features

Lipsus Karhutla (Part 3): Terkaya, tapi Dibakar

Penulis Rangga Bijak Aditya
Aug 31, 2026
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Foto: Dok. ThePhrase.id/Ferian Ibrahim)
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Foto: Dok. ThePhrase.id/Ferian Ibrahim)

ThePhrase.id - Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan hayati terbesar di dunia. Hutan tropisnya menjadi rumah bagi beragam tumbuhan, satwa dan organisme, termasuk berbagai spesies endemik yang tidak ditemukan di belahan bumi lainnya.

Komodo, orangutan Tapanuli, anoa, babirusa, maleo dan berbagai jenis cenderawasih adalah sebagian kecil dari kekayaan fauna yang menjadikan Indonesia istimewa.

Hutan Indonesia bukan sekadar hamparan pohon, tetapi menjadi penyimpan karbon, pengatur air, gudang sumber daya genetik, pangan dan obat-obatan, sekaligus warisan budaya bangsa. Artinya, kehilangan hutan juga berarti kehilangan peluang menemukan sumber obat, pangan dan pengetahuan baru. Sekali hutan alam hilang, uang dan teknologi belum tentu mampu mengembalikan seluruh kehidupan yang ikut musnah bersamanya.

Hutan Alami Tak Sama dengan Tanaman Industri

Hutan alam tidak dapat disamakan dengan tanaman industri. Perkebunan sawit memang memiliki nilai ekonomi penting, tetapi perkebunan monokultur tidak mampu menggantikan kompleksitas ekologis hutan.

Hutan alami menyimpan karbon, mengatur tata air, menjaga kesuburan tanah, menyediakan habitat satwa dan mempertahankan jaringan kehidupan yang terbentuk melalui proses evolusi sangat panjang.

Karena itu, ketika terjadi yang hilang bukan sekadar pohon. Habitat satwa, tumbuhan obat, cadangan genetik, sumber air dan ekosistem yang terbentuk selama ratusan bahkan ribuan tahun ikut terancam.

Kebakaran juga dapat menghancurkan perkampungan serta ruang hidup masyarakat adat, termasuk pengetahuan, tradisi dan identitas budaya yang diwariskan lintas generasi.

Para ahli ekologi dan lembaga lingkungan menekankan pentingnya melindungi hutan alam serta memperkuat peran masyarakat adat sebagai penjaga ekosistem. Pembangunan ekonomi dan komoditas seperti sawit tetap dapat berjalan, tetapi tidak semestinya dilakukan dengan mengorbankan hutan alam yang masih utuh.

Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Hatma Suryatmojo mengatakan bahwa sawit tidak dapat menggantikan fungsi hutan alam.

“Meski sawit sering diklaim tetap membuat lahan hijau, tapi sesungguhnya sama sekali berbeda dengan hijaunya hutan,” ujar Hatma dikutip Kompas.

Ia menegaskan, keanekaragaman hayati sawit lebih rendah daripada hutan yang lebih beragam jenis dan menciptakan habitat ideal bagi flora dan fauna.

Sejalan dengan itu, dosen ekologi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Santhyami mengungkapkan bahwa tumbuhan sawit tidak memiliki kemampuan yang dapat menggantikan peran hutan, khususnya dalam hal penyimpanan air.

“Dia (kelapa sawit) tidak bisa menyimpan air atau mengikat air lebih baik dibandingkan dengan jenis-jenis pohon kayu. Seperti meranti, pohon pulai, atau pohon-pohon lainnya,” katanya.

Direktur Eksekutif Nasional WALHI, Boy Jerry Even Sembiring turut menyampaikan tanggapan mengenai kasus karhutla, yang perlu menyasar hingga ke akar persoalan.

“Penanganan karhutla harus menyasar akar persoalan, termasuk evaluasi perizinan, pertanggungjawaban korporasi, pemulihan ekosistem, serta pengungkapan aktor intelektual di balik kebakaran,” pungkasnya.

Menurutnya, dari perspektif pegiat lingkungan, penanganan karhutla tidak semata-mata persoalan memadamkan api, tetapi juga persoalan tata kelola dan pemulihan ekosistem. (Rangga)

 

Baca Selanjutnya: Lipsus Karhutla (Part 4): Bermain Mata dengan Pembakar Hutan

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic