
ThePhrase.id - Virus Nipah kembali menjadi sorotan setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan dua kasus terkonfirmasi di India. Dalam laporan Disease Outbreak News terbaru, WHO menyebut National IHR Focal Point India melaporkan dua kasus infeksi yang terjadi di Negara Bagian Benggala Barat pada Senin (26/1).
Kedua kasus tersebut dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium di Institut Virologi Nasional India, Pune, pada 13 Januari. WHO menjelaskan bahwa kedua pasien merupakan tenaga kesehatan yang bekerja di sebuah rumah sakit swasta.
Sementara itu, hingga saat ini belum ditemukan kasus infeksi virus Nipah pada manusia di Indonesia. Meski demikian, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa virus tersebut telah terdeteksi pada satwa liar.
Ahli Utama Virologi sekaligus Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Niluh Putu Indi Dharmayanti, menyampaikan bahwa sejumlah penelitian telah memberikan bukti ilmiah mengenai keberadaan virus Nipah di Indonesia. Salah satunya melalui studi serologis di Kalimantan Barat yang menemukan antibodi virus Nipah pada sekitar 19 persen sampel serum kelelawar jenis Pteropus vampyrus.
“Deteksi molekuler juga telah dilakukan menggunakan metode PCR pada sampel saliva dan urine kelelawar di Sumatera Utara, yang mengonfirmasi keberadaan genom virus Nipah,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (1/2/2026).
Penelitian lanjutan bahkan menemukan virus serupa pada spesies Pteropus hypomelanus di wilayah Jawa. Virus tersebut memiliki karakter genetik yang berkerabat dekat dengan isolat yang ditemukan di Malaysia dan sejumlah negara Asia Tenggara lainnya.
Menurut Indi, kondisi ekologis Indonesia membuat risiko penularan virus Nipah tidak bisa diabaikan. Tingginya keanekaragaman spesies kelelawar, kedekatan habitat satwa liar dengan permukiman manusia, serta praktik perburuan dan perdagangan satwa menjadi faktor yang dapat memicu perpindahan virus dari hewan ke manusia.
Selain itu, keberadaan pasar hewan dengan sanitasi yang kurang memadai serta populasi babi yang besar di beberapa wilayah juga meningkatkan potensi penularan lintas spesies.
"Interaksi yang intens antara manusia, hewan, dan lingkungan menjadi kunci munculnya penyakit zoonotik seperti Nipah," ujarnya.
Ia menambahkan, hingga kini belum tersedia vaksin maupun obat antivirus spesifik untuk virus Nipah. Oleh karena itu, penanganan kasus masih bergantung pada perawatan suportif, sementara upaya pencegahan menjadi langkah paling krusial untuk menekan risiko terjadinya wabah. [nadira]