features

Lipsus Kecelakaan Laut: Tragedi Kapal Tampomas II

Penulis Rangga Bijak Aditya
Sep 21, 2026
Ilustrasi kecelakaan laut. (Foto: Dok. ThePhrase.id/Ferian Ibrahim)
Ilustrasi kecelakaan laut. (Foto: Dok. ThePhrase.id/Ferian Ibrahim)

ThePhrase.id - Nama KM Tampomas II masih menjadi salah satu yang paling dikenang dalam sejarah kelam pelayaran Indonesia. Pada 27 Januari 1981, kapal milik Pelni itu tenggelam di perairan sekitar Kepulauan Masalembo, Laut Jawa, setelah sebelumnya terbakar dalam perjalanan dari Jakarta menuju Ujungpandang, kini Makassar.

Tampomas II berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok pada 24 Januari 1981. Dua hari kemudian, ketika berada di sekitar Kepulauan Masalembo, kebakaran muncul di bagian kapal. Api dengan cepat membesar dan menimbulkan kepanikan di antara penumpang. Sejumlah orang bahkan memilih terjun ke laut untuk menyelamatkan diri.

Proses evakuasi berlangsung dalam kondisi cuaca buruk. Sejumlah kapal datang memberikan pertolongan, tetapi upaya penyelamatan menghadapi gelombang dan angin kencang. Setelah terbakar selama berjam-jam dan kondisi kapal semakin memburuk, Tampomas II akhirnya tenggelam pada siang hari 27 Januari. Tragedi tersebut kemudian menjadi salah satu bencana pelayaran paling mengguncang masyarakat Indonesia pada era 1980-an.

Baca Selanjutnya: Lipsus Kecelakaan Laut: Bermula 3 Faktor

Lima belas tahun kemudian, tragedi serupa terjadi di Aceh. KMP Gurita tenggelam pada 19 Januari 1996 di perairan Ujung Seuke, Sabang, saat berlayar dari Pelabuhan Malahayati menuju Balohan. Kapal yang kapasitasnya terbatas itu membawa penumpang dalam jumlah jauh lebih besar. Cuaca buruk dan persoalan muatan kemudian menjadi bagian penting dari kisah tragedi tersebut.

Memasuki akhir 2006, KM Senopati Nusantara tenggelam di sekitar perairan Pulau Mandalika, Jepara. Kapal yang berangkat dari Kalimantan menuju Semarang tersebut menghadapi cuaca buruk di Laut Jawa. Proses pencarian berlangsung berhari-hari dan menjadi salah satu operasi penyelamatan laut terbesar pada masa itu.

Sementara itu, pada 18 Juni 2018, KM Sinar Bangun tenggelam di Danau Toba, Sumatera Utara. Kapal tersebut mengalami kecelakaan ketika berlayar dari Simanindo menuju Tigaras. Tragedi ini kembali membuka perhatian nasional terhadap keselamatan kapal penumpang, terutama persoalan kapasitas angkut, manifest, kondisi kapal, serta kesiapan menghadapi perubahan cuaca.

Rangkaian tragedi tersebut meninggalkan pelajaran panjang bagi dunia pelayaran Indonesia: keselamatan tidak hanya ditentukan oleh kondisi laut, tetapi juga oleh kelayakan kapal, jumlah muatan, kedisiplinan awak, perlengkapan keselamatan, dan ketepatan prosedur darurat. (Rangga)

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic