
ThePhrase.id – Tak sedikit masyarakat Indonesia yang memilih untuk berpindah kewarganegaraan setelah menetap di negara perantauan selama bertahun-tahun. Namun, tidak dengan Sastia Prama Putri. Sosoknya tengah ramai dikagumi publik karena perjalanan inspiratifnya sebagai ilmuwan yang telah menetap selama lebih dari dua dekade di Jepang, tetapi tetap memilih untuk menjadi Warga Negara Indonesia.
Lewat sebuah unggahan di akun Instagramnya, Sastia membagikan bahwa dirinya masih bangga memegang paspor Indonesia dan tak lelah mencintai Indonesia, meskipun telah tinggal selama 21 tahun di Jepang dan berkeluarga di Negeri Sakura tersebut.
Bukan hanya sekadar menetap di Jepang, Sastia juga berkiprah sebagai akademisi dan ilmuwan yang mengangkat nama Indonesia. Ia membantu tempe mendunia lewat inovasinya, meningkatkan ekspor komoditas prioritas Indonesia ke Jepang, hingga mendidik puluhan mahasiswa Indonesia yang sudah dan akan kembali ke tanah air.
Usut punya usut, Sastia merupakan sosok yang dikenal luas di dunia akademik. Ia merupakan salah satu ilmuwan berprestasi asal Indonesia yang pencapaiannya telah diakui di kancah global. Salah satu pencapaian gemilangnya adalah menjadi ilmuwan perempuan asal Indonesia pertama yang meraih penghargaan Ando Momofuku Award.
Diketahui, Ando Momofuku Award adalah sebuah penghargaan bergengsi dari Jepang yang diberikan pada individu yang dianggap memberikan kontribusi luar biasa di bidang akademik, kepemimpinan, maupun inovasi pangan.
Sastia sendiri dianggap patut mendapatkan penghargaan ini berkat penelitian kolaborasinya dengan Harvard Medical School atas penemuan baru senyawa aktif dalam tempe yang dapat menurunkan kolesterol, yaitu meglutol.
Hasil penemuannya ini dinilai dapat diaplikasikan untuk mengembangkan panganan tradisional Jepang, seperti miso dan natto yang dibuat dari bahan dasar yang sama dengan tempe, yakni kedelai, agar menjadi lebih sehat.
Ia direkomendasikan oleh Presiden Osaka University sebagai kandidat penerima penghargaan, dan menerimanya secara langsung dari mantan Perdana Menteri Jepang, Junichiro Koizumi pada 2024 lalu. Sementara itu, untuk klasifikasinya, penghargaan yang diterima masuk dalam kategori Invention Discovery Encouragement Award.
"Mendapatkan penghargaan ini buat aku kayak satu kulminasi dan pengakuan buat diri aku sendiri pada akhirnya aku merasa diterima sebagai bagian dari masyarakat Jepang karena award ini enggak pernah dikasih ke orang asing sebelumnya," bebernya, dikutip dari Antara.
Meskipun telah menerima penghargaan bergengsi dan dedikasinya diapresiasi oleh Jepang, Sastia menyampaikan bahwa pencapaian ini bukanlah tujuan utamanya. Motivasinya dalam melakukan riset adalah agar dapat memberikan manfaat untuk masyarakat luas.

Saat ini, Sastia menyibukkan dirinya sebagai associate professor di Osaka University. Lebih tepatnya, di Departemen Bioteknologi, Fakultas Teknik yang menjadi fokusnya. Di universitas tersebut, ia memimpin grup aplikasi metabolomik untuk bioteknologi mikroba, khususnya untuk produksi biofuel dan produk pangan khas Indonesia.
Sebelum bertolak ke Jepang, Sastia terlebih dahulu menuntaskan pendidikannya di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Biologi dan lulus pada tahun 2004. Setelah lulus, ia mengikuti program UNESCO Postgraduate Inter-University in Biotechnology dari pemerintah Jepang selama satu tahun di Osaka University.
Program ini merupakan research fellowship yang menawarkan pelatihan bagi peneliti muda melakukan riset. Melihat potensi dari Sastia, profesor pembimbing Sastia kemudian menawarkan program beasiswa secara penuh dari pemerintah Jepang untuk melanjutkan studi S2 dan S3 di universitas yang sama.

Tak menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut, ia kemudian mendaftarkan diri dan melanjutkan studi hingga tahun 2010 di Prodi Biotechnology Engineering, Osaka University. Setelah lulus, ia mendapatkan tawaran pembimbingnya untuk menjadi peneliti paruh waktu di bawah naungan Profesor Eiichiro Fukusaki, seorang pionir metabolomik Ilmu Pangan. Hingga saat ini, ia terus menggeluti bidang yang sama dan terus berinovasi.
"Aplikasinya sangat luas untuk bidang life science dan interdisciplinary. Saya senang melakukan riset yang banyak melibatkan disiplin ilmu dan kolaborasi. Lalu teknologi ini sangat berguna untuk memecahkan berbagai masalah di dalam negeri, terutama untuk quality evaluation berbagai komoditi ekspor. Saya berharap keahlian saya bisa berguna untuk memajukan industri di tanah air," ungkapnya, dikutip dari laman resmi ITB.
Meskipun pada awalnya ia tidak memiliki rencana untuk melanjutkan studi hingga S3 dan berkarier sebagai peneliti, tetapi kecerdasannya membawanya melanglang buana hingga meraih kesempatan yang tidak pernah disangkanya dan menjadi perjalanan hidupnya. [rk]