lifestyle

Apa Itu Peter Pan Syndrome? Fenomena Orang Dewasa yang Tak Siap Memikul Tanggung Jawab

Penulis Rahma K
Jan 31, 2026
Ilustrasi karakter Peter Pan. (Foto: Pixabay/Lalelu2000)
Ilustrasi karakter Peter Pan. (Foto: Pixabay/Lalelu2000)

ThePhrase.id – Proses menjadi dewasa memang tidaklah mudah, dengan banyaknya tanggung jawab dan juga perubahan dalam kehidupan yang harus dihadapi. Karena itu, tak semua orang yang telah dewasa ternyata mengalami pendewasaan diri. Orang-orang yang gagal dalam melakukan tanggung jawabnya sebagai orang dewasa disebut memiliki Peter Pan syndrome.

Peter Pan syndrome adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan orang dewasa yang tidak bersikap dan berperilaku seperti orang dewasa seusianya. Orang-orang yang masuk dalam sindrom ini menolak melakukan tanggung jawab dewasa, tidak mampu melakukan komitmen jangka panjang, hingga bergantung secara emosional dan finansial pada orang lain, umumnya orang tua.

Seperti namanya, istilah ini berasal dari sebuah karakter fiksi ikonik bernama Peter Pan yang digambarkan sebagai remaja laki-laki nakal yang bisa terbang dan menolak untuk tumbuh dewasa. Ia menghabiskan waktunya untuk berpetualang di Neverland, berinteraksi dengan peri, putri duyung, hingga bajak laut.

Karena didasarkan dari karakter ini, pada awalnya Peter Pan syndrome diasosiasikan dengan gender laki-laki. Namun, seiring perkembangan zaman, sindrom ini tidak terbatas pada gender dan dapat ditemukan baik pada laki-laki maupun perempuan.

Istilah ini pertama kali menjadi populer dan digunakan secara luas oleh publik dan di bidang psikologi setelah disebut dan dijelaskan pada sebuah buku berjudul "The Peter Pan Syndrome: Men Who Have Never Grown Up" (1983) yang ditulis oleh psikoanalis Dr. Dan Kiley.

Dr. Dan Kiley mendapatkan ide untuk menulis sindrom Peter Pan setelah memperhatikan bahwa banyak dari pasien yang ia rawat memiliki kemiripan dengan karakter Peter Pan. Mereka mengalami kesulitan tumbuh dewasa dan melakukan tanggung jawab, sebuah permasalahan yang berlanjut hingga mereka dewasa.

Dalam bukunya yang berjudul "Men Who Never Grow Up" (1997), ia mendeskripsikan ciri-ciri orang dengan Peter Pan syndrome, yakni memiliki emosi yang tumpul, apatis, sulit membentuk dan mempertahankan hubungan, takut akan komitmen, menghindari peran dan tanggung jawab seperti mengejar karier dan mengelola keuangan, dan masih banyak lagi.

Apa Itu Peter Pan Syndrome  Fenomena Orang Dewasa yang Tak Siap Memikul Tanggung Jawab
Ilustrasi orang yang hanya ingin bermain dan meninggalkan tanggung jawab. (Foto: Freepik)

Dari ciri-ciri di atas, orang dengan sindrom Peter Pan bisa juga dideskripsikan sebagai orang dewasa yang hanya ingin bersenang-senang dan lebih suka hidup di momen saat ini.

Soal penyebabnya, berbagai sumber menyebut bahwa salah satu faktor pendorong munculnya Peter Pan syndrome pada seseorang adalah karena pola asuh orang tua yang permisif atau mudah memberi izin dan protektif. Selain itu, pengalaman masa kecil dari keluarga atau orang-orang terdekat seperti kehilangan orang tua atau pengalaman pelecehan dapat membuat seseorang enggan untuk menghadapi dunia orang dewasa.

Faktor psikologis seperti anxiety atau kecemasan dan juga depresi dapat mendorong seseorang untuk mengalami hambatan dalam berperilaku dewasa seperti bertanggung jawab dan menghadapi berbagai permasalahan.

Apabila terus berjalan, sindrom Peter Pan dapat berdampak secara signifikan baik bagi pengidapnya maupun bagi orang-orang di sekitarnya. Karier yang tidak stabil, hubungan interpersonal yang terganggu akibat ketidakmampuan dalam berkomitmen, keuangan yang tidak sehat secara jangka panjang, hingga kesehatan mental yang terganggu adalah beberapa di antaranya.

Namun, karena bukan merupakan diagnosis medis klinis, dan juga Peter Pan syndrome bukanlah sindrom yang diakui oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), maka tidak ada "pedoman" baku tentang cara menangani Peter Pan syndrome.

Kendati demikian, dilansir dari Halodoc, melakukan terapi psikologis seperti terapi perilaku kognitif (CBT) atau terapi psikodinamik dikatakan dapat menjadi cara untuk menanganinya. Terapi ini dapat membantu individu dalam mengidentifikasi dan mengubah pola pikir serta perilaku yang tidak sehat, mengembangkan keterampilan mengatasi masalah, meningkatkan kepercayaan diri, hingga membangun hubungan yang lebih sehat. [rk]

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic