
ThePhrase.id - Memasuki musim panas dan musim liburan, tren traveling semakin diminati terutama oleh generasi yang lebih muda. Liburan kini bukan lagi sekadar soal destinasi akhir, melainkan tentang bagaimana memaksimalkan pengalaman perjalanan secara keseluruhan. Konsep ini juga dikenal dengan istilah travel maxxing.
Apa itu Travel Maxxing?
Budaya liburan atau traveling kini bergeser dari sekadar perjalanan santai menjadi pengalaman yang dirancang untuk dinikmati semaksimal mungkin, mulai dari aktivitas, destinasi, hingga pemenuhan kebutuhan pribadi.
Menurut InsightTrendsWorld, travel maxxing bukan sekadar konsep liburan, tetapi juga sebuah mindset ketika konsumen berupaya memperoleh value, memori, dan pengalaman sebanyak mungkin dari setiap perjalanan.
Todd Handcock, Chief Commercial Officer Collinson International mengatakan tren ini mencerminkan pergeseran mendasar dalam cara generasi muda bepergian. Mereka kini lebih memprioritaskan perjalanan multi-destinasi serta menggabungkan fleksibilitas, pengalaman budaya, dan eksplorasi dalam satu perjalanan, sehingga waktu yang dihabiskan untuk menjelajah pun dapat dimaksimalkan.
Alih-alih menghabiskan satu minggu penuh untuk bersantai di satu resor, wisatawan kini semakin sering merancang itinerary yang padat dengan mengunjungi beberapa destinasi sekaligus, menikmati pengalaman budaya, mencoba restoran, mendatangi atraksi wisata, berburu petualangan, hingga menciptakan momen yang layak dibagikan di media sosial. Perjalanan pun kini menjadi ajang untuk memaksimalkan pengalaman, di mana traveler ingin memastikan setiap hari terasa berharga.
Di saat yang sama, kenaikan biaya perjalanan, keterbatasan jatah cuti, serta paparan media sosial mendorong konsumen untuk lebih selektif dan terencana dalam bepergian. Banyak orang kini merasa perlu memastikan perjalanan mereka benar-benar “worth it”, sehingga itinerary yang disusun pun cenderung berfokus pada kepadatan pengalaman dan penciptaan memori sebanyak mungkin.
Uniknya, travel maxxing juga mulai memengaruhi cara wisatawan memanfaatkan waktu di bandara. Berdasarkan data Mastercard yang dikutip dalam laporan tersebut, sebanyak 75 persen generasi milenial dan Gen Z berencana datang lebih awal ke bandara agar dapat menikmati fasilitas lounge.
Temuan ini menunjukkan bahwa wisatawan kini semakin mencari kenyamanan, kemudahan, dan pengalaman premium di sepanjang perjalanan, bukan hanya saat tiba di destinasi akhir.
Seiring perubahan kebiasaan bepergian, ekspektasi terhadap proses perencanaan perjalanan pun ikut bergeser. Wisatawan kini cenderung mencari pengalaman yang lebih praktis dan terintegrasi, di mana mereka dapat mengatur penerbangan, akomodasi, aktivitas, hingga berbagai manfaat perjalanan dalam satu platform. Hal ini dinilai mampu mengurangi hambatan sekaligus menyederhanakan seluruh proses perjalanan.
Dari sini, mulai banyak yang menjadikan traveling sebagai bagian dari gaya hidup, menghargai fleksibilitas, ingin memanfaatkan waktu sebaik mungkin, serta mencari beragam pengalaman dalam satu perjalanan.
Selain itu, travel maxxing juga mencerminkan cara baru dalam memaknai perjalanan. Dalam tren ini, proses selama bepergian dianggap sama pentingnya dengan tujuan akhir, sehingga setiap tahap perjalanan dipandang sebagai bagian dari pengalaman yang utuh dan bermakna. [Syifaa]