regionalBatik

Mengenal Teknik Batik Ecoprint yang Ramah Lingkungan

Penulis Ashila Syifaa
Feb 23, 2026
Batik ecoprint. (Foto: bangkatengahkab.go.id)
Batik ecoprint. (Foto: bangkatengahkab.go.id)

ThePhrase.id - Batik sebagai warisan budaya Indonesia terus berkembang melalui berbagai inovasi, salah satunya lewat teknik pembuatan ecoprint. Teknik ini memanfaatkan bahan-bahan alami yang dicetak atau ditempelkan pada kain untuk menghasilkan motif yang unik dan menarik.

Meski tidak menggunakan teknik batik tradisional, hasil ecoprint kerap menampilkan motif berulang yang menyerupai corak batik. Karena itu, tak jarang masyarakat menyebutnya sebagai batik ecoprint.

Menurut Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik Kementerian Perindustrian, ecoprint merupakan seni dan fashion kontemporer yang sampai saat ini masih terus berkembang hingga terbentuknya komunitas-komunitas ecoprinter di berbagai wilayah di Indonesia. 

Wiwik Sri Suryanti pemilik usaha B.Eco Handmade dan Batik Swarna Wangka, mengatakan bahwa ecoprint bukan sekadar tren, melainkan bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekaligus pelestarian warisan budaya dengan memanfaatkan daun, bunga, dan bahan alami lainnya sebagai proses pembuatan dan pewarnaan pada kain.

Batik ecoprint pun hadir sebagai inovasi yang memadukan nilai seni tradisional dengan pendekatan berkelanjutan, memanfaatkan pewarna alami dari tumbuhan untuk menghasilkan motif yang khas dan bernilai estetika tinggi.

Dalam pembuatan batik ecoprint, bahan yang digunakan cukup sederhana dan tidak memerlukan mesin maupun cairan kimia sintetis. Prosesnya memanfaatkan air dan cuka sebagai bahan bantu, serta perlengkapan seperti pipa atau kayu untuk menggulung kain, plastik sebagai pelapis, dan tali untuk mengikat gulungan kain sebelum melalui tahap pengukusan atau proses lainnya.

Sementara itu, bahan utama untuk menghasilkan motif dan warna berasal dari tumbuhan. Berbagai jenis daun dan tumbuhan yang sering digunakan antara lain daun jati, daun pepaya, daun jarak, daun belimbing, dan daun ketapan, kulit manggis, kulit jengkol, hingga kayu secang.

Pemilihan jenis daun atau bahan alami tersebut akan memengaruhi hasil akhir motif, baik dari segi bentuk, intensitas warna, maupun karakter visual yang dihasilkan.

Dalam praktiknya, terdapat beberapa teknik pembuatan batik ecoprint, yaitu:

1. Teknik Pounding (Pukul)

Teknik ini dilakukan dengan cara menata daun atau bunga segar di atas kain, kemudian dipukul menggunakan palu atau alat khusus hingga pigmen alaminya keluar dan menempel langsung pada serat kain. Proses ini menghasilkan jejak bentuk dan warna asli dari tanaman yang digunakan. Setelah pemukulan selesai, kain biasanya dikeringkan dan melalui proses fiksasi agar warna lebih tahan lama.

2. Tekning Steaming (Kukus)

Pada teknik ini, daun atau bunga disusun di atas kain, lalu kain digulung dan diikat dengan rapat. Gulungan tersebut kemudian dikukus dalam waktu tertentu. Uap panas membantu pigmen alami dari tumbuhan berpindah dan terserap ke dalam kain, sehingga menghasilkan motif dengan efek bayangan yang lebih halus dan menyatu dengan serat kain.

3. Teknik Fermentasi Daun

Teknik fermentasi dilakukan dengan menyimpan kain yang telah diberi susunan daun atau bunga dalam kondisi tertutup selama beberapa hari. Proses fermentasi alami ini membantu pigmen keluar secara perlahan dan menciptakan warna yang cenderung lebih lembut serta memiliki karakter unik. Setelah proses selesai, kain dibuka, dibersihkan, lalu dikeringkan. [Syifaa]

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic