC.

FSE mengkhawatirkan kebijakan FIFA yang terlalu agresif dalam mendorong sistem pembelian dan penjualan kembali tiket justru membuat federasi sepak bola dunia tersebut buta terhadap identitas asli para pemegang tiket di dalam stadion.

"Yang mengkhawatirkan adalah bahwa FIFA tidak benar-benar tahu siapa yang memegang tiket di sana-sini... dengan mendorong begitu keras agar orang-orang membeli tiket dan menjualnya kembali," bebernya.

Tiket Piala Dunia 2026 Amburadul  FIFA Disebut Kehilangan Kendali atas Keamanan Suporter
Fenomena penonton dari dua negara yang bertanding di Piala Dunia 2026 saling membaur di dalam satu tribune penonton pada sebagian besar laga penyisihan grup sejauh ini dinilai sangat tidak biasa. (Foto: Piala Dunia)

Kondisi karut-marut ini otomatis memperbesar peluang terjadinya gesekan fisik karena potensi bertemunya pendukung dari dua kubu yang berseberangan di satu titik yang sama kini menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan dengan turnamen-turnamen sebelumnya.

"Jadi kemungkinan, atau risiko, untuk mendatangkan penggemar dari 'Tim A' di tengah-tengah kerumunan 'Tim B' lebih kuat dari sebelumnya," lanjutnya.

"Saya tidak tahu apakah ada tindakan mitigasi yang diterapkan, tetapi risiko itu memang ada," sambungnya.

Menurut Evain, satu-satunya solusi instan yang bisa diharapkan saat ini hanyalah kesadaran mandiri dari para penonton untuk saling bertukar posisi duduk demi keamanan. FIFA sendiri sudah berada di posisi yang tidak bisa berbuat banyak karena ketidakjelasan data pemilik tiket.

"Mudah-mudahan situasi seperti ini bisa diselesaikan hanya dengan bertukar tiket dan orang-orang berpindah dari satu bagian ke bagian lain. Namun sangat sedikit yang bisa dilakukan FIFA pada tahap ini karena mereka tidak tahu siapa pemilik tiket mereka," ungkapnya.

Skema penjualan kembali tiket yang masif lewat berbagai platform pihak ketiga juga dituding menjadi penyebab utama FIFA sama sekali tidak memiliki kendali untuk memprediksi bagaimana perilaku para penonton yang berhasil menguasai tiket-tiket tersebut di lapangan.

"Ini adalah risiko tambahan, dan saya rasa hal itu belum dipertimbangkan. Ada begitu banyak tiket di platform penjualan kembali, FIFA memiliki nol kendali atas apa yang terjadi dengan tiket-tiket ini. Sulit untuk memprediksi bagaimana perilaku orang-orang yang mengendalikan tiket ini," katanya.

Di sisi lain, perwakilan internal FIFA langsung memberikan pembelaan dengan merujuk pada regulasi kuota khusus sebesar 8 persen dari total kapasitas stadion yang tetap dialokasikan khusus untuk masing-masing asosiasi negara yang bertanding sebagaimana yang sudah lazim diterapkan pada edisi-edisi terdahulu.

Persoalan di luar tribune juga mencuat setelah Evain menyoroti adanya aksi pengamanan berlebih dari petugas lokal yang melarang para suporter membawa bendera ke dalam Stadion Dallas, tempat yang juga dijadwalkan menjadi lokasi laga perdana tim nasional Inggris melawan Kroasia pada hari Rabu mendatang.

"Anda tidak benar-benar diizinkan membawa bendera, atau setidaknya memperlihatkannya, yang mana ini tidak konsisten dengan sebagian besar aturan dan regulasi FIFA, tetapi juga apa yang diizinkan pada turnamen sebelumnya. Hal itu tampaknya lebih dekat dengan apa yang berlaku untuk pertandingan NFL," katanya.

"Di banyak stadion hal itu tidak menjadi masalah, jadi sulit untuk memahami apa kebijakan sebenarnya dan apa yang merupakan improvisasi oleh staf lokal dengan aturan yang mereka miliki sekarang," imbuhnya. (Rangga)

Tags Terkait

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic