
ThePhrase.id - Pernah merasa pekerjaan paling rumit, paling mendesak, dan paling berisiko hampir selalu berakhir di tangan kamu? Jika iya, bisa jadi kamu sedang mengalami workload gravity.
Workload gravity adalah fenomena di dunia kerja ketika tugas-tugas berat terus-menerus “tertarik” ke orang yang sama. Bukan karena orang tersebut paling punya waktu atau paling sedikit beban, melainkan karena ia dikenal bisa diandalkan. Pekerjaannya hampir selalu beres, jarang mengeluh, dan nyaris tak pernah menolak.
Sekilas, kondisi ini terdengar seperti pujian. Namun dalam jangka panjang, workload gravity justru bisa menjadi sumber kelelahan, ketimpangan kerja, hingga burnout.
Fenomena workload gravity umumnya tidak muncul karena niat buruk. Sebaliknya, kondisi ini sering lahir dari kebiasaan dan sistem kerja yang berjalan tanpa disadari.
Orang yang dikenal kompeten dan konsisten biasanya menjadi pihak yang paling sering menerima tanggung jawab tambahan. Hasil kerja yang rapi, cepat, dan minim revisi membuat mereka lebih dipercaya. Setiap ada tugas mendesak atau berisiko, nama merekalah yang pertama terlintas. Lama-kelamaan, kepercayaan tersebut berubah menjadi ekspektasi tetap yang dianggap wajar.
Selain itu, budaya kerja yang menjunjung sikap siap sedia juga berperan besar. Kemampuan menolak tugas kerap dipersepsikan sebagai kurang kooperatif. Akibatnya, mereka yang hampir selalu berkata “bisa” dianggap selalu tersedia, meskipun beban kerja sebenarnya sudah menumpuk dan melewati kapasitas.
Sistem distribusi kerja yang tidak seimbang turut memperkuat workload gravity. Di banyak tempat kerja, pembagian tugas lebih sering didasarkan pada siapa yang paling cepat menyelesaikan pekerjaan, bukan pada kapasitas aktual atau beban yang sedang ditanggung. Tanpa evaluasi rutin, pola ini terus berulang dan membuat beban kerja terkonsentrasi pada individu yang sama.
Workload gravity bukan sekadar soal lelah. Dampaknya bisa jauh lebih serius. Kelelahan kronis dapat menurunkan produktivitas, motivasi kerja perlahan menghilang, dan rasa tidak adil mulai tumbuh. Dalam beberapa kasus, hal ini memicu silent resentment terhadap tim atau atasan.
Ironisnya, orang yang paling bisa diandalkan justru jarang terlihat bermasalah. Mereka tetap menyelesaikan tugas dengan baik, sehingga kelelahan yang dialami kerap luput dari perhatian. Dalam jangka panjang, bukan tidak mungkin orang-orang inilah yang justru paling ingin pergi.
Menghadapi workload gravity tidak harus dilakukan dengan cara konfrontatif atau defensif. Pendekatan yang lebih strategis justru membantu menjaga hubungan kerja tetap sehat sekaligus melindungi kapasitas diri dalam jangka panjang.
Langkah pertama dimulai dari kesadaran diri. Menjadi sosok yang bisa diandalkan bukan berarti harus selalu menanggung seluruh beban. Mengenali batas kemampuan, energi, dan waktu adalah bentuk profesionalisme, bukan tanda kelemahan. Tanpa kesadaran ini, seseorang mudah terjebak dalam pola menerima semua tugas tanpa mempertimbangkan dampaknya.
Kemampuan menolak tugas juga perlu dilatih dengan cara yang tepat. Penolakan tidak harus terdengar keras atau tidak kooperatif. Menyampaikan kondisi secara rasional, seperti kebutuhan penyesuaian timeline atau pemindahan prioritas, dapat membuka ruang diskusi yang lebih sehat dan solutif.
Selain itu, penting untuk membuat beban kerja terlihat. Tidak semua orang, termasuk atasan, benar-benar mengetahui seberapa penuh kapasitas seseorang. Dengan menyampaikan daftar prioritas dan workload secara terbuka, pembagian tugas dapat dievaluasi secara lebih objektif dan adil.
Pada akhirnya, mengatasi workload gravity bukan tentang mengurangi kontribusi, melainkan memastikan beban kerja terbagi secara berkelanjutan. Dengan komunikasi yang jelas dan kesadaran akan batas diri, peran sebagai orang yang bisa diandalkan tetap terjaga tanpa harus mengorbankan kesehatan dan keseimbangan hidup. [nadira]