
ThePhrase.id – Di tengah bencana yang menimpa sebuah daerah, berbagai bentuk bantuan menjadi pertolongan yang sangat berguna bagi para korban. Tak terkecuali terjun langsung untuk menjadi relawan memasak di dapur umum untuk para pengungsi, seperti yang dilakukan oleh David Caileba.
David Caileba adalah seorang executive chef berkebangsaan Prancis yang tergerak untuk membantu langsung para korban bencana longsor Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, sebagai relawan memasak. Jiwa kemanusiaannya terenyuh melihat saudara-saudara yang tinggal tak jauh dari tempat tinggalnya tertimpa musibah.
David mengaku mendapatkan informasi untuk menjadi relawan dari grup Indonesia Chef Association (ICA). Karena jarak yang tak jauh dari rumahnya, yakni sekitar 33 kilometer, maka ia memutuskan untuk turut membantu memasak di dapur umum pengungsian tersebut.
"Saya dapat info dari grup WhatsApp ICA ada bencana dan butuh relawan ke Cisarua. Jaraknya juga tidak jauh dari rumah saya, sekitar 33 kilometer, jadi saya putuskan datang untuk bantu masak," ungkapnya, dikutip dari Kumparan.
Di luar sekadar karena jarak yang dekat, keinginan David untuk tergabung dalam misi kemanusiaan ini berlatar belakang keinginan yang kuat untuk membantu sesama. Hatinya tak sampai untuk tinggal diam ketika melihat anak-anak yang terdampak, hingga keluarga yang kehilangan tempat tinggal.
"Kita harus ingat, dunia ini hanya sementara dan akhirat selama-lamanya, InsyaAllah. Tapi di dunia, kita harus saling membantu. Ada anak di sini bagaimana kondisinya (jadi korban). Ini semua saudara kita sesama muslim dan saudara kita dalam kemanusiaan," tuturnya, dikutip dari Detik Jabar.
Kendati demikian, ini merupakan kali pertama David terjun langsung menjadi relawan kebencanaan. Koki yang memiliki sepak terjang panjang di dunia kuliner ini sebelumnya belum pernah berkesempatan untuk menjadi relawan, meskipun pernah tergabung dalam berbagai kegiatan sosial.
"Saya baru kali ini jadi relawan. Saya berpengalaman sebagai chef sejak tahun 1998, tapi kalau di dapur itu sudah dari 1991. Kemudian saya di Indonesia ini sudah 16 tahun," bebernya.
Di Indonesia, David pernah bertempat tinggal di Sumatra, Bali, hingga kini menetap di Bandung Barat selama satu tahun terakhir. Maka dari itu, tak heran jika dalam memasak di dapur pengungsian yang berlokasi di halaman SD Negeri Pasirlangu tersebut ia dapat bercengkerama dengan akrab bersama para relawan lain.
Di dapur umum tersebut, David bahu membahu memasak ratusan hingga ribuan paket makanan setiap harinya. Berbagai menu lokal ia masak tanpa lelah demi melihat senyuman para pengungsi yang perutnya terisi. Bahkan, ia juga membuat makanan khas Spanyol seperti tortilla sebagai variasi hidangan.

Namun, ia juga mengatur agar makanan yang dihidangkan adalah makanan yang sehat seperti menghindari penggunaan cabai terlalu banyak karena berpotensi membuat antrean di toilet.
Melihat kekompakan masyarakat dalam membantu satu sama lain di lapangan secara riil membuat David semakin terkesan dengan Indonesia dan budaya gotong royong yang diusung oleh masyarakatnya. Hal ini turut membuat David semakin bersemangat untuk berkontribusi sebagai relawan.
Tak hanya sekadar membantu memasak di dapur, ternyata David juga aktif mencari donasi untuk keperluan dapur. Hal ini diungkapkan oleh Rukanda Koswara, Ketua ICA Bandung Barat, dilansir dari Good News From Indonesia.
Kontribusi nyata David menjadi wujud kepedulian kemanusiaan yang melampaui batas negara dan budaya, menunjukkan bahwa rasa empati dan keinginan untuk membantu sesama dapat menyatukan siapa pun di tengah situasi sulit. Melalui perannya sebagai relawan memasak di dapur umum, David tidak hanya menghadirkan makanan bagi para korban bencana, tetapi juga harapan, kehangatan, dan semangat gotong royong. [rk]