lifestyle

Emotional Spending, Kebiasaan Belanja Berbasis Emosi yang Menggerus Keuangan

Penulis Rahma K
Jan 03, 2026
Ilustrasi online shopping. (Foto: Freepik)
Ilustrasi online shopping. (Foto: Freepik)

ThePhrase.id – Apakah kamu pernah merasakan keinginan kuat untuk berbelanja ketika tengah merasa stres, sedih, senang, atau marah? Tanpa pikir panjang, kamu langsung check out barang yang ada di keranjang e-commerce kesayangan.

Fenomena ini disebut dengan istilah emotional spending, kebiasaan berbelanja yang didorong oleh emosi yang sedang dirasakan pada saat itu. Tak hanya di Indonesia, emotional spending juga marak terjadi di berbagai belahan dunia lainnya, terutama dengan kemudahan belanja online dan promo yang menjadi pemicu tambahan.

Emotional spending sering muncul saat emosi memuncak. Misalnya, stres kerja atau hubungan yang bermasalah mendorong orang untuk berbelanja demi merasa lega sementara, meski sering berujung penyesalan. 

Hal yang membuat emotional spending cukup berbahaya adalah sifatnya yang sering terjadi tanpa disadari. Selain itu, rasa penyesalan juga kerap kali timbul setelah kondisi emosional kembali stabil, terlebih apabila barang yang dibeli tak benar-benar dibutuhkan.

Terdengar sepele, karena apabila dilakukan hanya satu atau dua kali dengan barang-barang yang murah, hal ini bisa menjadi bentuk self-reward. Tetapi, apabila emotional spending dilakukan berkali-kali setiap kali perasaan yang tak tertahankan muncul, maka dampaknya dapat berakibat buruk bagi keuangan.

Bagi orang-orang yang kurang bertanggung jawab secara finansial dengan sering melakukan emotional spending, atau membeli barang yang harganya tinggi, fenomena ini dapat membuat tabungan terkuras dengan cepat.

Bahkan, utang menumpuk juga bisa menjadi dampak yang parah bagi orang-orang yang menggunakan kartu kredit atau paylater. Alih-alih memberikan kesejahteraan mental, tentunya memiliki utang justru dapat membuat masalah baru yang menambah beban hidup.

Lebih buruknya lagi, emotional spending dapat menciptakan sebuah siklus negatif, di mana stres memicu belanja, belanja memicu penyesalan, lalu penyesalan itu kembali memicu stres, dan terus berulang.

Tetapi jangan khawatir, emotional spending bisa diatasi apabila ada keinginan yang kuat untuk berubah. Pertama, carilah pengganti kegiatan belanja apabila emosi-emosi seperti di atas kembali menghampiri. Kamu dapat menggantinya dengan menulis jurnal, berolahraga ringan, atau sekadar jalan-jalan keluar ruangan.

Selain itu, menyusun anggaran bulanan yang realistis juga bisa menjadi sebuah solusi yang menahan diri untuk mengeluarkan uang di luar anggaran tersebut. Kamu juga bisa meminta bantuan teknologi finansial untuk melacak keuangan, seperti pengeluaran, pemasukan, target menabung, hingga pengeluaran belanja.

Pada akhirnya, memahami bahwa belanja bukan solusi jangka panjang untuk masalah emosional adalah langkah penting. Dengan kesadaran dan strategi yang tepat, emotional spending bisa dikurangi sehingga kesehatan finansial dan mental tetap terjaga. [rk]

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic