Legenda Monster Nian yang Jadi Cikal Bakal Perayaan Imlek

-

- Advertisement -spot_img

ThePhrase.id – Tahun Baru Imlek yang dirayakan oleh masyarakat Tionghoa setiap tahunnya memiliki kaitan erat dengan legenda, salah satunya adalah legenda tentang nian. Pernahkah kamu mendengar legenda nian?

Dalam mitologi Tionghoa, nian digambarkan sebagai makhluk buas atau monster yang tinggal di pegunungan, atau ada juga yang menyebutkan tinggal di laut. Bentuk fisiknya berciri-ciri memiliki kepala yang mirip singa, bertubuh setengah banteng, memiliki tanduk, dan bergigi tajam.

Pada akhir musim dingin dan di awal musim semi, atau bisa juga dibilang pada tahun baru masyarakat Tionghoa yang berdasarkan perhitungan fase bulan, makhluk ini akan keluar dari persembunyiannya. Menurut legenda, ia bersembunyi di tempat yang gelap untuk waktu yang lama, tetapi akan keluar ketika tahun baru tiba.

Makhluk ini keluar dari persembunyiannya untuk berburu makanan serta mengganggu manusia, terutama anak-anak. Makanan yang diburu oleh nian adalah hasil panen, ternak, bahkan hingga para penduduk desa.

Ilustrasi monster nian. (Foto: britannica.com/© CCTV America/Britannica Publishing Partner)

Upaya warga untuk menghindari nian

Untuk menghindari nian yang mengganggu dan membahayakan serta membuat resah, warga berupaya melakukan sesuatu, yakni menaruh makanan di depan pintu depan rumah mereka. Tujuannya agar nian tidak memburu hasil panen dan hewan ternak, atau bahkan manusia.

Ada juga legenda yang mengatakan bahwa setiap malam tahun baru yang dipercaya sebagai waktu nian akan keluar dari persembunyian, warga akan pergi mengungsi ke pegunungan terpencil untuk menghindari makhluk tersebut.

Namun, suatu hari ketika warga tengah bersiap-siap akan mengungsi, datang seorang kakek tua dari desa lain untuk mengemis makanan. Warga yang sedang bersiap-siap tidak menggubris kakek itu, kecuali seorang perempuan yang memberikan makanan.

Perempuan itu juga mengatakan pada si kakek bahwa nian akan datang dan lebih baik mengungsi. Alih-alih mendengarkan, si kakek justru meminta izin untuk tinggal di rumah perempuan itu ketika semua warga pergi mengungsi.

Ketakutan nian

Pada malam harinya, nian benar-benar datang ke desa tersebut tetapi mendapati desa yang kosong kecuali seorang kakek di sebuah rumah.

Ilustrasi monster nian ketakutan. (Foto: dragonsteaching.com / © 视觉中国)

Rumah sang perempuan itu ‘dihias’ oleh si kakek dengan lentera merah dan kertas merah di depan rumah, menyalakan lilin dari dalam rumah, serta membakar bambu. Si kakek juga membuat suara ‘ledakan’ yang cukup besar dan memakai baju berwarna merah. Nian yang melihat dan mendengar hal itu ketakutan dan pergi.

Ternyata nian memiliki ketakutan akan warna merah, cahaya terang, dan suara keras. Sejak kejadian itu, warga mulai menggantung lentera dan gulungan kertas berwarna merah di jendela dan pintu, menyalakan lilin, serta menyalakan kembang api agar menciptakan suara yang keras serta cahaya yang terang.

Dari sini lah terlahir perayaan Imlek yang terus dilakukan turun menurun seperti perayaan Imlek yang identik dengan warna merah, petasan, kembang api, dan lain-lain.

Menurut legenda yang lain, bukan seorang kakek-kakek yang menyadarkan warga akan pentingnya warna merah untuk mengusir nian. Melainkan, warga pernah melihat nian yang lari ketakutan ketika bertemu seorang anak kecil yang mengenakan pakaian warna merah.

Uniknya, kata-kata ‘Tahun Baru China’ atau ‘Chinese New Year’ dalam bahasa Tiongkok disebut dengan Guo Nian (过年), tetapi kata tersebut juga memiliki arti lain secara harfiah yakni ‘mengusir nian’. [rk]

- Advertisement -spot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you