
ThePhrase.id - Indonesia menjadi salah satu negara dengan alokasi belanja pendidikan yang cukup rendah, yakni hanya mencapai 1,3 persen dari produk domestik bruto (PDB) berdasarkan data UNESCO Institute for Statistics melalui Our World in Data per Kamis (16/7).
Padahal, sekitar 40,2 persen penduduk Indonesia berusia 24 tahun ke bawah, sehingga kebutuhan terhadap layanan pendidikan masih tergolong tinggi.
Angka tersebut masih berada di bawah sejumlah negara tetangga di kawasan Asia Tenggara seperti Vietnam, Tailan, dan Singapura.
Bahkan, dalam daftar 40 negara dengan ekonomi terbesar dunia menurut Worldometers, angka tersebut menempatkan Indonesia di peringkat terendah.
Sementara itu, Swedia menjadi negara dengan pengeluaran pendidikan terbesar terhadap PDB, diikuti Denmark, Belgia, dan Afrika Selatan dalam kategori tersebut.
Dilansir CNBC Indonesia, jika cakupan data diperluas ke seluruh dunia, negara-negara kepulauan kecil mendominasi daftar teratas.
Kiribati mencatat pengeluaran pendidikan sebesar 16,4 persen dari PDB, diikuti Tuvalu 12,9 persen dan Mikronesia 11,6 persen. Namibia dan Aljazair juga masuk dalam lima besar dengan masing-masing 9,1 persen dan 9,0 persen.
Hal tersebut menunjukkan bahwa besarnya anggaran pendidikan tidak hanya dimiliki oleh negara-negara dengan ekonomi maju, tetapi juga dapat menjadi prioritas bagi negara dengan skala ekonomi yang lebih kecil.
Menurut OECD, besarnya anggaran pendidikan dipengaruhi oleh prioritas pemerintah, kondisi demografi, dan kapasitas fiskal. Negara dengan populasi usia muda umumnya membutuhkan investasi pendidikan lebih besar.
Namun, Bank Dunia menegaskan bahwa besarnya anggaran saja tidak menjamin kualitas pendidikan. Efektivitas penggunaan dana, kualitas guru, tata kelola, dan akuntabilitas tetap menjadi faktor penting dalam meningkatkan hasil pembelajaran. (Rangga)