
ThePhrase.id – Social burnout adalah kondisi lelah mental dan emosional karena interaksi sosial yang berlebihan. Salah satu momen yang kerap memicu kondisi ini adalah Lebaran. Hari Raya Idulfitri adalah hari kemenangan yang dirayakan dengan bersilaturahmi dengan keluarga dan kerabat.
Meski tujuannya baik, intensitasnya sering kali menguras energi. Oleh karena itu, tak heran jika Lebaran menjadi salah satu momen dengan interaksi sosial tinggi yang dapat memicu social burnout bagi banyak orang di Indonesia.
Beberapa alasan yang membuat Lebaran menjadi pemicu social burnout antara lain adalah interaksi non-stop dengan banyak orang. Dari pagi hingga malam, baik sebagai tuan rumah atau sebagai pihak yang bertamu ke rumah orang lain, kita akan terus berhadapan dengan orang, sehingga interaksi terjadi tanpa henti.
Selain itu, pertanyaan "template" dari orang-orang juga sering kali menguras tenaga karena harus menjawab pertanyaan yang sama berulang kali. Pertanyaan yang dimaksud bisa merupakan pertanyaan mendasar seperti "Semester berapa sekarang?", "Kerja di mana sekarang?", hingga pertanyaan yang lebih sensitif seperti "Kapan menikah?".
Tak hanya interaksi dengan orang lain, overstimulasi sensori juga bisa terjadi dari berada di tempat yang ramai. Beberapa pemicunya antara lain suara anak kecil berlarian, piring yang berdenting, musik yang keras, hingga percakapan yang tumpang tindih.
Sementara itu, tanda-tanda social burnout antara lain mudah kesal terhadap hal kecil, merasa "kosong" saat mengobrol, tidak benar-benar hadir dalam percakapan, keinginan untuk menyendiri, mudah terdistraksi, hingga mulai merasa cemas.

Perlu diketahui, social burnout tak hanya dapat dialami oleh orang-orang introvert. Para ekstrovert pun dapat merasakan hal ini karena beberapa alasan seperti kualitas interaksi yang lebih rendah dibandingkan kuantitasnya, hingga tuntutan untuk "tampil" sebagai penghidup suasana. Mereka justru bisa merasa lebih bersalah dan bingung karena kelelahan, padahal biasanya lebih berenergi di keramaian.
Lantas, bagaimana cara mengatasi social burnout setelah hari-hari Lebaran yang dipenuhi dengan interaksi?
Pertama, kamu perlu memulihkan energi secara perlahan, dan jangan langsung kembali ke rutinitas sehari-hari yang juga tak kalah padat. Ambil waktu sendiri atau me time untuk recharge kembali energi dengan melakukan hal-hal yang kamu sukai tanpa harus bertemu dengan siapa pun. Sebagai contoh adalah mendengarkan musik, menonton film favorit di rumah atau di bioskop, hingga rebahan tanpa distraksi.
Kedua, kurangi stimulus sosial, baik yang dapat ditemui secara langsung seperti berinteraksi dengan orang lain, maupun yang berasal dari media sosial seperti grup WhatsApp atau pesan pribadi. Hindari juga penggunaan media sosial yang berlebihan untuk mengurangi stimulasi.
Ketiga, terapkan batasan apabila mendapatkan ajakan untuk berkumpul setelah Lebaran. Umumnya, setelah bulan Ramadan berlalu, kegiatan Halal Bihalal kerap diadakan oleh teman kantor, teman SMA, atau teman komunitas. Meski tujuannya untuk menjalin silaturahmi, jangan merasa bersalah untuk menolak dan memprioritaskan keadaan emosional dan mental diri sendiri.
Terakhir, kembali ke rutinitas sehari-hari secara perlahan dengan menerapkan strategi low energy. Apabila energimu sangat terkuras, belum sepenuhnya pulih meski telah melakukan me time, dan harus kembali ke aktivitas harian, kamu bisa menerapkan strategi ini dengan mengurangi obrolan kecil dengan teman, hingga menggunakan waktu istirahat seperti makan siang untuk menyendiri.
Di balik ramainya silaturahmi dan kebersamaan pada momen Lebaran, ada kalanya kita membutuhkan jeda untuk diri sendiri. Mengenali batas energi dan memberi waktu untuk beristirahat bisa membantu menjaga keseimbangan setelah Lebaran. [rk]