
ThePhrase.id – Bagi banyak orang, lulus dari universitas ternama di dalam dan luar negeri merupakan pintu menuju karier global. Namun tidak demikian bagi Hapu Ammah, yang akrab disapa Endy. Setelah meraih gelar sarjana dan magister, ia justru kembali ke Sumba, kampung halaman tempatnya ia lahir dan tumbuh dalam keterbatasan.
Keputusan itu bukan tanpa sebab. Endy datang dari keluarga sederhana, telah kehilangan ayah sejak kecil. Ia dibesarkan oleh ibu yang kondisi ekonominya bergantung pada hasil kebun dan peliharaan ayam. Tumbuh dalam kekurangan ekonomi membuatnya berjuang keras untuk mengenyam pendidikan.
Saat itu, ia yakin bahwa satu-satunya cara untuk mengubah kondisi hidupnya adalah dengan bersekolah. Kendati ia harus berpisah dengan keluarga dan merantau sekalipun. Pasalnya, di tempat tinggalnya tidak ada SMP maupun SMA.
Selepas SD, Endy harus meninggalkan rumah dan menumpang tinggal di rumah keluarga lain untuk melanjutkan pendidikan SMP dan SMA. Kebingungan kembali melanda setelah lulus SMA karena kala itu, tidak ada universitas di Sumba. Satu-satunya sekolah adalah sekolah keperawatan.

Meski awalnya ingin menjadi guru, Endy memantapkan diri untuk bersekolah di Akademi Keperawatan Waingapu agar tidak putus pendidikan. Setelah merampungkan pendidikan, ia bergabung dengan Sumba Foundation, sebuah organisasi yang memberikan pelayanan kesehatan masyarakat sekitar, termasuk pengendalian malaria.
Selama lebih dari satu dekade bekerja di layanan pengendalian malaria, hampir setiap hari ia berhadapan dengan kasus baru. Tercatat, Sumba merupakan penyumbang kasus malaria tertinggi kedua di Indonesia setelah Papua.
Pengalaman dan informasi tersebut membuatnya sadar bahwa masalah kesehatan tidak cukup diselesaikan dari meja periksa. Ia ingin memahami persoalan kesehatan ini secara lebih menyeluruh.

Dengan dukungan dan bantuan dari lingkungan sekitar dan Sumba Foundation, Endy kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas Udayana, Bali, dan lulus pada tahun 2018 dengan gelar Sarjana Keperawatan. Setelah lulus, ia langsung kembali ke Sumba dan mengabdi untuk masyarakat lewat Sumba Foundation.
Meski telah memiliki gelar sarjana, keinginan Endy untuk melanjutkan studi demi mempelajari persoalan kesehatan lebih dalam tetap menyala. Hingga akhirnya ia berjumpa dengan beasiswa LPDP lewat Program Beasiswa Daerah Afirmasi LPDP.
Selama dua tahun, Endy meninggalkan Sumba dan merantau ke Australia untuk menempuh pendidikan di University of Melbourne. Pada Agustus 2025, ia secara resmi menyandang gelar Master of Public Health dan langsung pulang ke Sumba untuk kembali menjalani rutinitasnya sebagai perawat, sekaligus pelatih di Pusat Pelatihan Mikroskopis Malaria.
Baginya, merantau adalah persiapan untuk kembali. Endy tak pernah gagal untuk selalu menepati janjinya untuk kembali dan mengabdi pada Sumba. Ia merasa memiliki tanggung jawab moral sebagai putra daerah dan ingin membuktikan bahwa anak Sumba mampu berdiri di garis depan perubahan.

Di sela-sela kesehariannya menjadi tenaga kesehatan di Sumba Foundation, abdi negara berstatus PNS, dan relawan pendidikan di bidang kesehatan, Endy juga rajin mengajarkan anak-anak desa untuk belajar membaca dan berbahasa Indonesia.
"Saya tahu ketika anak desa menempuh pendidikan yang lebih tinggi, dampaknya tidak hanya berhenti pada dirinya sendiri," ujarnya, dikutip dari laman LPDP, yang juga merupakan kisah hidupnya sendiri.
Kisah hidup Endy merefleksikan ketangguhan, keyakinan bahwa pendidikan mampu mengubah nasib, serta keputusan untuk kembali sebagai wujud pengabdian yang paling tulus. Dari sebuah desa kecil hingga bangku kuliah di Melbourne, kemudian kembali lagi ke Sumba, ia merajut harapan yang tak hanya ia tujukan bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi masa depan generasi berikutnya. [rk]