figure

Christopher Jason Santoso, Dalang Muda Berdarah Tionghoa yang Buktikan Seni Wayang Tak Kenal Batas Latar Belakang

Penulis Rahma K
Mar 30, 2026
Penampilan Christopher Jason Santoso saat menjadi dalang pada pagelaran See You Soon 2023 di Tower 2 ITS. (Foto: its.ac.id)
Penampilan Christopher Jason Santoso saat menjadi dalang pada pagelaran See You Soon 2023 di Tower 2 ITS. (Foto: its.ac.id)

ThePhrase.id – Di tengah arus modernisasi yang kian deras, tak banyak anak muda yang berminat untuk menekuni seni tradisional. Berbeda dengan mayoritas, pemuda asal Surabaya yang bernama Christopher Jason Santoso justru tertarik menekuni seni wayang dan bahkan menjadi seorang dalang.

Kisah inspiratifnya dibagikan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), kampus ternama yang menjadi tempatnya menimba ilmu. Namun, seperti yang diketahui, ITS adalah sebuah perguruan tinggi yang berfokus pada bidang sains dan teknologi. Lantas, bagaimana Christopher bisa terjun ke bidang seni wayang?

Usut punya usut, perjalanan Christopher menggeluti seni tradisional ini tidak dimulai dari latar belakang keluarga seni atau tradisi tertentu. Ketertarikannya terhadap dunia wayang justru muncul secara sederhana, yakni dari tugas sekolah saat masih duduk di bangku sekolah dasar. 

Dari sana, rasa penasaran terhadap budaya yang identik dengan warisan tradisional masyarakat Jawa itu muncul. Ia mulai mengenal lebih dalam seni pedalangan, hingga akhirnya memutuskan untuk belajar secara lebih serius di sanggar.

Tanpa disangka, langkah yang ia pilih tersebut tidaklah mudah untuk dijalani. Pemuda kelahiran 26 Agustus 2004 itu menghadapi berbagai tantangan, mulai dari komentar negatif hingga penolakan yang berkaitan dengan kondisi bicaranya yang cadel huruf R dan latar belakangnya yang beretnis Tionghoa.

Pengalaman tersebut sempat membuatnya berhenti dari dunia yang ia sukai. Namun, alih-alih menyerah, ia justru menjadikan fase itu sebagai titik refleksi. Dengan tekad yang lebih kuat, ia kembali belajar secara mandiri. Buku, media sosial, hingga berbagai sumber pembelajaran ia manfaatkan untuk mengasah kemampuannya.

Upaya tersebut perlahan membuahkan hasil. Ia tidak hanya kembali tampil, tetapi juga mampu menghadirkan pendekatan yang lebih luas, termasuk menggunakan lebih dari satu bahasa. Hal ini ia lakukan pada acara See You Soon 2023 di Tower 2 ITS ketika ia membawakan cerita wayang dalam tiga bahasa, yakni Inggris, Jawa, dan Mandarin.

Christopher Jason Santoso  Dalang Muda Berdarah Tionghoa yang Buktikan Seni Wayang Tak Kenal Batas Latar Belakang
Christopher Jason Santoso saat berpartisipasi lewat Smart Ocean Summer School di Tianjin University, China. (Foto: its.ac.id)

Apa yang dilakukan Christopher bukan sekadar mempertahankan tradisi, tetapi juga menghidupkannya kembali dalam konteks yang lebih relevan bagi generasi masa kini. Ia menunjukkan bahwa seni budaya tidak memiliki batasan siapa yang boleh mempelajarinya.

Di luar panggung, semangatnya juga tercermin dalam dunia akademik. Ia aktif mengangkat isu-isu sosial yang dekat dengan pengalamannya, termasuk bagaimana masyarakat memandang perbedaan. Hal ini turut ia tuangkan dalam penelitian yang menjadi bagian dari tugas akhirnya yang berjudul "Pembangunan Inklusi Sosial di Kota Surabaya: Studi Fenomenologi Diskriminasi Interseksionalistik terhadap Penutur dengan Rhotasisme".

Bahkan, salah satu penelitian dari calon wisudawan ITS ke-133 pada April 2026 mendatang dari Program Studi (Prodi) S1 Studi Pembangunan ini telah mengantarkannya menjadi pembicara dalam forum bertaraf dunia, yakni International Symposium on Javanese Culture 2024.

Menariknya, ia juga merambah dunia kewirausahaan dengan membangun usaha di bidang jamu modern bernama Herbits. Langkah ini menunjukkan bahwa kreativitasnya tidak hanya terbatas pada seni, tetapi juga pada inovasi yang memiliki nilai ekonomi.

"Anak muda jarang minum jamu, jadi saya dan tim mengembangkan inovasi Herbits sebagai jamu modern," bebernya, menjelaskan tentang latar belakang startup yang dibangunnya.

Selain aktif dalam bidang seni budaya dan kewirausahawan, Christopher juga merupakan pemuda yang gemar berorganisasi. Ia pernah mewakili ITS dan Indonesia sebagai Champion of ASEAN Future Innovators Challenge di Malaysia, terlibat dalam ajang diskusi internasional seperti Asia Youth Sustainability Forum 2025, Youth Asian-African Legal Consultative Organization (AALCO) 2023, dan Smart Ocean Summer School di Tianjin University, China.

Kisah Christopher menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari situlah seseorang dapat menemukan kekuatan dan arah hidupnya. Ia membuktikan bahwa keberanian untuk tetap melangkah, meski dihadapkan pada perbedaan dan penolakan, dapat membuka jalan menuju pencapaian yang tak terduga. [rk]

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic