
ThePhrase.id – Rina Marlina menjadi salah satu sosok atlet berprestasi yang mencuri perhatian publik berkat penampilannya di ASEAN Para Games (APG) 2025 Thailand. Ia sukses meraih medali emas pada nomor Women's Single SH6 dan menambah perolehan emas tim Indonesia.
Ia berhasil mengalahkan wakil dari tuan rumah dalam dua set langsung dengan skor telak 21-5, 21-1. Prestasi gemilang ini menjadi hattrick perolehan medali emas APG berturut-turut yang telah diraih oleh Rina.
Atlet kelahiran 3 November 1993 ini telah membela Indonesia di berbagai kompetisi profesional dunia pada nomor tunggal putri dan ganda campuran. Termasuk pada APG Surakarta 2022 dan Kamboja 2023 ketika ia meraih medali emas pada nomor tunggal putri dan ganda campuran.
Namun, prestasi perempuan asal Desa Ciakar, Cibeureum, Tasikmalaya, Jawa Barat, ini tak berhenti di situ. Ia merupakan atlet yang telah berkompetisi di Paralimpiade hingga World Championships untuk para-badminton.
Prestasi Gemilang Rina Marlina
Tercatat, ia berhasil meraih medali perunggu di nomor ganda campuran SH6 bersama Subhan pada kejuaraan bergengsi Paralimpiade Musim Panas 2024 yang berlangsung di Paris, Prancis. Ia juga merupakan pemenang medali emas di Kejuaraan Dunia Para-Badminton BWF 2022 di Tokyo pada nomor tunggal putri dan ganda campuran.
Selain itu, ia juga sukses membawa pulang medali perak di nomor tunggal putri dan medali emas di nomor ganda campuran pada Pesta Olahraga Difabel Asia atau Asian Para Games 2022. Atas capaian impresif ini, ia dianugerahi predikat Female Para-badminton Player of the Year tahun 2023.
Di balik segudang kesuksesannya sebagai seorang atlet para-badminton, Rina memiliki masa lalu yang tak akan diduga dunia. Mundur ke tahun 2009, Rina ternyata pernah berprofesi sebagai asisten rumah tangga (ART) hanya diupah Rp150 ribu per bulan.
"Semenjak bapak gak ada, saya sama ibu kerja jadi ART sekitar 2009-2010. Upahnya dulu itu kalau gak salah Rp150 ribu atau Rp300 ribu saya lupa, bukan per hari tapi per bulan," beber Rina, dikutip dari laman resmi Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).
Tak hanya ART, Rina juga mengaku pernah menjadi sopir ojek, hingga menjadi wasit di GOR tempat tinggalnya yang hanya dibayar Rp2 ribu per set demi mendapatkan tambahan uang. Ia juga mengatakan dirinya sering dikucilkan oleh tetangga karena tubuhnya yang kecil.
Namun, justru dari kesediaan dirinya menjalani berbagai pekerjaan untuk mendapatkan uang tersebutlah Rina bisa menemukan jalannya di olahraga bulu tangkis. Dari menjadi wasit, ia mulai belajar secara otodidak. Sederhana, sebelum mampu membeli raket, ia menggunakan tutup cat hingga piring seng.
"Dekat rumah ada GOR bulutangkis, saya sering jadi wasit buat uang jajan, saat yang lain istirahat saya coba main dan akhirnya saya termotivasi. Dulu saya masih pakai piring seng yang buat makan itu, karena belum punya modal beli raketnya," ungkapnya.

Ketika berlatih, terbesit di kepalanya bahwa suatu hari nanti, ia dapat bermain di tengah lapangan yang ditonton banyak orang. Ketika impian tersebut pada akhirnya terwujud, yang diawali dengan mengikuti pelatnas, ia tak percaya akan takdir hidupnya.
Bahkan, ia bukan hanya tergabung sebagai atlet nasional, Rina kini telah menjadi salah satu atlet berprestasi kebanggaan Indonesia yang rajin mengharumkan nama bangsa di kancah global. Ia mengungkapkan dukungan dan doa dari ibunya menjadi salah satu faktor pendorong bagi dirinya.
"Saya tidak menyangka bisa bermain bulutangkis di APG, hingga di Paralimpiade sangat gak nyangka sampai sekarang, bisa keliling dunia. Ibu saya terus menyemangati saya agar tidak minder. Intinya bersyukur, senang dan bangga saya bisa lagi persembahkan medali emas ini untuk bangsa Indonesia, karena APG ini hattrick saya dan masih bisa mempertahankan emas," ujarnya penuh haru.
Ke depannya, Rina berharap dapat mewakili Indonesia di ajang Asian Para Games Jepang yang akan berlangsung pada bulan Oktober 2026 mendatang dan di Paralimpiade Los Angeles (LA) pada 2028 mendatang, serta meraih medali emas. [rk]