
Thephrase.id - Presiden FIFA, Gianni Infantino, kembali menghadapi tekanan setelah UEFA mempertimbangkan langkah hukum pidana terhadap Presiden FIFA tersebut di Swiss, sementara FIFA diperkirakan akan menanggung biaya hukum yang muncul dari perkara tersebut.
Infantino tetap menjadi pusat kontroversi meski telah membatalkan rencana FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah proyek yang sebelumnya dirancang untuk membuat FIFA menjual sebagian kecil kepemilikan dalam operasional komersial dan penyelenggaraan acara, termasuk Piala Dunia putra dan putri, kepada investor swasta.
Di tengah persoalan tersebut, UEFA secara terbuka menunjukkan keinginannya agar Infantino meninggalkan jabatan sebagai Presiden FIFA dan telah meningkatkan tekanan melalui sejumlah pengajuan hukum di Amerika Serikat dengan tujuan mendorong kepergiannya.
Dalam dokumen hukum yang diajukan di Amerika Serikat pada 28 Agustus 2026 yang dilansir dari The Athletic, UEFA menuduh Infantino telah "mempromosikan" harga yang "secara curang berada di bawah nilai pasar demi keuntungan dirinya sendiri". Infantino mengusulkan penjualan 20 persen saham dalam operasional komersial dan penyelenggaraan acara FIFA kepada Thrive Eternal, dana investasi asal Amerika Serikat yang dikelola Joshua Kushner, dengan nilai 4,2 miliar dolar AS (Rp42 triliun).
Pengacara UEFA menilai valuasi tersebut "sangat rendah" karena menurut mereka harga itu bukan "hasil dari proses lelang terbuka dan kompetitif" serta "tidak pernah diuji oleh penilai independen". Sedangkan FIFA hingga kini belum memberikan tanggapan terhadap pengajuan hukum yang ditujukan kepada Infantino.
Meski langkah UEFA diarahkan kepada Infantino dan bukan langsung kepada FIFA, federasi sepak bola dunia tersebut diperkirakan tetap akan membayar biaya hukum yang dihadapi pria berusia 56 tahun itu karena tindakan yang dipersoalkan dilakukan dalam kapasitasnya sebagai Presiden FIFA dan atas nama organisasi.
FIFA tidak berkewajiban menanggung biaya hukum apabila Infantino melakukan suatu tindakan dalam kapasitas pribadi yang tidak memiliki kaitan dengan pekerjaannya, sementara FIFA telah dihubungi untuk memberikan komentar mengenai persoalan tersebut.
Laporan tahunan FIFA 2025 mencatat organisasi itu mengeluarkan hampir 34 juta dolar AS (Rp601 miliar) untuk biaya hukum sepanjang tahun tersebut, meningkat signifikan dibandingkan 14,5 juta dolar AS (Rp256 miliar) pada 2024, untuk "menangani berbagai persoalan hukum terkait sengketa dan konsultasi yang muncul dari tujuan statuternya serta biaya hukum dan tata kelola yang berkaitan dengan penyelidikan".
Tekanan hukum UEFA juga tidak hanya diarahkan kepada Infantino karena pengajuan dokumen serupa dilakukan terhadap Thrive, Joshua Kushner, dan JPMorgan di New York, serta Bann Ventures dan CEO-nya, Greg Maffei, di Colorado. JPMorgan dan Bann Ventures sebelumnya dijadwalkan bekerja sama dengan FIFA dalam proyek FFE dan disebut FIFA dalam pengumuman rencana tersebut pada 28 Juli 2026.
Menanggapi permintaan UEFA untuk membuka dokumen dan sekaligus memberikan pernyataan pertamanya sejak polemik FFE mencuat, Kushner mengatakan pada Senin bahwa Thrive "gagal memahami dinamika politik sepak bola dunia" dan menambahkan, "kami tidak akan terlibat jika mengetahui hal ini akan berkembang seperti sekarang."
"Uang dalam sepak bola secara historis terkonsentrasi pada sekelompok kecil negara," kata Kushner dalam pernyataan yang disadur dari The Athletic.
"Gagasan di balik FFE adalah mengarahkan lebih banyak modal dan ekuitas secara merata kepada seluruh 211 negara anggota, menyediakan investasi yang jauh lebih besar bagi negara-negara berkembang untuk mengembangkan talenta lokal, mendukung sepak bola akar rumput, meningkatkan pengalaman penggemar, dan pada akhirnya mengembangkan sepak bola global di mana pun, gagasan tersebut merupakan sesuatu yang akan diputuskan melalui pemungutan suara oleh setiap Asosiasi Anggota, bukan sebuah kewajiban atau keputusan yang telah ditetapkan," lanjutnya.
"Meski kami tetap mendukung motivasi FFE, kami gagal memahami dinamika politik sepak bola dunia dan sejauh mana beberapa pihak akan bertindak, Thrive memiliki rekam jejak panjang sebagai mitra bagi seluruh pihak, jika kami mengetahui sejak awal bahwa persoalan ini akan berkembang seperti sekarang, kami tidak akan terliba," sambungnya.
Di tengah tekanan yang terus meningkat, Infantino sejauh ini tetap menolak tuntutan agar dirinya mundur yang juga datang dari Concacaf dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), meskipun kedua konfederasi tersebut menghadapi perbedaan sikap di antara asosiasi anggotanya mengenai masa depan sang presiden.