
Thephrase.id - Como 1907 menuntaskan salah satu perjalanan paling mengejutkan dalam sepak bola Eropa setelah memastikan tempat di Liga Champions 2026-2027 hanya beberapa tahun setelah masih bermain di Serie D atau kasta keempat Liga Italia.
Transformasi luar biasa itu dimulai sejak musim 2018-2019 ketika Como perlahan bangkit dari kompetisi level bawah hingga akhirnya mampu menembus papan atas sepak bola Italia melalui proyek ambisius yang mendapat sorotan internasional setelah diambil alih oleh Djarum Group.
Kehadiran nama-nama besar seperti Cesc Fàbregas dan Thierry Henry di dalam proyek klub membuat Como semakin mendapat perhatian luas, terlebih setelah mereka terus menunjukkan perkembangan konsisten dari musim ke musim.
Fabregas sebelumnya sudah mencatat sejarah ketika membawa Como promosi dari Serie B dua tahun lalu, tetapi pencapaian itu kini terasa jauh lebih besar setelah klub tersebut melaju ke Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka.
Kepastian itu didapat setelah Como meraih kemenangan 4-1 atas US Cremonese dalam laga tandang yang sekaligus membuat lawannya terdegradasi, sementara hasil pertandingan lain menguntungkan mereka dalam perebutan tiket kompetisi elite Eropa tersebut.
"Sepanjang hidup saya, bahkan ketika melakukan pergantian pemain, saya selalu punya firasat terhadap sesuatu, dan saya merasakan sehari sebelum melawan Parma bahwa dengan dua kemenangan kami akan berada di Liga Champions," tegas Fabregas dilansir DAZN.
"Saya menunjukkan video seorang pembalap sepeda kepada para pemain yang berada di posisi keenam, tetapi dia terus mengayuh pada sprint terakhir dan akhirnya memenangkan balapan, dan itulah yang kami lakukan musim ini," bebernya.
"Kami sempat mengalami beberapa hambatan, dua kekalahan, dan hasil imbang melawan Udinese, jadi kami tahu harus meraih rangkaian kemenangan, tetapi perasaannya selalu bahwa kami masih berada dalam persaingan," lanjutnya.
Meski Como membutuhkan hasil dari pertandingan lain demi memastikan tiket Liga Champions, Fabregas mengaku sama sekali tidak meminta informasi mengenai perkembangan laga di San Siro maupun Stadio Bentegodi karena fokus penuh kepada timnya sepanjang pertandingan berlangsung.
"Ini berada di posisi teratas dalam karier saya karena cara kami meraihnya, sebab skuad ini dipenuhi pemain muda dan kami memiliki 15 pemain yang semuanya berusia di bawah 23 tahun sehingga ini adalah mahakarya seluruh tim, mereka mendengarkan, selalu ingin berkembang, dan meningkatkan level di momen yang tepat," ucapnya.
"Saya hanya bisa memberikan penghormatan kepada para pemain ini karena kami para pelatih hanya mencoba mendorong mereka, memberikan pilihan, memberi tahu di mana ruang berada, tetapi merekalah yang melakukannya di lapangan, dan saya sangat bahagia untuk masyarakat Como karena mereka pantas mendapatkan kebahagiaan ini," tambahnya.
Fabregas juga mengaku perjalanan singkatnya sebagai pelatih telah memberinya pengalaman besar, terutama karena ia harus mengambil banyak keputusan penting dalam waktu yang relatif cepat sejak memulai karier kepelatihan di Como.
"Ini baru dua setengah tahun saya menjadi pelatih, jadi terima kasih kepada staf atas cara mereka mendorong dan menginspirasi saya serta memahami saya, karena saya sadar terkadang sulit diajak bekerja sama, tetapi beginilah hidup saya, selalu mencoba melakukan lebih banyak hal," ungkapnya.
"Saya berkembang sangat banyak dalam pengalaman ini dan rasanya seperti pergi ke universitas sepak bola setiap hari karena saya harus membuat begitu banyak keputusan, sehingga ketika suatu hari nanti saya pergi dari sini, saya akan menjadi pelatih yang jauh lebih matang," paparnya.
Dalam beberapa bulan terakhir nama Fabregas memang terus dikaitkan dengan sejumlah klub besar Eropa, tetapi pelatih asal Spanyol itu menegaskan dirinya belum memiliki keinginan untuk terburu-buru meninggalkan Como meski reputasinya terus meningkat.
"Saya sangat bahagia di sini, jadi memang benar waktu adalah hal penting, tetapi saya sangat menikmati apa yang sedang kami bangun di tempat ini,"kata Fabregas.
"Kita semua selalu ingin lebih, bukan, tetapi hidup masih panjang dan saya baru berusia 39 tahun beberapa minggu lalu, seperti yang dikatakan Jose Mourinho, masih ada perjalanan panjang sampai usia 80 tahun sehingga itu berarti masih ada 40 tahun untuk bekerja," tuturnya.
"Anda tidak boleh terburu-buru dalam pekerjaan, Anda harus bersabar dan terus belajar, lalu suatu hari ketika merasa siap, mungkin Anda akan mengambil langkah berikutnya, tetapi yang jelas saat ini Como-lah yang sudah berhasil mengambil langkah besar karena mereka kini berada di Liga Champions," tutup Fabregas.