communityKompetisi Cerita Anak Negeri

Tumbler di Ransel, Sampah di Awan: Cerita Perubahanku Menjadi Gen Z yang Lebih Sadar Data

Penulis Redaksi
Feb 26, 2026
Ilustrasi penggunaan gawai yang berlebihan dapat memicu jejak karbon digital.  (Foto: Pexels)
Ilustrasi penggunaan gawai yang berlebihan dapat memicu jejak karbon digital. (Foto: Pexels)

Oleh Austin Hartanto Utomo - SMA Universal School Kemayoran

Juara I - Kategori SMA/SMK/Sederajat (Artikel) Kompetisi Cerita Anak Negeri 2025

ThePhrase.id - Selama bertahun-tahun, identitas saya terbentuk dari benda-benda fisik yang saya bawa di dalam ransel sekolah. Di saku kanan, selalu ada botol minum atau tumbler berbahan stainless steel yang sudah baret di sana-sini karena pemakaian. Di bagian dalam tas, terlipat rapi sebuah kantong belanja kain (tote bag) sebagai senjata andalan untuk menolak kantong kresek di minimarket. Saya adalah definisi klise dari seorang "pejuang lingkungan" Generasi Z. Saya akan merasa gelisah jika melihat teman membuang sampah sembarangan dan merasa bangga luar biasa ketika berhasil menghabiskan satu minggu tanpa membeli air mineral kemasan. 

Bagi saya kala itu, musuh terbesar bumi adalah sesuatu yang bisa diraba: sedotan plastik yang tersangkut di hidung penyu, gunungan sampah di Bantar Gebang, atau asap hitam pekat yang dimuntahkan knalpot bus kota yang tak lolos uji emisi. Seperti yang sering diulas dalam berbagai artikel gaya hidup berkelanjutan di thephrase.id, kesadaran akan isu lingkungan fisik memang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari DNA generasi muda masa kini. Kami diajarkan untuk membenci plastik sekali pakai, dan saya adalah murid yang taat. 

Namun, definisi kepahlawanan saya runtuh seketika pada suatu malam yang hening, di tengah pandemi yang memaksa kita semua terkurung di rumah. 

Malam itu, saya sedang berbaring di tempat tidur, melakukan ritual pengantar tidur yang dilakukan jutaan anak muda lain: maraton menonton serial drama Korea terbaru melalui layanan streaming. Saya ingat betul, saat itu saya memilih resolusi tertinggi, 4K, agar bisa melihat detail ekspresi aktor favorit saya dengan jernih, meskipun saya hanya menontonnya lewat layar ponsel selebar enam inci. Di sebelah bantal, ponsel saya terasa panas membara, sementara notifikasi dari tiga akun media sosial terus bermunculan tanpa henti. Di sudut kamar, tumbler kesayangan saya berdiri tegak, seolah menatap saya dengan tatapan menghakimi. 

Di momen itulah, algoritma internet membawa saya pada sebuah artikel ilmiah yang judulnya cukup provokatif tentang "Jejak Karbon Digital". Awalnya saya skeptis. Bagaimana mungkin internet punya polusi? Bukankah internet itu ada di "awan" (cloud)? Bukankah ia maya, tidak berwujud, dan bersih? 

Namun, semakin dalam saya membaca, semakin saya merasa tertampar. Saya baru menyadari bahwa "awan" tempat kita menyimpan ribuan foto swafoto (selfie), jutaan surel (email), dan tempat kita menonton film, bukanlah gumpalan uap air putih yang melayang indah di langit biru. "Awan" itu adalah metafora untuk ribuan gedung beton raksasa yang tersebar di seluruh dunia, yang kita sebut sebagai pusat data atau data centers. Gedung-gedung ini berisi jutaan server komputer yang bekerja 24 jam sehari, 7 hari seminggu, tanpa pernah tidur. 

Mesin-mesin ini menghasilkan panas yang luar biasa. Agar tidak meleleh dan rusak, mereka membutuhkan sistem pendingin ruangan (air conditioning) raksasa yang menyedot listrik dalam jumlah masif. Dan dari mana listrik itu berasal? Di sebagian besar negara, termasuk Indonesia, listrik itu masih diproduksi dari pembakaran batu bara. 

Sebuah fakta dari laporan The Shift Project (2019) membuat saya merinding: aktivitas digital global menyumbang sekitar 3,7% hingga 4% dari total emisi gas rumah kaca dunia. Angka ini mungkin terdengar kecil, tetapi faktanya, angka ini setara, bahkan kini mungkin melampaui jejak karbon dari seluruh industri penerbangan sipil di dunia. Selama ini saya merasa suci karena jarang naik pesawat terbang dan selalu berjalan kaki, padahal kebiasaan saya menonton video daring secara berlebihan dan membiarkan data sampah menumpuk di ponsel ternyata menyumbang polusi yang setara dengan penerbangan lintas benua. 

Malam itu, saya mematikan ponsel dengan perasaan bersalah yang baru. Saya menyadari bahwa saya telah melakukan "diet plastik" dengan ketat, tetapi di saat yang sama, saya mengalami "obesitas data". Saya sadar bahwa saya harus berubah. Namun, tantangannya adalah: bagaimana cara menyelamatkan bumi di dunia maya tanpa harus kembali ke zaman batu? Saya tidak mungkin berhenti menggunakan internet, karena internet adalah nafas bagi generasi saya untuk belajar dan berkarya. 

Jawabannya ternyata bukan "berhenti", melainkan "sadar". Saya memulai eksperimen pribadi yang saya namakan "Diet Digital". 

Langkah pertama adalah yang paling ringan namun berdampak psikologis besar: operasi bersih-bersih kotak masuk (inbox). Saya membuka surel saya dan menemukan ada lebih dari 5.000 pesan yang belum dibaca. Sebagian besar adalah newsletter promosi yang tidak pernah saya buka, notifikasi media sosial, dan spam. Mike Berners-Lee, seorang peneliti karbon terkemuka, dalam bukunya How Bad are Bananas? The Carbon Footprint of Everything (2020), menjelaskan bahwa setiap surel yang tersimpan di server tetap memakan porsi energi kecil untuk penyimpanan. 

Saya menghabiskan waktu dua hari di akhir pekan untuk membatalkan langganan (unsubscribe) dari puluhan layanan yang tidak perlu dan menghapus ribuan surel lawas. Apakah ini akan langsung mendinginkan bumi? Mungkin tidak secara drastis. Dampak penghapusan teks memang mikroskopis jika dibandingkan dengan video. Namun, tindakan ini penting sebagai terapi mental. Rasanya sangat melegakan, seolah-olah saya baru saja membersihkan kamar tidur yang berantakan, padahal yang saya bersihkan adalah ruang maya. Ini membangun pola pikir mindfulness: saya tidak lagi menimbun sampah, baik di kamar maupun di server. 

Langkah kedua adalah "gajah" di dalam ruangan, kebiasaan streaming video. Data menunjukkan bahwa transmisi video menyumbang porsi terbesar dari lalu lintas internet global. Di sinilah perubahan perilaku terbesar saya terjadi. 

Dulu, saya punya kebiasaan menyalakan YouTube di televisi atau laptop sekadar untuk "teman bengong" atau suara latar saat belajar, dengan fitur autoplay yang menyala. Video terus berputar meski tidak ada yang menonton. Kini, saya menghentikan kebiasaan itu. 

Saya juga mulai berkompromi dengan kualitas visual. Saat menonton video klip atau tutorial di ponsel, saya menurunkan resolusi dari 1080p (HD) menjadi 480p atau 720p. Awalnya mata saya protes, merasa gambar tidak cukup tajam. Namun, setelah beberapa hari, saya terbiasa. 

Pada layar ponsel yang kecil, perbedaan piksel itu nyaris tak terlihat, namun penghematan data dan energi yang terjadi di sisi server sangat signifikan. Saya juga mulai kembali ke cara lama yang efektif: mengunduh (download) daftar putar lagu favorit melalui jaringan WiFi rumah, lalu mendengarkannya secara offline saat bepergian. Ini jauh lebih ramah lingkungan daripada melakukan streaming lagu yang sama berulang-ulang menggunakan jaringan seluler yang boros energi. 

Tentu saja, perjalanan transformasi ini tidak saya lakukan dalam kesunyian. Bagian paling menantang sekaligus paling seru adalah membawa isu ini ke lingkaran pertemanan saya. 

Awalnya, respons teman-teman saya beragam. Ada yang tertawa dan menganggap saya terlalu paranoid. "Masa scroll TikTok aja bikin kutub mencair, sih?" canda salah satu teman saya. Namun, saya tidak menyerah. Saya menggunakan analogi yang lebih masuk akal. Saya jelaskan kepada mereka bahwa menyimpan ribuan foto duplikat yang blur di cloud itu sama seperti menyewa gudang ber-AC yang lampunya menyala 24 jam, hanya untuk menyimpan sampah yang tidak akan pernah kita lihat lagi. 

Perlahan, mereka mulai mengerti. Gerakan kami dimulai dari hal kecil saat sekolah daring. Berdasarkan riset dari Purdue University (2021), mematikan kamera saat rapat virtual atau kelas daring bisa menghemat jejak karbon hingga 96% dibandingkan dengan menyalakan video terus-menerus. Kami mulai menerapkan "etiket hijau" ini. Jika guru sedang menjelaskan dan tidak mewajibkan on-cam, kami mematikan kamera dan hanya menyalakan mikrofon jika perlu. Kami menyebutnya gerakan "Suara Tanpa Wajah demi Bumi". 

Tidak hanya itu, kami juga mulai kritis terhadap gawai yang kami pakai. Alih-alih tergiur untuk ganti ponsel setiap tahun demi model terbaru (yang proses produksinya menghasilkan jejak karbon raksasa), saya dan teman-teman mulai bangga menggunakan gawai lama kami selama mungkin. "Gawai paling ramah lingkungan adalah gawai yang sudah kamu miliki sekarang," menjadi mantra baru kami. 

Kini, setahun setelah malam epifani itu, cara saya memandang pelestarian bumi telah berevolusi. Menjaga lingkungan tidak lagi sesempit memilah sampah botol plastik atau membawa tas kain. Menjaga lingkungan kini meluas hingga ke ujung jari saya saat berselancar di dunia maya. 

Saya belajar bahwa menjadi pahlawan lingkungan di abad ke-21 menuntut kecerdasan baru: literasi ekologis digital. Kita tidak bisa menyalahkan teknologi, karena teknologi adalah alat yang membantu kita maju. Namun, kita bisa menyalahkan ketidaksadaran kita dalam menggunakannya. 

Setiap kali tangan saya gatal ingin mengirim stiker tak penting di grup chat, atau membiarkan video berputar tanpa ditonton, saya berhenti sejenak dan bertanya: "Apakah ini sepadan dengan energi yang dibakar di seberang sana?" 

Mungkin kisah saya ini terdengar sederhana dibandingkan inovasi panel surya atau mobil listrik. Namun, bayangkan jika jutaan Generasi Z di Indonesia melakukan hal yang sama. Bayangkan berapa juta gigabyte "sampah awan" yang bisa kita pangkas, dan berapa ton batu bara yang bisa kita hemat. 

Sudah saatnya kita menyadari, bahwa bumi tidak hanya butuh kita berhenti menyampah di sungai, tapi juga berhenti menyampah di awan. Di balik layar yang bercahaya indah ini, ada bumi yang diam-diam sedang "kepanasan" oleh data kita. Mari bijak menekan tombol, karena setiap klik meninggalkan jejak. 

Tags Terkait

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic