
Thephrase.id - Sejak memasuki 2026, sejumlah wilayah di Indonesia dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla), seperti di Sumatra, Kalimantan, dan Jawa. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sedikitnya 72.798 hektare luas hutan dan lahan terbakar sepanjang Juni hingga pertengahan Agustus 2026.
Kalimantan menjadi episentrum karhutla 2026. Dalam periode Januari-Agustus, ada 38.310,86 hektare hutan dan lahan yang hangus dilahap si jago merah. Kalimantan Barat (Kalbar) menjadi provinsi dengan luas karhutla paling besar, yakni sekitar 38.310,89 hektare. Kalimantan Selatan (Kalsel) diperkirakan mencapai 8.019,62 hektare dan Kalimantan Tengah (Kalteng) sekitar 7.634,46 hektare.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) juga mencatat Kalbar menjadi provinsi dengan jumlah hotspot high confidence tertinggi, yakni 4.472 titik, disusul Kalimantan Tengah (Kalteng) dengan 1.954 titik. Berdasarkan catatan WALHI Kalteng, ditemukan total titik hotspot dengan berbagai level kepercayaan sebanyak 32.796 dengan estimasi luas indikatif yang mengalami kebakaran hutan dan lahan mencapai 45.000-68.000 hektar.
Karhutla juga menghanguskan sekira 904 hektare hutan dan lahan di Riau dalam satu bulan terakhir. Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBDPK) Provinsi, luas kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau mencapai 16.277,50 hektar sejak Januari-Agustus 2026.
Sumatra Selatan juga mengalami karhutla yang cukup masif sepanjang tahun ini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat 1.520 kejadian karhutla sejak 1 Januari hingga 19 Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, indikasi luas lahan yang terbakar mencapai 1.926,2 hektare.
Selain itu, Sulawesi Selatan turut menghadapi karhutla sepanjang 2026. Tercatat ada 112 kejadian karhutla pada Januari hingga Agustus 2026, dengan total luasan terdampak sekitar 1.562,67 hektare. Enrekang menjadi wilayah dengan luasan terdampak terbesar mencapai sekitar 1.044,55 hektare dari 10 kejadian.
Daerah lainnya yang juga mengalami karhutla adalah Jawa Barat. Ada sekitar 184,07 hektare hutan dan lahan yang terbakar hingga 22 Agustus 2026. Jumlah itu tersebar di 19 kabupaten dan kota, salah satunya Sukabumi dengan luas lahan dan hutan yang terbakar mencapai 49,20 hektare.
Kebakaran juga melanda Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. BPBD Jawa Timur mencatat karhutla di wilayah tersebut menghanguskan kurang lebih 942 hektare hutan dan lahan sepanjang Agustus 2026. Beruntung, kebakaran berhasil dipadamkan setelah beberapa pekan berjibaku melawan kobaran api.
Kerugian Akibat Karhutla
Karhutla tidak hanya soal seberapa luas hutan dan lahan yang terbakar, namun ada hal yang tak kalah penting untuk dihitung perlahan, yakni soal dampak buruk dan seberapa besar kerugiannya. Karhutla adalah masalah ekonomi sebelum menjadi petaka ekologi.
World Bank sempat memperkirakan kerugian ekonomi akibat karhutla pada 2015 silam mencapai USD16,1 miliar. Jika dirupiahkan dengan asumsi kurs Rp17.000 per USD, nilainya mencapai Rp273,7 triliun. Pada 2019 World Bank juga memperkirakan kerugian akibat karhutla mencapai USD5,2 miliar, setara Rp73 triliun.
Kerugian itu mencakup pertanian, kehutanan, perdagangan, pariwisata, transportasi, manufaktur, lingkungan, pemadaman, kesehatan jangka pendek dan penutupan sekolah.
Dalam hal transportasi, kabut asap mengurangi jarak pandang dan mengganggu operasional transportasi, tak terkecuali penerbangan. Akibat karhutla, sebanyak 12 penerbangan di Bandar Udara Internasional Syamsudin Noor, Banjarmasin mengalami penundaan pada 19 Agustus lalu. Walhasil, menimbulkan konsekuensi ekonomi berupa perubahan jadwal perjalanan, tambahan biaya operasional, serta keterlambatan mobilitas pekerja dan distribusi barang.
Kerugian pada sektor kesehatan, karhutla menyebabkan kualitas udara memburuk dan membuat masyarakat mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kebutuhan layanan kesehatan serta biaya yang harus ditanggung oleh pemerintah, masyarakat, maupun perusahaan.
Belum lagi biaya yang dikeluarkan pemerintah dalam upaya pemadaman karhutla, seperti water bombing. BNPB menyebut biaya operasi water bombing sekitar USD11.500 atau Rp150 juta per jam penerbangan.
“Mungkin banyak yang belum tahu, water bombing itu, 1 jam itu biayanya 11.500 USD. Atau sekitar Rp 150 juta itu,” kata Kepala BNPB, Suharyanto beberapa waktu lalu.
Jumlah itu belum termasuk personel, logistik, pompa, bahan bakar, modifikasi cuaca, dan lainnya. Pemerintah mengerahkan 12.880 personel gabungan untuk operasi terpadu pengendalian karhutla di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Semua itu menjadi beban berat di tengah kembang kempisnya kondisi fiskal saat ini. Siapa yang bertanggung jawab membayar seluruh kerugian akibat karhutla yang terbakar atau dibakar serentak?
Keluhan Negara Tetangga
Karhutla dengan segala daya rusak dan dampak kerugiannya tak sepenuhnya ditampung di dalam negeri. Negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura sudah berulang kali mengirim nota keberatan ke Indonesia karena kabut asap akibat karhutla.
Malaysia, tepatnya di Sarawak sudah menutup 591 sekolah di 10 distrik selama 20 hari setelah kualitas udaranya memburuk akibat karhutla di Indonesia. Penutupan yang dimulai sejak 20 Agustus 2026 itu, berdampak pada hampir 200.000 siswa sekolah dasar dan menengah.
“Keputusan ini merupakan langkah pencegahan untuk melindungi keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan siswa, terutama dari risiko paparan udara yang tidak sehat,” kata Departemen Pendidikan Sarawak dalam pernyataan di Facebook.
Sementara di Singapura, Majelis Agama Islam Singapura mengimbau pelaksanaan khutbah Jumat di setiap masjid untuk dipersingkat setelah sebagian daerah mulai dipenuhi asap.
Kebijakan itu berlaku hingga pemberitahuan lebih lanjut agar masyarakat bisa lebih nyaman dalam menjalankan ibadah. (M Hafid)
Baca selanjutnya: Lipsus Karhutla (Part 2): Hutan Terbakar Sepanjang Masa