lifestyleRelationship

Mankeeping: Ketika Perempuan Tak Hanya Jadi Pasangan, tapi Juga "Manajer" Kehidupan Pasangan

Penulis Rahma K
May 10, 2026
Ilustrasi perempuan yang mengalami mankeeping. (Foto: Freepik)
Ilustrasi perempuan yang mengalami mankeeping. (Foto: Freepik)

ThePhrase.id – Tanpa disadari, banyak perempuan yang memikul beban emosional dan sosial dalam hubungan dengan pasangan laki-laki mereka. Para perempuan ini bertindak sebagai "pengurus" hingga "terapis" bagi laki-laki tanpa mendapatkan timbal balik yang sama. Hal ini ternyata merupakan fenomena yang banyak dirasakan perempuan di berbagai belahan dunia, dan memiliki istilah sendiri, yaitu mankeeping.

Pertama kali dicetuskan oleh seorang psikolog sosial dalam penelitiannya di Universitas Stanford pada tahun 2024, mankeeping merupakan terminologi yang digunakan untuk mendeskripsikan perempuan dalam hubungan heteroseksual yang bertanggung jawab terhadap kondisi emosional dan sosial dari pasangan mereka.

Perempuan yang melakukan mankeeping biasanya bertindak sebagai "psikolog" dengan mendengarkan curhat hingga memberikan solusi untuk setiap permasalahan pasangan, pengelola suasana hati pasangan, pengatur segala rencana sosial pasangan, dan lain-lain.

Dalam berbagai kasus, tak sedikit juga perempuan yang mengambil alih tanggung jawab pasangan dalam hubungan dan berperan sebagai seorang 'manajer' atau bahkan 'ibu' untuk pasangan mereka. 

Beberapa contohnya adalah seperti mengurus administrasi, mengingatkan berbagai kebutuhan pribadi seperti kapan harus potong rambut dan kapan harus kontrol ke dokter, hingga meminta maaf kepada orang lain atas perilaku pasangan.

Dilansir dari The Guardian, para peneliti dari Stanford mengatakan mankeeping merupakan dampak dari male loneliness epidemic. Seiring dengan mengecilnya lingkaran sosial dan pertemanan pria, serta bersamaan dengan ketidakmampuan pria mengungkapkan perasaannya kepada teman-teman mereka, maka pasangan mereka menjadi pihak yang menanggung beban yang seharusnya dapat dilimpahkan kepada teman, kolega, hingga kenalan para pria tersebut.

Selain itu, Chloe Bean, seorang Terapis Pernikahan dan Keluarga Berlisensi (LMFT) mengungkapkan alasan lain fenomena mankeeping dapat terjadi karena banyak dari perempuan dididik sejak muda untuk memiliki kepekaan emosional, bertanggung jawab dalam hubungan, dan akomodatif. Sedangkan laki-laki tidak didorong untuk mengembangkan keterampilan emosional yang sama.

Perhatian emosional dalam hubungan sebenarnya merupakan hal yang wajar. Namun, mankeeping terjadi ketika beban tersebut berlangsung secara sepihak dan terus-menerus tanpa timbal balik yang seimbang. Hal ini kemudian menjadi permasalahan utama dari hubungan. 

Ketimpangan dalam hubungan ini membuat para perempuan menjalani peran ganda, yakni tak hanya sebagai pasangan di hubungan romansa, tetapi juga pendukung emosional dalam setiap aspek kehidupan pasangan.

Maka dari itu, tak heran jika banyak dari perempuan dalam hubungan yang merasakan kelelahan emosional. Bahkan, hal ini juga membuat banyak perempuan enggan untuk menjalin hubungan. Menurut penelitian dari Pew Research, hanya 38 persen dari wanita single yang aktif mencari pasangan.

Dampak lain dari mankeeping adalah perempuan lebih rentan merasa kesepian karena terlalu berperan sebagai 'penyangga emosional' pasangan tanpa merasakan hal yang sama, sehingga kebutuhan emosionalnya tidak terpenuhi.

Lantas, bagaimana cara menghentikan siklus mankeeping? Pertama-tama, perempuan perlu mengkomunikasikan apa yang dirasakan pada pasangannya terlebih dahulu. Menetapkan batasan yang jelas merupakan langkah selanjutnya. Kemudian, tolak pengambil alihan tanggung jawab yang tidak disepakati sebelumnya, serta biarkan pasangan menghadapi konsekuensi dari tindakannya sendiri. [rk]

Tags Terkait

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic