lifestyleHealth

Mengenal Adulting Fatigue, Kelelahan Mental di Balik Tuntutan Kedewasaan

Penulis Rahma K
Jan 10, 2026
Ilustrasi orang dewasa yang Lelah. (Foto: Freepik)
Ilustrasi orang dewasa yang Lelah. (Foto: Freepik)

ThePhrase.id – Tak jarang kita mendengar keinginan anak kecil untuk menjadi orang dewasa. Namun, saat setelah dewasa, tak sedikit orang yang ingin kembali ke masa kecil. Perasaan ini kerap muncul seiring bertambahnya tuntutan hidup yang datang bersamaan: pekerjaan, keuangan, relasi, hingga ekspektasi sosial untuk "sukses" di usia tertentu. Kondisi inilah yang belakangan dikenal dengan istilah adulting fatigue.

Adulting fatigue menggambarkan kelelahan mental dan emosional akibat menjalani peran dan tanggung jawab sebagai orang dewasa secara terus-menerus. Bukan sekadar capek fisik, tapi rasa lelah yang lebih dalam seperti merasa kewalahan, jenuh, dan seolah tidak pernah benar-benar selesai dengan daftar kewajiban.

Bangun pagi untuk bekerja, pulang malam, membayar tagihan, merencanakan masa depan, sambil tetap dituntut produktif dan stabil secara emosional, bisa menjadi siklus yang menguras energi. Fenomena ini banyak dialami generasi muda dewasa, terutama mereka yang berada di fase transisi seperti usia 20–30-an. 

Berbagai laporan dan survei, termasuk dari lembaga seperti American Psychological Association dan Deloitte, menunjukkan bahwa tekanan finansial, ketidakpastian karier, serta ekspektasi sosial berkontribusi besar terhadap meningkatnya stres dan kelelahan pada kelompok usia ini. 

Media sosial juga ikut memperparah, karena sering kali menghadirkan standar hidup yang tampak ideal, membuat seseorang merasa tertinggal atau "kurang berhasil".

Mengalami adulting fatigue bukan berarti kita adalah orang yang lemah atau tidak mampu menghadapi hidup. Justru, hal ini sering terjadi pada individu yang berusaha bertanggung jawab dan peduli pada masa depannya. 

Gejala dari adulting fatigue cukup mudah dikenali. Seseorang yang merasa overwhelmed, kehilangan motivasi, sulit tidur, atau bahkan menarik diri dari teman bisa menjadi salah satunya. Apabila dibiarkan, kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan mental, seperti munculnya kecemasan, sulit fokus, gangguan tidur, hingga burnout.

Bagaimana mengatasinya? Kita perlu belajar menjalani kedewasaan dengan lebih realistis dan manusiawi. Mengatur ekspektasi, memberi ruang untuk istirahat tanpa rasa bersalah, serta menyadari bahwa tidak semua hal harus dicapai sekaligus, bisa menjadi langkah awal.

Selain itu, memprioritaskan istirahat, mengatur batasan antara kerja dan kehidupan pribadi, serta melakukan kegiatan mindfulness seperti lewat journaling untuk mengungkapkan emosi bisa menjadi cara mengatasi adulting fatigue. Mencari dukungan, baik dari orang terdekat maupun profesional tak kalah penting ketika beban terasa terlalu berat.

Menjadi dewasa memang tidak selalu mudah. Adulting fatigue mengajarkan kita bahwa menjadi dewasa bukan soal bertahan sendirian, tapi belajar menyeimbangkan ambisi dengan kelembutan pada diri sendiri. Memahami bahwa rasa lelah itu valid dan wajar untuk dirasakan juga bisa membantu kita menjalani fase hidup ini dengan lebih sadar, seimbang, dan penuh empati pada diri sendiri. [rk]

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic