features

Lipsus Bencana Krakatau: Debu yang Melumpuhkan

Penulis Rangga Bijak Aditya
Sep 14, 2026
Letusan Gunung Anak Krakatau. (Foto: Dok. ThePhrase.id/Ferian Ibrahim)
Letusan Gunung Anak Krakatau. (Foto: Dok. ThePhrase.id/Ferian Ibrahim)

ThePhrase.id - Erupsi Gunung Anak Krakatau pada 4—5 September 2026 tidak hanya menjadi bencana vulkanologi, tetapi juga melumpuhkan  berbagai aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Abu vulkanik yang menyebar hingga ketinggian sekitar 15.000 meter membuat transportasi udara menjadi sektor yang paling terpukul.

Bencana tersebut membuat delapan bandara ditutup sementara, termasuk Bandara Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma di Jakarta. Penutupan ini menjadi pukulan besar karena Jakarta merupakan sentral pemerintahan, politik, perdagangan, dan aktivitas bisnis nasional.

Pada fase awal gangguan, sebanyak 1.558 penerbangan dibatalkan dan sekitar 170.000 penumpang terdampak. Sejumlah penumpang bahkan harus menginap atau mencari moda transportasi alternatif karena kepastian keberangkatan tidak tersedia.

 

Baca Selanjutnya: Lipsus Bencana Krakatau: Ring of Fire yang Dilupakan

 

Gangguan kemudian meluas. Hingga Senin (7/9), hampir 3.000 penerbangan tercatat batal atau tertunda dan sekitar 341.000 penumpang terdampak.

Kejadian tersebut membuat pemerintah dan pihak bandara harus melakukan pembersihan bandara dan pemeriksaan pesawat sebelum penerbangan kembali normal.

Menteri Perhubungan (Menhub), Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa keselamatan menjadi pertimbangan utama sebelum operasional dibuka kembali. Adapun sejumlah bandara tersebut baru kembali beroperasi tiga hari setelah erupsi mereda, yakni Selasa (8/9).

Kerugian ekonomi juga dirasakan maskapai. Menurut Reuters, potensi kerugian sektor penerbangan dilaporkan dapat mencapai Rp19 miliar per hari akibat pembatalan penerbangan dan biaya operasional tambahan. Efek berantainya menjalar ke hotel, restoran, transportasi darat, perdagangan, serta usaha kecil yang bergantung pada mobilitas manusia.

Di sektor pendidikan, sejumlah sekolah menghentikan kegiatan tatap muka setelah abu menyebabkan iritasi mata dan gangguan kesehatan. Pemerintah daerah Jakarta, Lampung, Banten, hingga Jawa Barat kemudian mengizinkan skema pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Aktivitas nelayan di pesisir Selat Sunda juga terhenti; nelayan Labuan, Pandeglang, dilaporkan tidak melaut selama beberapa hari sehingga pendapatan ikut menyusut.

Selain itu, rantai logistik turut menghadapi risiko keterlambatan sebagaimana erupsi menyebarkan abu vulkanik di udara dan mengganggu perjalanan darat, laut, ataupun udara.

Ketika akses udara menuju Jakarta lumpuh, dampaknya terasa jauh melampaui kawasan sekitar Anak Krakatau: sebuah gangguan alam di Selat Sunda berubah menjadi gangguan terhadap konektivitas sosial-ekonomi nasional. (Rangga) 

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic