figure

Menembus Kutub Selatan, Ini Cerita Ezra Timothy Teliti Jejak DNA Sedimen Purba di Antartika

Penulis Rahma K
Apr 15, 2026
Ezra Timothy Nugroho. (Foto: ugm.ac.id/Dok. Ezra)
Ezra Timothy Nugroho. (Foto: ugm.ac.id/Dok. Ezra)

ThePhrase.id – Tak banyak manusia yang berkesempatan untuk mengunjungi Antartika, terutama untuk melakukan riset ilmiah berskala global. Namun, Ezra Timothy Nugroho menjadi salah satunya yang mendapatkan pengalaman berharga tersebut.

Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Ezra telah mendapatkan kesempatan untuk mengikuti ekspedisi ilmiah di Antartika untuk meneliti sedimentary ancient DNA, yakni DNA yang diperoleh dari sedimen purba bawah laut. Fokus penelitiannya meliputi wilayah Southern Ocean dan Antartika.

Diketahui, ekspedisi yang berlangsung di atas kapal selama 57 hari, dari 2 Januari hingga 27 Februari 2026 lalu tersebut, diikuti oleh puluhan ilmuwan dari berbagai belahan dunia. Tetapi, ia menjadi satu-satunya warga negara Indonesia (WNI) dalam ekspedisi global itu.

Kesempatan yang tak terlupakan baginya ini berawal dari studi magister yang ia tempuh di Institute for Marine and Antarctic Studies, University of Tasmania, Australia. Ezra membeberkan bahwa ia diajak oleh pembimbingnya untuk mengambil sampel di wilayah Antartika Timur, lebih tepatnya di Cook Region melalui sebuah ekspedisi.

Pengambilan sampel ini dilakukan untuk melanjutkan penelitian tesisnya, sekaligus menjadi dasar untuk studi doktoral (S3) yang akan ditempuhnya. Sedangkan ekspedisi yang diikutinya merupakan bagian dari pelayaran riset internasional yang meneliti ekosistem dan sedimen laut di kawasan Antartika Timur.

Menembus Kutub Selatan  Ini Cerita Ezra Timothy Teliti Jejak DNA Sedimen Purba di Antartika
Ezra Timothy Nugroho. (Foto: ugm.ac.id/Dok. Ezra)

"Tesis research saya itu tentang sedimentary ancient DNA, jadi berfokus pada DNA yang didapatkan dari sedimen bawah laut. Fokusnya ke Southern Ocean sama Antartika," jelas alumni Program Studi Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.

Sementara itu, tujuan dari penelitiannya adalah untuk memahami dinamika lingkungan laut dan juga perubahan iklim di wilayah kutub selatan yang tergolong relatif minim intervensi manusia. Karena tak tersentuh aktivitas manusia, ia juga menjelaskan bahwa perubahan yang terjadi di wilayah tersebut mencerminkan dinamika alami ekosistem bumi.

Lebih lanjut, Ezra juga mengungkapkan bahwa melalui analisis DNA dari sedimen laut, ia juga berharap dapat menelusuri perubahan genetik organisme laut, khususnya moluska, sebagai respons dari perubahan lingkungan yang terjadi. Dengan demikian, temuannya diharapkan dapat menjadi landasan untuk memprediksi bagaimana ekosistem laut beradaptasi terhadap perubahan iklim di masa depan.

Meski sampel diambil di wilayah kutub, Ezra menjelaskan bahwa hasil penelitiannya tak hanya relevan untuk perairan wilayah tersebut. Pasalnya, dengan memahami pola perubahan genetik dan respons organisme laut pada lingkungan yang ekstrem, maka hasilnya juga dapat mengetahui dan mengantisipasi dampak perubahan lingkungan di wilayah lain, termasuk wilayah tropis seperti Indonesia.

Menembus Kutub Selatan  Ini Cerita Ezra Timothy Teliti Jejak DNA Sedimen Purba di Antartika
Hasil sampel yang berhasil diambil. (Foto: ugm.ac.id/Dok. Ezra)

"Kalau misalnya ada perubahan lingkungan di situ, kita bisa memprediksi efek ke depannya bagaimana, memprediksi bagaimana hewan laut akan beradaptasi. Sehingga, nantinya bisa diterapkan kalau misalnya di Indonesia terjadi perubahan lingkungan yang serupa," bebernya.

Dalam melakukan penelitian, Ezra mengambil sampel sedimen laut menggunakan metode coring, di mana tabung silinder berongga ditancapkan secara vertikal ke dalam sedimen untuk mengekstrak lapisan-lapisan sedimen. Ia mengaku, momen ketika berhasil melihat langsung sampel yang diambil menjadi pengalaman yang berkesan baginya.

Selama menjalani ekspedisi yang panjang, Ezra dipaksa beradaptasi dengan kehidupan di kapal yang penuh dengan tantangan, mulai dari ombak tinggi, suhu dingin di bawah nol derajat Celcius, hingga tinggal di atas kapal dalam jangka waktu yang lama.

Sebagai peneliti yang berasal dari negara tropis seperti Indonesia, pada awalnya Ezra perlu membiasakan diri dengan lingkungan yang baru tersebut. Tetapi, ia mampu beradaptasi dan menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan ekspedisi.

Selain berhasil merampungkan penelitian, ia juga mengaku senang mendapatkan pengalaman mengamati ekosistem Antartika secara langsung, mulai dari melihat hamparan gunung es hingga menyaksikan satwa liar seperti paus, burung laut, dan penguin di habitat aslinya. [rk]

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic