communityKompetisi Cerita Anak Negeri

Melawan Ilusi Spendception: Trik "Visualisasi Keringat" untuk Selamatkan Dompet Gen Z

Penulis Redaksi
Feb 26, 2026
Ilustrasi pembayaran digital (Foto: freepik.com)
Ilustrasi pembayaran digital (Foto: freepik.com)

Oleh Rakean Muhammad Indrajati Wastukancana - Universitas Padjadjaran

Juara III - Kategori Mahasiswa (Artikel) Kompetisi Cerita Anak Negeri 2025

ThePhrase.id - Bunyi notifikasi paket datang mungkin menjadi suara paling merdu bagi telinga Gen Z saat ini. Namun, di balik tumpukan paket yang kita check-out, ada "bom waktu" yang sedang berdetik. Siapa sangka, kebiasaan kecil menggeser jempol di layar ponsel telah menciptakan gunungan utang raksasa. Melansir data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dirilis Katadata pada Juli 2025, akumulasi kredit PayLater di Indonesia telah menembus angka fantastis sebesar Rp21,89 triliun selama Januari hingga Mei 2025. Ironisnya, penyumbang terbesar angka tersebut adalah kita: generasi muda. 

Pertanyaannya, mengapa kita begitu sulit mengerem jari untuk berbelanja? Apakah semata-mata karena butuh, atau ada alasan lain yang lebih personal? 

Ternyata, fenomena ini bukan sekadar soal boros, melainkan masalah psikologis yang serius. Mengutip artikel di ThePhrase.id berjudul "Doom Spending, Pelarian Emosional yang Menguras Dompet", perilaku belanja impulsif ini sering kali menjadi pelarian dari perasaan cemas atau stres terhadap ketidakpastian dunia. Kita membeli barang bukan karena butuh, tapi untuk membeli rasa kendali semu atas hidup kita. 

Sayangnya, pelarian emosional ini diperparah oleh kemudahan teknologi yang membuat kita makin lupa diri. Sering kali, niat hemat itu runtuh bukan karena kita benar-benar butuh barangnya, tapi karena cara kita membayarnya. Coba ingat-ingat kembali, kapan terakhir kali kamu merasa "berat hati" saat membayar? 

Kemungkinan besar, itu terjadi saat kamu harus mengeluarkan uang tunai. Saat tangan kita menyerahkan lembaran uang biru atau merah secara fisik, otak kita mengirimkan sinyal "sakit" (pain of paying). Kita sadar ada sesuatu yang hilang dari dompet. Namun, sensasi itu lenyap seketika saat kita beralih ke pembayaran digital. Tinggal scan QRIS, tempel kartu, atau masukkan PIN, transaksi selesai tanpa rasa bersalah. 

Awalnya, saya pikir itu hanya perasaan saya saja yang sedang mencari pembenaran. Ternyata, fenomena ini nyata dan ilmiah. 

Sebuah riset perilaku konsumen yang dirilis pada tahun 2025 memperkenalkan istilah yang menurut saya sangat mind-blowing: Spendception. Konsep ini menjelaskan bagaimana pembayaran digital yang serba praktis itu bekerja layaknya "obat bius" bagi otak kita. Karena uangnya tidak berwujud fisik dan proses bayarnya terlalu mulus, kita kehilangan resistensi psikologis untuk berhemat. 

Singkatnya, Spendception membuat kita merasa seolah-olah kita tidak sedang menghabiskan uang sungguhan. Angka-angka di saldo e-wallet terasa abstrak, mirip seperti poin dalam video game. Padahal, saldo yang berkurang itu adalah uang jajan atau gaji hasil jerih payah yang sangat nyata. Inilah alasan kenapa utang PayLater bisa menumpuk tanpa terasa. Kita dibuai oleh kemudahan transaksi sampai lupa daratan. 

Lantas, bagaimana cara kita melawan ilusi canggih ini? Apakah kita harus membuang smartphone dan kembali membawa uang tunai segepok ke mana-mana? 

Tentu tidak. Di era digital ini, menolak teknologi itu mustahil. Yang perlu kita lakukan adalah meretas balik otak kita. Jika Spendception menghilangkan "rasa sakit" saat membayar, maka strategi saya adalah memunculkan kembali rasa itu secara manual. Saya menamakan metode ini: "Visualisasi Keringat". 

Metodenya sederhana tapi ampuh. Setiap kali saya tergoda untuk check-out barang, entah itu baju lucu, skin care viral, atau kopi kekinian, saya tidak lagi melihat harganya sebagai rupiah. Saya mengonversinya menjadi waktu kerja. 

Sebagai contoh, jika saya mendapatkan uang saku atau upah magang sebesar Rp20.000 per jam, maka secangkir kopi seharga Rp60.000 bukan lagi sekadar angka di aplikasi. Kopi itu setara dengan tiga jam duduk di depan laptop atau melayani pelanggan. 

Melawan Ilusi Spendception  Trik  Visualisasi Keringat  untuk Selamatkan Dompet Gen Z
Kemudahan pembayaran digital sering kali menciptakan ilusi Spendception, di mana uang terasa tidak nyata sehingga memicu perilaku belanja impulsif. (Foto: Pexels/Ron Lach) 

Saat otak saya memproses bahwa kopi ini “seharga” tiga jam kelelahan saya, mendadak efek bius Spendception hilang. Saya jadi berpikir dua kali: “Apakah rasa kopi ini sebanding dengan tiga jam kerja keras saya?” Sering kali, jawabannya adalah tidak. Secara ajaib, keinginan untuk check-out yang tadi menggebu-gebu perlahan mendingin. Saya kembali memegang kendali atas keputusan saya sendiri. 

Ternyata, metode “Visualisasi Keringat” ini bukan sekadar cocoklogi saya saja. Prinsip ini sejalan dengan temuan riset perilaku dari DeVoe & Pfeffer dalam jurnal Organizational Behavior and Human Decision Processes

Riset tersebut menemukan bahwa ketika seseorang menyadari nilai "upah per jam"-nya, cara otak mereka melakukan mental accounting (perhitungan mental) langsung berubah. Mereka tidak lagi melihat uang sekadar sebagai alat tukar, melainkan sebagai komoditas yang setara dengan waktu hidup mereka. 

Jika Spendception bekerja dengan membius kesadaran kita, maka teknik menghitung jam kerja ini berfungsi sebagai "tamparan" yang membangunkan. Ia memaksa logika kita untuk bekerja kembali: uang ini bukan angka digital, ini adalah potongan hidupku. 

Pada akhirnya, menjadi cerdas finansial di era digital bukan berarti kita harus anti-teknologi atau memusuhi kemudahan. Fitur PayLater, dompet digital, dan QRIS adalah alat yang netral. Mereka bisa menjadi kawan yang memudahkan, atau lawan yang memiskinkan, tergantung siapa yang memegang kendali: algoritma aplikasi atau kesadaran kita sendiri. 

Melawan ilusi Spendception dengan metode "Visualisasi Keringat" adalah langkah kecil untuk merebut kembali kendali tersebut. Ini adalah seni menyadarkan diri bahwa di setiap rupiah yang kita keluarkan, ada waktu, energi, dan harapan yang tak bisa diputar ulang. 

Sebagai Gen Z, kita memiliki privilese akses teknologi yang luar biasa. Jangan sampai kecanggihan itu justru membuat kita tumpul dalam memaknai nilai uang. Mari mulai menghargai setiap tetes keringat kita dengan bijak. Karena sesungguhnya, kemenangan finansial terbesar bukanlah saat kita bisa membeli segalanya, melainkan saat kita mampu berkata "tidak" pada hal-hal yang tidak perlu. 

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic