figure

Kisah Manuel Vong, Anak Penjual Roti di Balik Pengabdian dan Pendidikan di Timor Leste

Penulis Rahma K
Jan 26, 2026
Manuel Vong, Ph.D. (Foto: ugm.ac.id/Firsto)
Manuel Vong, Ph.D. (Foto: ugm.ac.id/Firsto)

ThePhrase.id – Tidak semua orang yang lahir dari keluarga sederhana berkesempatan menuliskan namanya dalam sejarah bangsanya. Manuel Vong adalah salah satunya. Lahir di Timor Leste dari latar belakang keluarga penjual roti, ia tumbuh dengan satu keyakinan: pendidikan adalah jalan pulang untuk memberi makna.

Perjalanan Manuel tidaklah instan. Ia pernah merasakan sulitnya mengejar pendidikan tinggi, beradaptasi di lingkungan baru, dan menghadapi keterbatasan ekonomi. Namun, justru dari proses itulah ketahanan mental dan kepekaan sosialnya terbentuk. 

Saat menempuh studi magister di Universitas Gadjah Mada (UGM), ia tidak hanya mempelajari ilmu administrasi publik, tetapi juga merasakan langsung bagaimana ilmu bisa berpihak pada realitas kehidupan masyarakat.

Sepulangnya ke Timor Leste, Manuel memilih tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Ia membawa pulang pengetahuan, nilai, dan tanggung jawab. Dalam perjalanan kariernya, ia dipercaya mengemban berbagai peran penting, termasuk menjadi Menteri Pariwisata. 

Jabatan itu baginya bukan simbol prestise, melainkan ruang pengabdian. Ia memahami bahwa kebijakan publik hanya berarti jika menyentuh kebutuhan nyata rakyat. Ilmu yang ia peroleh selama studi digunakan untuk memberi dampak di tanah kelahirannya.

Kontribusi Manuel tidak berhenti di ranah pemerintahan. Ia melihat pendidikan sebagai fondasi perubahan jangka panjang. Bersama rekan-rekannya, ia ikut mendirikan Dili Institute of Technology, sebuah institusi yang lahir dengan tujuan yang sama, yaitu memungkinkan masyarakat Timor Leste, terutama para anak mudanya, untuk mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya dan memperkaya pengalaman mereka.

"Kita ingin mempermudah masyarakat dalam proses mencari pekerjaan yang layak dan memiliki profesionalitas sesuai dengan bidangnya," tuturnya, dikutip dari laman resmi UGM.

Sebagai akademisi dan pernah menjabat rektor, Manuel percaya bahwa kampus seharusnya tidak berjarak dengan masyarakat. Pendidikan harus membumi, relevan, dan memberdayakan. Visi itu terus ia pegang hingga kini.

Bagi Manuel, pengalamannya menjadi sumber empati ketika membuat kebijakan. Ia tak lupa bagaimana rasanya berada di posisi yang serba terbatas. Itulah yang mendorongnya untuk terus membuka jalan bagi orang lain, terutama mereka yang mungkin merasa mimpinya terlalu jauh untuk diraih.

"Saat saya mengalami kesulitan, banyak sekali yang membantu saya. Jadi, saya juga ingin membantu orang-orang yang mungkin mengalami kesulitan sama dengan saya, terutama di bidang pendidikan supaya dapat dirasakan oleh seluruh kalangan masyarakat," ujarnya.

Kisah Manuel Vong adalah pengingat bahwa latar belakang tidak menentukan masa depan. Dengan ketekunan, keberanian untuk belajar, dan kemauan untuk mengabdi, perjalanan hidup bisa lebih bermakna. [rk]

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic