lifestyleRelationship

Apa Itu Monkey-Barring? Ini Penjelasan hingga Penyebab dari Istilah Kencan Terbaru yang Toxic

Penulis Rahma K
Aug 31, 2025
Ilustrasi pasangan yang melakukan monkey-barring. (Foto: Freepik/garetsvisual)
Ilustrasi pasangan yang melakukan monkey-barring. (Foto: Freepik/garetsvisual)

ThePhrase.id – Di era kekinian, generasi muda gemar memberikan label terhadap berbagai hal. Tak terkecuali dalam dunia kencan yang mana istilah baru terus bermunculan untuk mendeskripsikan berbagai perlakuan dalam hubungan. Yang terbaru dan banyak diperbincangkan di media sosial saat ini adalah monkey-barring.

Melansir Cosmopolitan, monkey-barring adalah istilah yang digunakan untuk seseorang yang tak bisa melepaskan satu hubungan sebelum memulai hubungan berikutnya. Orang yang mempraktikkan monkey-barring masih mempertahankan hubungan mereka sambil secara aktif mencari orang yang baru.

Nama monkey-barring diambil karena orang yang melakukannya diibaratkan seekor monyet yang bergelantungan di antara dua palang, masih menggenggam palang sebelumnya, tetapi telah memegang palang berikutnya.

"Bayangkan seperti bergelantungan di antara dua palang, (orang yang melakukan monkey-barring) masih menggenggam erat pasangan saat ini, sementara sudah berusaha meraih seseorang yang baru," jelas Sabrina Bendory, pakar hubungan dari dating.com, dikutip dari Cosmopolitan.

Apa Itu Monkey Barring  Ini Penjelasan hingga Penyebab dari Istilah Kencan Terbaru yang Toxic
Ilustrasi monyet bergelantungan. (Foto: Pexels/Osmany Mederos)

Dengan penjelasan ini, maka dapat dikatakan orang yang melakukan monkey-barring adalah mereka yang selalu menjalin sebuah hubungan. Umumnya bukan hubungan yang panjang, tetapi hubungan pendek dengan pasangan yang terus berganti.

Para ahli dunia kencan menyebut monkey-barring adalah sebuah fenomena yang tanpa disadari, umum dilakukan banyak orang. Bukan hanya di zaman ini, tetapi sejak lama. Hanya saja, istilah ini baru ramai digunakan sekarang.

Mengapa orang melakukan monkey-barring?

Seperti alasan orang-orang melakukan berbagai hal lainnya, tak terkecuali orang-orang yang melakukan monkey-barring juga memiliki alasan yang subjektif. Secara spesifik, orang melakukan hal ini tentu karena keadaan yang berbeda-beda.

Tetapi, secara umum, monkey-barring dilakukan karena rasa takut sendirian. Dilansir dari Vice, Angelika Koch, seorang pakar hubungan dari Taimi mengatakan orang-orang yang melakukan hal ini seringkali kurang berkembang secara emosional. Mereka menjalani hidup dengan rasa takut untuk menghindari kerja keras yang diperlukan untuk menyembuhkan luka lama di hubungan masa lalu.

Alih-alih menghadapi ketidaknyamanan dari luka lama sendirian, mereka lebih memilih untuk menggunakan hubungan baru sebagai 'jaring pengaman' emosional. Mereka juga kecanduan validasi dan distraksi eksternal yang didapat dari sebuah hubungan baru.

Apa Itu Monkey Barring  Ini Penjelasan hingga Penyebab dari Istilah Kencan Terbaru yang Toxic
Ilustrasi pasangan bertengkar. (Foto: Pexels/RDNE Stock project)

Ketidakterampilan dalam meregulasi emosional ini juga didukung oleh faktor lain yang menyebabkan orang-orang melakukan monkey-barring, seperti kurangnya kemampuan berkomunikasi. Maka dari itu, mereka takut akan penolakan dan takut akan hal-hal yang tidak diketahui.

"Bahkan, jika di hubungan mereka saat ini tidak baik, mereka akan mempertahankannya sampai ada 'pilihan berikutnya' yang pasti. Rasanya lebih aman daripada menghadapi kehancuran akibat putus cinta," tutur Sabrina Bendory.

Fenomena monkey-barring yang disebut toxic ini juga dapat membawa dampak yang cukup besar pada kualitas hubungan. Bagi pasangan yang ditinggalkan, sering kali muncul rasa dikhianati dan kebingungan, karena ternyata kehadiran mereka hanya dijadikan "pegangan sementara". Sementara bagi pelakunya, kebiasaan ini membuat mereka sulit benar-benar belajar dari pengalaman masa lalu.

Pola monkey-barring juga membuat seseorang terus mengulang siklus yang sama: berpindah dari satu hubungan ke hubungan lain tanpa memberi ruang untuk refleksi diri. Akibatnya, luka lama kerap terbawa ke hubungan berikutnya, sehingga sulit membangun koneksi yang sehat dan tulus.

Karena itu, memahami fenomena ini penting agar setiap orang lebih sadar akan pola hubungannya sendiri. Dengan begitu, kita bisa lebih berhati-hati dalam menjalin relasi dan tidak terjebak dalam kebiasaan yang justru merugikan diri sendiri maupun pasangan. [rk]

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic