
Thephrase.id - UEFA meningkatkan tekanan terhadap Presiden FIFA, Gianni Infantino, dengan menyiapkan langkah hukum pidana di Swiss terkait rencana kontroversial FIFA Forward Enterprise yang sebelumnya digagas untuk melibatkan investor swasta dalam pengelolaan aset komersial Piala Dunia.
Langkah tersebut menjadi perkembangan terbaru dalam perseteruan UEFA dengan Infantino setelah rencana penjualan kepentingan dalam entitas yang mengelola kegiatan komersial FIFA, termasuk Piala Dunia, dibatalkan pada 1 Agustus 2026 menyusul penolakan dari sejumlah pihak dalam sepak bola dunia.
Laporan Daily Mail, dalam dokumen hukum setebal 56 halaman yang diajukan di Amerika Serikat, UEFA menyatakan sedang mempersiapkan kemungkinan membawa Infantino dan sejumlah pejabat serta penasihat FIFA lainnya ke proses pidana di Swiss berdasarkan Pasal 158 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Swiss terkait dugaan pengelolaan yang tidak semestinya.
"UEFA dan pihak-pihak terkait sedang mempersiapkan tuntutan pidana di Swiss terhadap Infantino dan kemungkinan pejabat serta penasihat FIFA lainnya atas dugaan pengelolaan yang tidak semestinya berdasarkan Pasal 158 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Swiss serta dakwaan lain yang mungkin muncul berdasarkan fakta yang berkembang, terkait dengan penyusunan, penilaian, pembiayaan, dan pemasaran transaksi yang dilakukan secara tertutup," demikian pernyataan dalam dokumen hukum UEFA.
Selain ancaman proses hukum di Swiss, UEFA telah mengajukan permohonan kepada pengadilan federal Amerika Serikat untuk memperoleh dokumen dan bukti yang berkaitan dengan rencana investasi tersebut, termasuk melalui pengadilan di Manhattan dan Florida yang melibatkan FIFA serta perusahaan investasi Thrive Capital Management milik Joshua Kushner.
Thrive Capital sebelumnya diproyeksikan menjadi salah satu investor utama dalam skema tersebut dengan rencana pembayaran senilai 4,2 miliar dolar AS (Rp42,5 triliun) untuk memperoleh 20 persen kepentingan pada sebuah anak perusahaan yang akan menangani kegiatan komersial FIFA, termasuk penyelenggaraan Piala Dunia.
UEFA juga mempertanyakan dasar penetapan nilai transaksi tersebut karena angka 4,2 miliar dolar AS dinilai dalam dokumen hukum berpotensi mencerminkan harga di bawah nilai pasar. Hal ini disebut dapat menguntungkan Infantino secara pribadi, meski tudingan tersebut masih merupakan posisi yang disampaikan UEFA dalam proses hukum dan bukan putusan pengadilan.
"Angka tersebut tidak dihasilkan melalui proses lelang yang terbuka dan kompetitif maupun diuji oleh penilai independen," demikian posisi UEFA dalam dokumen yang diajukan ke pengadilan terkait penilaian terhadap struktur transaksi tersebut.
Persoalan ini sebelumnya juga membuat UEFA mengancam akan melakukan boikot terhadap turnamen FIFA sebagai bentuk penolakan terhadap rencana tersebut. Sikap itu kemudian dilonggarkan setelah Infantino memberikan jaminan bahwa skema serupa tidak akan kembali dilakukan.
UEFA sebelumnya telah meminta FIFA dan pihak-pihak terkait untuk mempertahankan seluruh dokumen yang berhubungan dengan rencana FIFA Forward Enterprise, termasuk material yang berpotensi dibutuhkan dalam proses hukum atau investigasi lanjutan.
Dalam dokumen yang sama, UEFA mengacu pada ketentuan hukum Swiss yang memungkinkan hukuman penjara hingga tiga tahun bagi pihak yang diberi tanggung jawab mengelola aset tetapi melanggar kewajibannya hingga menyebabkan kerugian finansial. Hukuman dapat mencapai lima tahun apabila tindakan tersebut dilakukan dengan maksud memperoleh keuntungan yang tidak sah bagi diri sendiri atau pihak lain.
Perseteruan tersebut berlangsung menjelang pemilihan Presiden FIFA berikutnya, sementara sejumlah asosiasi sepak bola nasional telah mempertanyakan kembali dukungan mereka terhadap Infantino setelah rencana FIFA Forward Enterprise memicu penolakan dari berbagai bagian komunitas sepak bola internasional.