features

Venezuela dan Hak untuk Menentukan Masa Depan

Penulis Redaksi
Jan 05, 2026
Pengajar Studi Perbandingan Politik STISNU Kota Tangerang, Abdul Hakim. (Foto: Istimewa)
Pengajar Studi Perbandingan Politik STISNU Kota Tangerang, Abdul Hakim. (Foto: Istimewa)

ThePhrase.id - Di tengah hiruk-pikuk geopolitik global, Venezuela kerap direduksi menjadi sekadar objek: krisis ekonomi, rezim otoriter, ladang minyak, atau pion dalam permainan kekuatan besar. Namun di balik statistik kehancuran dan narasi elite internasional, ada suara yang sering diabaikan: suara masyarakat Venezuela sendiri.

Ketika kita menelisik sudut pandang psikologi sosial dan pengalaman hidup sehari-hari, membongkar ilusi paling berbahaya dalam wacana internasional tentang Venezuela: keyakinan bahwa kepergian Maduro saja sudah cukup untuk “memperbaiki” segalanya, dan intervensi asing, bahkan dalam bentuk pendudukan dapat menjadi solusi.

Sudah saatnya diajukan sebuah koreksi mendasar terhadap asumsi yang terlalu sering diproduksi oleh media internasional dan pengambil kebijakan di luar Venezuela. Apa yang “diinginkan” rakyat Venezuela tidak identik dengan apa yang dibayangkan Washington, Brussel, atau bahkan oposisi elite di pengasingan.

Keinginan mereka jauh lebih sederhana, sekaligus jauh lebih sulit diwujudkan: kehidupan yang normal. Bukan utopia demokrasi liberal instan, bukan transisi politik spektakuler, melainkan kembalinya rutinitas yang selama bertahun-tahun direnggut, ketika listrik menyala, air yang mengalir, obat-obatan yang tersedia, keamanan dasar, dan rasa bahwa hidup tidak selalu berada di tepi jurang.

Di titik ini, ada ironi yang tak bisa ditampik yaitu selubung obsesi internasional terhadap figur Maduro. Fokus berlebihan pada satu individu menciptakan ilusi kausalitas tunggal: seolah-olah seluruh penderitaan Venezuela bersumber dari satu orang, dan dengan menyingkirkannya, sistem akan otomatis pulih. Ini bukan hanya penyederhanaan, tetapi pengingkaran terhadap kenyataan struktural.

Krisis Venezuela adalah hasil akumulasi panjang: ketergantungan ekonomi pada minyak, lemahnya institusi, korupsi sistemik lintas rezim, serta polarisasi sosial yang telah mengeras selama puluhan tahun. Maduro mungkin memperparah semua itu, tetapi ia bukan penciptanya dari nol.

Narasi “Maduro harus pergi” juga memiliki dampak psikologis yang sering luput dibicarakan. Ia menempatkan rakyat Venezuela sebagai penonton pasif dari drama kekuasaan, bukan sebagai subjek politik yang memiliki agensi. Dalam kerangka ini, perubahan selalu datang dari luar, dari sanksi, tekanan diplomatik, atau ancaman militer, sementara kapasitas internal masyarakat untuk membangun kembali kehidupan bersama diabaikan.

Logika ini jelas keliru, karena bagi masyarakat yang telah lama hidup dalam krisis, rasa kendali atas hidup sendiri jauh lebih penting daripada janji perubahan yang datang dari aktor asing. Venezuela bukan hanya mengalami krisis ekonomi dan politik, tetapi juga krisis emosional dan psikologis.

Bertahun-tahun hidup dalam ketidakpastian telah menciptakan masyarakat yang letih, sinis, dan waspada terhadap janji-janji besar. Dalam kondisi seperti ini, gagasan tentang pendudukan asing, betapapun dikemas sebagai “misi kemanusiaan” atau “penjaga transisi", tidak dibaca sebagai penyelamatan, melainkan sebagai ancaman baru terhadap martabat dan otonomi.

Penolakan terhadap pendudukan asing bukanlah ekspresi nasionalisme kosong, melainkan refleksi historis dan psikologis. Amerika Latin memiliki memori panjang tentang intervensi asing yang dimulai dengan janji stabilitas dan berakhir dengan eksploitasi serta kekerasan.

Bagi banyak warga Venezuela, kehadiran pasukan asing di tanah mereka bukan simbol harapan, melainkan pengingat bahwa nasib mereka kembali ditentukan oleh kekuatan eksternal. Tidak ada “pendudukan baik” bagi masyarakat yang sudah lama kehilangan kepercayaan terhadap kekuasaan.

Lebih jauh, kekeliruan selanjutnya adalah asumsi bahwa rakyat Venezuela sedang menunggu untuk “diselamatkan”. Ini adalah asumsi yang merendahkan. Di balik kehancuran, masyarakat Venezuela terus membangun strategi bertahan hidup, jaringan solidaritas, dan bentuk-bentuk kecil resistensi sehari-hari.

Mereka bukan korban pasif yang menunggu tangan kuat dari luar, melainkan aktor sosial yang, meskipun terdesak, masih berusaha mempertahankan martabat dan makna hidup. Mengabaikan kenyataan ini berarti menghapus kemanusiaan mereka dari analisis politik.

Di sisi lain, terdapat jurang antara wacana internasional dan realitas lokal. Bagi banyak pengamat asing, solusi Venezuela dirumuskan dalam bahasa besar: transisi demokrasi, rekonstruksi ekonomi, dan  stabilisasi geopolitik. Namun bagi warga biasa, pertanyaan yang lebih mendesak bersifat konkret: apakah saya bisa memberi makan keluarga besok? Apakah anak saya bisa bersekolah? Apakah saya harus pergi meninggalkan negara ini? Ketika kebijakan internasional tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, maka ia kehilangan legitimasi moral, betapapun indahnya retorika yang digunakan.

Lebih jauh, oposisi Venezuela terlalu menggantungkan diri pada dukungan eksternal. Ketergantungan ini, alih-alih memperkuat posisi oposisi, justru sering melemahkannya di mata publik. Ketika perubahan politik dipersepsikan sebagai hasil tekanan asing, bukan perjuangan internal, maka ia kehilangan akar sosial. Demokrasi yang lahir dari luar, tanpa rekonsiliasi dan konsensus internal, berisiko menjadi proyek elite yang rapuh.

Venezuela tidak membutuhkan penyelamat bersenjata, melainkan ruang untuk bernapas dan membangun kembali dirinya sendiri. Ini bukan argumen untuk mempertahankan status quo, melainkan seruan untuk pendekatan yang lebih rendah hati dan lebih manusiawi. Perubahan yang berkelanjutan tidak lahir dari paksaan eksternal, tetapi dari proses internal yang panjang, penuh konflik, dan sering kali tidak spektakuler.

Pesan ini menjadi semakin penting ketika ditempatkan dalam konteks kebijakan Amerika Serikat dan sekutunya. Obsesi pada solusi cepat seperti pergantian rezim, intervensi, atau sanksi maksimum, sering kali lahir dari kebutuhan politik domestik negara besar, bukan dari pemahaman mendalam tentang masyarakat yang terdampak.

Pertanyaan yang layak untuk diajukan: siapa sebenarnya yang diuntungkan dari narasi penyelamatan ini? Dan siapa yang menanggung biayanya? Warga sejak lama melakukan perlawanan terhadap kolonialisasi imajinasi politik. Mereka menolak cara pandang yang melihat Venezuela hanya sebagai masalah yang harus “diselesaikan” oleh aktor luar.

Sebaliknya, ia menuntut agar suara rakyat, dengan segala ambiguitas, kelelahan, dan harapan sederhananya ditempatkan di pusat analisis. Dalam dunia yang terbiasa berbicara tentang negara gagal dan intervensi, ini adalah posisi yang radikal sekaligus masuk akal.

Kesimpulan yang ditawarkan jelas tidak nyaman bagi banyak pihak, terutama mereka yang terbiasa dengan solusi instan. Kepergian Maduro tidak akan secara ajaib memperbaiki Venezuela. Pendudukan asing bukan jawaban atas krisis multidimensional. Sebaliknya, proses pemulihan akan panjang, rapuh, dan penuh ketidakpastian. Tetapi justru di sanalah letak kejujurannya.

Venezuela bukan proyek geopolitik, melainkan masyarakat yang sedang terluka. Dan masyarakat yang terluka tidak membutuhkan slogan, kapal perang, atau penguasa baru dari luar. Ia membutuhkan waktu, ruang, dan kesempatan untuk merebut kembali hal paling dasar yang telah lama hilang: rasa memiliki atas masa depannya sendiri. 

Venezuela dan Hak untuk Menentukan Masa Depan
(Penulis: Abdul Hakim, Pengajar Studi Perbandingan Politik, STISNU Kota Tangerang)

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic