
ThePhrase.id – Di tengah keputusasaan atas kehidupan yang hancur di Gaza, Palestina, akibat bom dari Israel, mayoritas masyarakatnya hanya berpikir untuk bertahan hidup: mencari perlindungan, tempat yang aman untuk tinggal, dan mencari makanan. Namun, tidak dengan Omar Hamad, ia bersikeras untuk tidak meninggalkan barang yang sangat berharga baginya, yakni buku.
Dengan kecintaannya yang besar terhadap buku, ilmu pengetahuan, dan perpustakaan, Omar menyelamatkan buku-bukunya dan membawanya berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya saat ia dan keluarganya melarikan diri dari serangan yang terus terjadi.
Dilansir dari The Jordan Times, Omar telah membawa buku-bukunya yang disebut sebagai 'perpustakaan pribadi' sejak hari pertama genosida hingga saat ini. Ia juga mengaku telah mengungsi 12 kali bersama buku-buku tersebut.
Selain itu, ia juga berupaya untuk mengumpulkan buku apapun yang dapat ditemukannya di Gaza. Upayanya termasuk mendatangi perpustakaan yang telah hancur akibat genosida untuk mengambil buku yang masih bisa diselamatkan. Beberapa perpustakaan yang didatanginya adalah seperti Perpustakaan Edward Said di Beit Lahia dan Perpustakaan Universitas Islam Gaza.

Meski berhasil menyelamatkan sejumlah buku, Omar juga menyaksikan peristiwa yang cukup menyayat hatinya. Di Perpustakaan Universitas Islam Gaza, ia melihat banyak orang mengambil sisa-sisa buku yang terbengkalai untuk digunakan sebagai bahan bakar memasak.
"Saya mengambil buku-buku itu untuk menyelamatkannya, sementara orang lain mengambilnya untuk menyalakan api memasak. Saya tidak punya kemampuan untuk mengatakan kepada mereka bahwa buku-buku itu berharga; kata-kata saya tidak akan berarti dibandingkan dengan penderitaan yang mereka alami, tanpa gas atau kayu bakar," tuturnya.
Meski menyakitkan melihat buku yang terbengkalai digunakan sebagai bahan bakar memasak, tetapi ia tak bisa berbuat banyak. Pasalnya, buku-buku tersebut dibakar untuk memasak agar orang-orang tetap bertahan hidup.
"Kelaparan dan penderitaan tidak memberi ruang bagi masyarakat kami untuk peduli pada buku. Bahkan, pada masa paling berat dari kelaparan itu, saya pernah menawarkan perpustakaan tersebut untuk dijual dengan imbalan satu karung tepung," lanjutnya.

Kendati demikian, pemuda yang merupakan seorang penyair dan juga penulis tersebut tak menyerah untuk memperjuangkan buku. Baginya, buku telah menjadi bagian dari jiwanya.
"Kehilangan perpustakaan, sekolah, dan situs-situs budaya sangat memengaruhi saya, karena saya merasa sebagian dari jiwa dan pengetahuan saya ikut terhapus," ungkapnya.
Maka dari itu, ia ingin masyarakat Gaza yang telah terputus dari pendidikan dan membaca untuk bisa kembali berteman dengan buku. Seluruh buku yang telah ia selamatkan dan ia bawa dari satu pengungsian ke pengungsian lainnya menggunakan gerobak keledai tersebut kini ia jadikan sebuah perpustakaan bernama Phoenix Library.
Phoenix Library menjadi perpustakaan publik pertama di Gaza sejak genosida yang berlangsung sejak beberapa tahun yang lalu. Omar bertekad untuk menjaga koleksi buku-buku di perpustakaannya dan juga memperluasnya.

Kini, Phoenix Library memiliki berbagai koleksi buku-buku Islam, novel sastra Rusia, buku pelajaran seperti fisika dan kimia, hingga novel fiksi seperti Harry Potter dan The Lord of the Rings. Ia juga berkeinginan untuk mencetak lebih banyak buku untuk mengisi perpustakaannya.
"Saya berencana menggunakan buku-buku ini dan juga ingin mencetak lebih banyak lagi, termasuk buku untuk anak-anak. Nantinya, juga akan ada bagian khusus untuk seni rupa yang menampilkan karya para seniman Gaza yang melukis selama genosida," bebernya.
Kisah Omar Hamad menunjukkan bahwa di tengah kehancuran dan perjuangan untuk bertahan hidup, masih ada sosok yang berusaha menjaga cahaya pengetahuan tetap menyala. Keteguhannya menyelamatkan buku-buku bukan sekadar tentang menjaga benda, tetapi tentang mempertahankan harapan, ingatan, dan masa depan bagi masyarakat Gaza. [rk]