trending

Dihantam Kontroversi akibat Blunder Promosi, Starbucks Korea Tutup 2.000 Gerai Sekaligus

Penulis Rahma K
Jun 18, 2026
Logo Starbucks. (Foto: Pexels/princess)
Logo Starbucks. (Foto: Pexels/princess)

ThePhrase.id – Pertama kali dalam 27 tahun sejak perusahaan pertama beroperasi di tahun 1999, Starbucks Korea Selatan memutuskan untuk menghentikan operasional lebih dari 2.000 gerai pada Senin (22/6) mendatang mulai pukul 15.00 waktu setempat.

Penutupan ini dilakukan untuk menjalankan program edukasi atau pelatihan terkait kesadaran sejarah dan sensitivitas sosial yang wajib diikuti oleh seluruh pegawai Starbucks.

Usut punya usut, langkah pengadaan pelatihan ini dilakukan sebagai buntut dari kasus yang tengah menerpa Starbucks Korea. Diketahui, Starbucks Korea terseret kontroversi pemasaran "5.18 Tank Day" yang dinilai menghina salah satu tragedi besar di Korea Selatan.

Lebih rincinya, promosi Tank Day yang diluncurkan Starbucks Korea pada 18 Mei 2026 menawarkan program diskon untuk seri tumbler bernama "Tank". Tanggal tersebut bertepatan dengan hari peringatan nasional tragedi Gwangju 1980, sebuah peristiwa pembantaian demonstrasi pro-demokrasi yang menewaskan ratusan warga sipil.

Istilah "Tank Day" dan tanggal yang dipilih untuk peluncuran pemasaran ini dinilai tidak sensitif terhadap tragedi tersebut. Terlebih lagi, promosi oleh Starbucks Korea itu juga menggunakan slogan "gebrak meja", yang memiliki konotasi sensitif yang berhubungan dengan klaim palsu pihak kepolisian terhadap kematian aktivis mahasiswa bernama Park Jong-chul pada tahun 1987 lalu.

Karena itu, masyarakat Korea ramai-ramai memboikot Starbucks hingga melakukan aksi merusak produk-produk merchandise brand kopi tersebut sebagai bentuk protes. Berbagai lembaga pemerintah juga mengambil langkah memutus kerja sama dengan Starbucks.

Sebagai respons dari Starbucks, promosi "Tank Day" ditarik dalam hitungan jam dan direktur utama perusahaan diberhentikan pada hari yang sama.

Kendati demikian, dilansir dari CNBC, lembaga riset data pasar IGAWorks memaparkan bahwa kecerobohan promosi ini menyebabkan volume pembayaran sempat anjlok 26 persen pada pekan pertama setelah skandal promosi mencuat.

Meski di awal Juni sempat terdeteksi tanda pemulihan sebesar 12,8 persen, angka transaksi masih berada 25 persen di bawah level normal sebelum krisis terjadi.

Terlebih lagi, penutupan 2.000 gerai pada tanggal 22 Juni mendatang juga diprediksi akan berpotensi menyebabkan kerugian penjualan hingga 2,1 miliar won atau sekitar 1,4 juta dolar AS, setara dengan Rp24,9 miliar.

Hasil investigasi internal mengungkapkan bahwa tim pemasaran menggunakan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk mendapatkan usulan slogan. Promosi ini pada akhirnya bisa lolos hingga terpublikasi, diduga karena kelalaian pengawasan dari beberapa manajer senior yang menyetujui kampanye tanpa membuka lampiran yang memuat materi promosi secara lengkap.

Walaupun perusahaan menyatakan tidak menemukan unsur kesengajaan dalam kontroversi ini, pihak kepolisian diketahui melakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap kasus ini. Bahkan, Kepolisian Seoul telah menetapkan Chung Yong-jin, ketua Shinsegae Group, pemegang lisensi resmi Starbucks Korea, serta mantan direktur utama Starbucks Korea sebagai tersangka. [rk]

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic