
ThePhrase.id - Wakil Perdana Menteri (PM) Malaysia, Ahmad Zahid Hamidi mengungkapkan bahwa pemerintah Malaysia telah menawarkan bantuan untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia, tetapi belum mendapat respons.
Tawaran tersebut mencakup pengerahan satu pesawat, tiga helikopter, dan 55 personel untuk membantu pemadaman di Sumatra dan Kalimantan.
“Kita menawarkan (bantuan) dengan ikhlas, tetapi tidak ada respons untuk kita membantu mereka. Kita ucapkan terima kasih,” kata Ahmad Zahid pada Minggu (11/10), dilansir media Malaysia, Sinar Harian.
Ahmad Zahid menjelaskan, tawaran itu telah disampaikan saat kunjungan resminya ke Indonesia pada Jumat (18/9) lalu, termasuk dalam pertemuan dengan Presiden RI Prabowo Subianto dan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana Malaysia (NADMA) dan Kementerian Luar Negeri Malaysia juga disebut telah mengirimkan surat kepada mitra mereka di Indonesia, tetapi belum menerima jawaban.
Meski demikian, Ahmad Zahid menyatakan Malaysia memilih berprasangka baik dan menduga Indonesia mungkin belum merasa membutuhkan bantuan tersebut.
“Dalam hal ini kita bersangka baik yang mungkin mereka (pemerintah Indonesia) tidak memerlukan bantuan kita. Saya katakan saya husnuzon, ya,” imbuhnya.
Ia juga menekankan bahwa persoalan kabut asap lintas batas perlu ditangani melalui kerja sama, bukan dipandang sebagai pertentangan antarkedua negara.

Menanggapi hal itu, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Dudung Abdurachman mengatakan bahwa tawaran bantuan dari Malaysia belum dibahas dalam rapat terbatas (ratas) penanganan karhutla di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin (12/10) malam.
“Tadi belum dibahas,” ujar Dudung kepada awak media.
Dudung menjelaskan, pemerintah tetap mengintensifkan upaya pemadaman di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan.
Selain itu, penanganan di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah turut menjadi salah satu perhatian khusus Presiden Prabowo karena kawasan tersebut merupakan pusat konservasi dan rehabilitasi orangutan Kalimantan.
Menurut Dudung, operasi pemadaman lebih banyak dilakukan melalui jalur darat karena asap yang tebal menyulitkan helikopter menjangkau sejumlah titik kebakaran dari udara. (Rangga)