
ThePhrase.id – MasterChef Indonesia Season 13 usai digelar. Stephanie Meyerson atau yang lebih akrab dikenal dengan Stephanie berhasil keluar sebagai pemenangnya, mengalahkan puluhan peserta lainnya, termasuk Monica Bunga Tania Wibowo yang menjadi lawannya di babak grand final.
Pada babak akhir yang tayang selama dua hari, yakni Sabtu (14/3) dan Minggu (15/3), Stephanie bertarung ketat melawan Bunga dengan hasil skor di tiap ronde yang berubah-ubah. Usai ketegangan yang membuat penonton berdebar, chef asal Pontianak, Kalimantan Barat, ini akhirnya berhasil meraih skor akhir yang lebih unggul dari Bunga dan dikukuhkan sebagai pemenangnya.
Tercatat, pada ronde satu, dua, dan tiga, Bunga memimpin skor dengan raihan 1.683 poin, sedangkan Stephanie harus puas dengan skor 1.668 di belakangnya. Namun, di ronde penentuan, yakni ronde empat, Stephanie memberikan hidangan terbaiknya yang dinilai juri lebih unggul dari masakan Bunga.
Raihan 748 poin di ronde keempat membuat skor akhir Stephanie menjadi 2.416. Sedangkan Bunga yang hanya mendapatkan poin 729 di ronde keempat harus menelan kekalahan dengan skor akhir 2.412, hanya selisih empat poin dari Stephanie.

Bagi Stephanie, kemenangan ini menjadi sebuah pencapaian yang membanggakan. Ia mengatakan bahwa kesuksesannya di MasterChef adalah achievement terbesar bagi dirinya selama 30 tahun hidup.
"Perasaanku sangat bangga dengan diriku sendiri, karena bagiku ini adalah satu achievement terbesarku selama aku 30 tahun hidup. I couldn't be more proud of myself," ungkap Stephanie, dikutip dari iNews.
Lebih lanjut, ibu satu anak ini juga mengungkapkan bahwa dirinya tak menyangka bisa menjadi juara, mengingat musim ke-13 ini adalah kompetisi yang ketat, serta diikuti oleh peserta-peserta yang kompeten.
"Jujur aku nggak nyangka banget bisa jadi pemenangnya. Banyak kontestan yang sangat-sangat strong, seperti Jonathan dan Rizky. Tapi di grand final akhirnya tinggal aku dan Bunga, dan itu already a great achievement buat aku," bebernya.

Sementara itu di akun Instagram pribadinya, Stephanie mendedikasikan kemenangan ini untuk kota asalnya, yakni Pontianak. Ia juga mengungkapkan bahwa kemenangan ini terasa tak nyata, setelah berbagai rintangan seperti malam tanpa tidur, keraguan, dan air mata yang ia lewati sepanjang kompetisi. Terakhir, Stephanie mengucapkan terima kasih atas doa, dukungan, dan juga cinta yang diterimanya.
"Untuk kampung halamanku, tempat yang membesarkan dan membentukku. INI UNTUK PONTIANAK. Momen ini masih terasa tak nyata. Semua malam tanpa tidur, keraguan, air mata, doa, semuanya mengarah ke sini. Terima kasih untuk semua doa, dukungan, dan cinta dari kalian semua. Aku membawa nama kalian, harapan kalian, dan keyakinan kalian bersamaku di panggung itu. Kita berhasil," tulisnya.
Diketahui, Stephanie menitikberatkan kemenangan ini pada kampung halamannya karena ia merupakan satu-satunya peserta perempuan asal Pontianak yang mampu menembus Gallery MasterChef Indonesia ke-13. Kemenangan ini juga membuatnya mencatatkan sejarah baru sebagai orang Pontianak pertama yang berhasil menjuarai ajang MasterChef Indonesia.

Selain itu, fakta unik dari Stephanie adalah profesinya sebelum mengikuti ajang MasterChef Indonesia ini bukan berkutat di bidang kuliner, melainkan di bidang kecantikan. Ia adalah seorang Permanent Makeup (PMU) Artist Professional dan juga pemilik dari studio kecantikan yang bernama Beauty Maison.
Latar belakang ini mungkin terdengar tak berkorelasi dengan dunia tata boga, tetapi ternyata skill yang dimilikinya dari bidang kecantikan tersebut justru membentuknya menjadi pribadi yang disiplin dan teliti, termasuk dalam memasak.
Ia juga dikenal sebagai chef yang rapi, terkonsep, dan visual-driven, sehingga berbagai hidangan yang disajikannya kerap tampil estetis, tetapi dengan rasa yang juga tak kalah bersaing. Hal ini terlihat dari konsistensi penampilan dirinya dari babak awal hingga babak akhir.
Sepanjang kompetisi musim ke-13 ini, Stephanie berhasil memenangkan satu tantangan individu dan empat tantangan tim. Meski di beberapa episode terakhir ia sempat jatuh di posisi terbawah, Stephanie mampu bangkit dan memutarbalikkan meja di detik-detik final kompetisi. [rk]